Pembangunan Museum Taman Perdamaian Bali Ditargetkan Rampung 10 Bulan

0
18
Prosesi ngeruwak di lahan Museum Taman Perdamaian Bali. (ist)

balibercerita.com –
Pembangunan Museum Taman Perdamaian Bali di lahan eks Sari Club, salah satu titik tragedi Bom Bali 2002, resmi dimulai. Proyek ini ditargetkan rampung dalam waktu sekitar 10 bulan ke depan dan diharapkan menjadi ruang edukasi sekaligus refleksi bagi masyarakat dan wisatawan.

Prosesi awal pembangunan telah diawali dengan rangkaian upacara adat yang meliputi ngaben karang, mecaru, dan ngeruwak yang dipuput oleh Ida Pandita Mpu Nabe Jaya Wijayananda. Setelah itu, sosialisasi kepada masyarakat digelar pada Sabtu (2/5), di Balai Banjar Pengabetan.

Bendesa Adat Kuta, I Komang Alit Ardana menjelaskan bahwa sosialisasi melibatkan tokoh masyarakat, kelian adat, hingga kepala lingkungan, serta dihadiri Ketua DPRD Badung, I Gusti Anom Gumanti. Langkah ini dilakukan untuk memastikan masyarakat memahami tahapan pembangunan, termasuk potensi dampak selama proses proyek berlangsung. “Kita ingin masyarakat tahu prosesnya, termasuk dampak seperti polusi atau aktivitas proyek lainnya,” ujarnya.

Baca Juga:   ITDC Gelar Pelatihan K9 untuk Tingkatkan Keamanan di Kawasan The Nusa Dua

Museum ini akan dibangun di atas lahan seluas sekitar 15 are yang sebelumnya merupakan lokasi tempat hiburan Sari Club. Secara desain, bangunan akan terdiri dari lima lantai dengan tambahan dua lantai basement untuk parkir, dengan tetap mengacu pada batas ketinggian maksimal 15 meter.

Di dalamnya, museum akan menyajikan berbagai dokumentasi dan informasi terkait tragedi Bom Bali 2002, sekaligus menjadi ruang refleksi dan edukasi. Selain itu, kawasan ini juga akan menyediakan ruang bagi pelaku UMKM sebagai bagian dari pengembangan ekonomi lokal.

Baca Juga:   DLHK Badung Perketat Pengawasan Horeka, Pastikan PSBS Berjalan dari Sumber

Alit Ardana mengungkapkan, proses pembebasan lahan tidak berjalan mudah dan membutuhkan negosiasi panjang. Namun berkat dorongan berbagai pihak, termasuk keluarga korban dan negara asal korban, lahan tersebut akhirnya berhasil dibebaskan oleh pemerintah dengan nilai sekitar Rp61 miliar. “Awalnya tidak mudah karena pemilik lahan tidak mau melepas. Namun karena dorongan berbagai pihak, akhirnya lahan bisa dibeli pemerintah untuk kepentingan non-komersial,” jelasnya.

Proyek pembangunan ini dikerjakan oleh kontraktor pemenang tender Pemerintah Kabupaten Badung, yakni PT Bianglala Bali, dengan nilai pagu mencapai sekitar Rp145,7 miliar dan nilai HPS sekitar Rp133,7 miliar. Sementara itu, pengelolaan museum direncanakan berada di bawah Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung.

Baca Juga:   Mempertanyakan Ajakan Kembali ke Weda

Pihak desa adat juga mengingatkan kontraktor agar menjaga komunikasi dengan warga sekitar serta menerapkan langkah antisipatif, seperti memastikan kendaraan proyek tetap bersih saat keluar area dan tidak mengotori jalan. “Kalau ada lumpur di jalan harus segera dibersihkan. Akan ada petugas yang disiagakan,” tegasnya.

Ke depan, Desa Adat Kuta membuka peluang kolaborasi, termasuk pelibatan tenaga kerja lokal. Dengan dimulainya pembangunan ini, kawasan Ground Zero Kuta diharapkan bertransformasi menjadi ruang memorial yang tidak hanya mengenang tragedi, tetapi juga menyuarakan pesan perdamaian bagi dunia. (BC5)