balibercerita.com –
Dudonan atau rangkaian Karya Agung Tawur Manca Wali Krama di Pura Hulundanu Batur, Songan, telah ditetapkan. Upacara besar umat Hindu ini dijadwalkan berlangsung hampir dua bulan, dimulai pada Buda Umanis Tambir, 12 Agustus 2026, dan berakhir pada Buda Paing Wayang, 7 Oktober 2026.
Ketua Panitia Harian Karya Agung Tawur Manca Wali Krama di Pura Hulundanu Batur, Jero Saba menjelaskan bahwa tahapan awal karya akan dimulai bertepatan dengan Tilem Sasih Karo melalui sejumlah prosesi sakral, yakni madamah lan majaya-jaya, paku agem, maguru piduka, nanceb tetaringan, ngunggahang ilen-ilen Ida Batara, serta nyukat genah. Rangkaian tersebut menjadi penanda dimulainya seluruh persiapan yadnya di kawasan Pura Hulundanu Batur beserta genah payadnyan.
Setelah itu, berbagai sarana upacara mulai dipersiapkan, mulai dari pemasangan penjor, sanggar tawang, hingga pengalang sasih. Tahapan ini juga diikuti pelaksanaan ritual penyucian kawasan melalui wisuda bhumi, mendem panca datu, melaspas wangunan uparengga, dan macaru Manca Sata. Selain itu, turut dilaksanakan nyenuk di sejumlah pura, nuhur tirta upasaksi karya, nuhur tirta pamuket, serta prosesi lainnya sebagai bagian dari penyucian sarana dan area pelaksanaan yadnya.
Memasuki penghujung Agustus hingga pertengahan September, pelaksanaan karya memasuki fase yang lebih padat. Berbagai prosesi dijalankan secara berkesinambungan, diantaranya negtegang karya, ngingsah, nyangling, ngadegang guru dadi, ngadegang rare angon, ngadegang tapini, dan nanceb sunari.
Pada 8 September 2026, dijadwalkan pelaksanaan danu kerthi atau mapag toya di Tepi Siring Segara. Ritual tersebut menjadi simbol penghormatan terhadap air sebagai sumber kehidupan yang memiliki peran penting bagi keseimbangan alam.
Rangkaian berikutnya meliputi balik sumpah agung, melaspas, rsi gana, mendem pedagingan, matur piuning di Pura Dalem Mrajapati, ngodal Ida Batara Dalem, hingga prosesi subakti watos, mapepada walungan, ngerempah walungan, dan menben upakara sebagai bagian dari penyempurnaan pelaksanaan yadnya.
Menjelang puncak upacara, tepatnya pada 18 September 2026, akan dilaksanakan prosesi melasti, mapekelem ring danu, pakelem ring gunung di Pura Bukit Catu, serta pamendak agung. Seluruh ritual tersebut merupakan bentuk penyucian alam semesta sekaligus permohonan agar tercipta keharmonisan antara manusia, alam, dan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Prosesi inti Tawur Manca Wali Krama dijadwalkan berlangsung pada 21 September 2026 di genah payadnyan. Dalam tahapan ini akan dilaksanakan tawur di lima penjuru, yakni rosan kangin, rosan kelod, rosan kauh, rosan kaja, dan rosan tengah. Upacara tersebut menjadi salah satu bagian terpenting dalam keseluruhan karya sebagai simbol menjaga keseimbangan bhuana agung dan bhuana alit.
Puncak karya agung akan digelar pada Saniscara Umanis Bala, 26 September 2026, yang bertepatan dengan Purnama Sasih Kapat. Sejak pagi, umat akan melaksanakan persembahyangan di Pura Pengangket, Pura Jero Kemulan, Pura Ibu, dan Pura Segara. Selanjutnya dilaksanakan prosesi Ida Batara tedun ke paselang, perayungan, pedanaan, hingga ngaturin ageng di Pura Hulundanu Batur sebagai puncak persembahan umat.
Setelah puncak karya selesai, rangkaian dilanjutkan dengan subakti panganyar yang diikuti pemerintah daerah dan masyarakat dari berbagai kabupaten/kota di Bali secara bergiliran. Jadwal panganyar dimulai dari Kabupaten Jembrana, Tabanan, Badung, Kota Denpasar, Gianyar, Klungkung, Buleleng, Pemerintah Provinsi Bali, hingga Kabupaten Karangasem. Kabupaten Bangli akan menjadi penutup panganyar pada 6 Oktober 2026 yang dirangkaikan dengan rsi bojana, nuwek bagia pula kerthi, dan Ida Batara ngeluhur.
Seluruh rangkaian Karya Agung Tawur Manca Wali Krama akan berakhir pada 7 Oktober 2026 melalui prosesi mamungkah penjor lan sunari, nganyut ke segara, serta ngaturang guru piduka sebagai penutup seluruh pelaksanaan yadnya.
Dalam pelaksanaan Karya Agung ini, Ida Shri Bhagawan Putra Nata Nawa Wangsa Pemayun bersama Ida Istri Nata Nawa Wangsa bertindak sebagai yajamana karya. Sementara, tapini karya dipercayakan kepada Ida Pandita Mpu Siwa Putra Dharma Daksa dan Ida Pandita Mpu Dharma Daksa Prami, sedangkan Dr. AA Gde Putra Wiraguna bertugas sebagai pengrajeg.
Melalui pelaksanaan yadnya ini, umat Hindu diharapkan semakin memperkuat nilai-nilai spiritual, menjaga keharmonisan alam semesta, serta meningkatkan sradha dan bakti dalam kehidupan beragama. (BC13)














