balibercerita.com –
Ada alasan lebih untuk berkunjung ke Desa Wisata Penglipuran dalam beberapa bulan ke depan. Tak hanya menawarkan suasana desa tradisional yang asri dan tertata rapi, destinasi yang dikenal sebagai salah satu desa terbersih di dunia itu kini kembali menggelar Penglipuran Village Festival (PVF) XIII Tahun 2026.
Festival yang resmi dibuka pada Kamis (9/7) ini akan berlangsung hingga Desember 2026 dengan mengusung tema “Harmoni Bhumi Penglipuran: Menuju Pariwisata Inklusif, Berkelanjutan dan Regeneratif.” Beragam atraksi budaya, seni tradisional, kuliner lokal, produk UMKM, hingga kegiatan lingkungan disiapkan untuk melengkapi pengalaman wisata para pengunjung.
Tahun ini, Penglipuran Village Festival kembali masuk dalam jajaran 100 Karisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata. Pencapaian tersebut sekaligus menegaskan festival ini sebagai salah satu agenda wisata unggulan yang mampu menarik wisatawan dari berbagai daerah maupun mancanegara.
Suasana pembukaan berlangsung meriah di kawasan Taman Makam Pahlawan Penglipuran. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, lokasi yang lebih luas membuat masyarakat, wisatawan, dan tamu undangan dapat menikmati seluruh rangkaian acara dengan lebih nyaman.
Festival diawali parade budaya yang melibatkan generasi muda hingga para ibu membawa hasil bumi sebagai simbol rasa syukur masyarakat terhadap alam yang menjadi sumber kehidupan mereka. Penampilan seni tradisional, pameran kerajinan, hingga sajian kuliner khas Bali turut menyemarakkan pembukaan festival.
Kelian Adat Penglipuran, I Wayan Budiarta mengatakan, festival ini menjadi wadah untuk memperkenalkan kekayaan budaya sekaligus menjaga tradisi yang telah diwariskan turun-temurun oleh masyarakat desa. Menurutnya, Penglipuran yang kini dikenal dunia tidak lahir begitu saja sebagai destinasi wisata.
Sebelum menjadi tujuan wisata favorit, masyarakat telah lebih dulu menjaga adat, budaya, dan tata kehidupan desa secara konsisten. “Penglipuran bukan hanya objek wisata, tetapi living museum yang benar-benar hidup karena tradisi dan budaya masih dijalankan setiap hari oleh masyarakat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Penglipuran mulai dikenal luas setelah diperkenalkan oleh mahasiswa KKN Universitas Udayana pada 1990. Tiga tahun kemudian ditetapkan sebagai desa wisata oleh Pemerintah Kabupaten Bangli. Sejak saat itu, pengembangan pariwisata dilakukan dengan melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama.
Komitmen menjaga budaya dan lingkungan itu kemudian mengantarkan Penglipuran meraih berbagai penghargaan bergengsi, mulai dari Kalpataru, predikat sebagai salah satu desa terbersih di dunia, hingga masuk dalam daftar destinasi wisata terbaik dunia pada 2023.
Sementara itu, Asisten Deputi Bidang Amenitas Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Dwi Marhen Yono menilai Penglipuran menjadi contoh sukses pengembangan pariwisata berbasis budaya yang mampu memberikan pengalaman berbeda bagi wisatawan. Menurutnya, tren wisata saat ini telah bergeser. Wisatawan tidak hanya mencari keindahan alam, tetapi juga pengalaman autentik yang menghadirkan budaya, tradisi, kuliner, dan event berkualitas.
“Penglipuran sudah membuktikan kualitasnya hingga kembali masuk dalam 100 Karisma Event Nusantara untuk keempat kalinya. Ini tidak mudah karena banyak daerah yang ingin masuk dalam daftar tersebut,” katanya.
Dengan berlangsungnya festival hingga akhir tahun, wisatawan yang datang ke Penglipuran tidak hanya dapat menikmati deretan rumah tradisional Bali yang tertata rapi dan suasana desa yang sejuk, tetapi juga merasakan langsung denyut budaya yang hidup di tengah masyarakatnya. (BC5)














