JLS Mulai Dibangun, Badung Siapkan Rekayasa Lalin dan Transportasi Publik

0
1
JLS
I Wayan Adi Arnawa. (ist)

balibercerita.com –
Pembangunan jalan lingkar selatan (JLS) menjadi ujung tombak strategi Pemerintah Kabupaten Badung dalam mengurai kemacetan di kawasan Uluwatu. Proyek yang ditargetkan rampung pada 2027 itu tidak berdiri sendiri, melainkan dilengkapi sejumlah infrastruktur pendukung, rekayasa lalu lintas, hingga rencana transportasi publik yang disiapkan untuk memperlancar akses menuju salah satu destinasi wisata paling populer di Bali.

Bupati Badung, I Wayan Adi Arnawa menegaskan bahwa pembangunan jalan lingkar selatan merupakan salah satu program prioritas Pemerintah Kabupaten Badung dalam meningkatkan kapasitas kawasan pariwisata sekaligus menjawab persoalan kemacetan yang semakin menjadi perhatian. “Jalan lingkar selatan merupakan salah satu upaya program kami dalam mendorong carrying capacity untuk mendukung sektor pariwisata. Tidak ada pilihan lain, kita harus fokus pada infrastruktur,” tegasnya di sela-sela puncak pujawali di Pura Luhur Uluwatu, Selasa (7/7).

Menurut Adi Arnawa, kemacetan telah menjadi salah satu isu utama yang harus segera ditangani agar tidak berdampak terhadap keberlanjutan sektor pariwisata Badung. Ia menilai persoalan kemacetan kini menjadi fenomena yang semakin kuat dirasakan masyarakat maupun wisatawan. Jika tidak mendapat perhatian dan penanganan yang serius, kondisi tersebut berpotensi mengganggu daya saing pariwisata Badung di masa mendatang.

Baca Juga:   Badung Tumbang Lawan Denpasar di Futsal Porprov XVI 2025

Ia menjelaskan, pada tahun 2026 Pemerintah Kabupaten Badung telah bergerak melakukan pembebasan lahan dan mulai melaksanakan konstruksi secara bertahap yang akan berlanjut hingga tahun 2027. “Harapan kami sampai tahun 2027 jalan lingkar barat dari Jimbaran menuju Uluwatu hingga Jalan Kampus Udayana dapat selesai dengan panjang sekitar 9 kilometer lebih,” katanya.

Keberadaan jalan baru tersebut tidak hanya diarahkan untuk mengurangi kemacetan, tetapi juga mendukung pertumbuhan ekonomi daerah melalui peningkatan aksesibilitas kawasan pariwisata. Dengan terbangunnya seluruh infrastruktur tersebut, Adi Arnawa berharap arahan pemerintah pusat terkait value capture dapat diwujudkan di Badung sehingga ekonomi tumbuh, PDRB meningkat, kesejahteraan masyarakat naik, dan pendapatan asli daerah (PAD) Badung ikut bertambah. Dampak positifnya pun diharapkan tidak hanya dirasakan Badung, tetapi juga Bali secara keseluruhan.

Baca Juga:   Pastikan Horeka Pilah Sampah: Bupati Badung Turun Langsung ke Kuta, Wabup Pantau Pengelolaan Sampah di Tuban

Setelah jalan lingkar barat rampung dibangun, rekayasa lalu lintas di kawasan Uluwatu dan sekitarnya akan segera diterapkan. Bahkan, pihaknya telah meminta Dinas Perhubungan Badung untuk mulai menyusun skema rekayasa lalu lintas sebagai bagian dari upaya mengoptimalkan jaringan jalan yang tengah dibangun.

Bukan hanya jalan lingkar barat yang sedang disiapkan, di kawasan Baler Setra juga telah dibangun jalan tembus yang menghubungkan Setra Pecatu dengan Melasti. “Jadi banyak alternatif yang kita siapkan agar masyarakat maupun wisatawan bisa menuju Uluwatu,” katanya.

Menurutnya, langkah tersebut penting mengingat kawasan Uluwatu saat ini menjadi salah satu destinasi wisata unggulan yang memberikan kontribusi besar terhadap sektor pariwisata Badung. Ia berharap persoalan kemacetan yang kerap terjadi, terutama saat pertunjukan Tari Kecak di kawasan Uluwatu, dapat berkurang ketika seluruh jaringan jalan baru selesai dibangun pada tahun 2027.

Baca Juga:   Basarnas Bali Gandeng Konsulat Inggris, Perkuat Edukasi Darurat

Selain rekayasa lalu lintas, Pemerintah Kabupaten Badung juga berencana mendorong penggunaan transportasi publik guna mengurangi ketergantungan wisatawan terhadap kendaraan pribadi. Salah satu opsi yang tengah dikaji adalah penyediaan jalur khusus bagi transportasi publik berbasis kendaraan listrik, seperti shuttle dengan kapasitas yang disesuaikan dengan kebutuhan kawasan. Rencana tersebut masih akan dibahas lebih lanjut untuk mendapatkan formulasi yang paling tepat.

Adi Arnawa menyadari pembangunan jalan semata tidak akan cukup untuk mengatasi kemacetan apabila tidak diimbangi dengan sistem transportasi publik yang memadai. Karena itu, diperlukan berbagai alternatif moda transportasi yang dapat dipilih masyarakat maupun wisatawan saat berkunjung ke Uluwatu. “Tidak semua yang ingin ke Uluwatu harus menggunakan kendaraan pribadi. Karena membangun jalan saja tidak akan cukup tanpa diimbangi transportasi publik,” pungkasnya. (BC5)