
balibercerita.com –
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Bali mendorong keterlibatan aktif ayah dalam tumbuh kembang anak melalui Gerakan Ayah Mengantar Anak ke Sekolah (GAMAS). Gerakan masif ini dijadwalkan serentak pada hari pertama tahun ajaran baru, Senin, 13 Juli 2026.
Langkah ini diambil sebagai bentuk reorientasi peran ayah dalam keluarga sekaligus komitmen nyata dalam memperingati puncak Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 tingkat Provinsi Bali yang mengusung tema “Ayah Wajib Hadir.”
Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bali, Dr. dr. Ni Luh Gede Sukardiasih, M.For., MAR. mengungkapkan bahwa gerakan ini menjadi momentum penting untuk mengikis stigma budaya lama yang menempatkan peran ayah sebatas sebagai pencari nafkah. Menurutnya, Indonesia saat ini masih menghadapi tantangan psikologis berupa fenomena fatherless country, di mana sosok ayah sering kali hadir secara fisik namun absen secara emosional.
“Terkait dengan GAMAS, gerakan ayah mengantar anak ke sekolah di hari pertama yaitu hari Senin nanti tanggal 13 Juli, kami sangat berharap dan mengimbau kepada bapak-bapak untuk meluangkan waktunya, beberapa jam saja, untuk mengantar anaknya ke sekolah,” ujar Sukardiasih di sela-sela puncak peringatan Harganas ke-33 di Bali, Kamis (9/7).
Sukardiasih menjelaskan, keterlibatan aktif ayah (father involvement) dalam pengasuhan harian memiliki korelasi positif yang sangat kuat terhadap perkembangan kognitif, kestabilan emosi, dan rasa percaya diri anak. Data menunjukkan, saat ini sekitar 25 persen anak Indonesia tidak mendapatkan kasih sayang yang utuh dari sosok ayah, baik karena kendala fisik maupun absennya kedekatan psikologis.
“Hilangkan stigma bahwa tugas ayah hanya untuk mencari nafkah dan urusan pola asuh tumbuh kembang anak hanya dibebankan kepada ibu saja. Ini harus kita geser karena peran ayah juga sangat penting,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa kehadiran ayah yang utuh dan suportif juga terbukti mampu menurunkan tingkat stres ibu pasca-melahirkan, yang berkontribusi besar pada keberhasilan ASI eksklusif dan pencegahan stunting dari tingkat desa.
Sementara itu, Anggota Komisi IX DPR RI, Ni Putu Tutik Kusuma Wardhani, menyatakan bahwa program ini merupakan langkah strategis untuk membangkitkan rasa empati dan kepedulian yang mendalam di lingkungan keluarga. Menurutnya, selama ini sering kali ada pandangan kaku mengenai pembagian peran di rumah tangga.
”Gerakan Ayah Mengantar Anak ke Sekolah itu sudah merupakan upaya membangkitkan rasa empati kita di dalam keluarga. Yang sementara ini mungkin ada pemikiran bahwa ayah itu hanya kepala keluarga atau pencari nafkah. Tetapi sekarang, dengan inisiasi dari Kemendukbangga, kita diingatkan bahwa pertumbuhan putra-putri kita sangat berkaitan erat dengan kasih sayang,” ujar Tutik Kusuma Wardhani
Dukungan serupa juga datang dari akademisi dan praktisi kependudukan. Ketua Koalisi Kependudukan Indonesia (KKI) Provinsi Bali, Dr. I Gusti Wayan Murjana Yasa, SE., M.Si., menekankan pentingnya transformasi budaya dari sistem patrilineal kaku menuju kesetaraan gender dalam pola pengasuhan. Menurutnya, tanggung jawab ayah tidak boleh berhenti pada aspek finansial semata.
“Kehadiran ayah bukanlah sekadar hadir dalam artian fisik, tetapi juga emosional dan psikososial, yang artinya anak itu merasa bahwa dia memiliki ayah seutuhnya. Kita harus transformasikan ke depan di mana ayah dan ibu memiliki peran yang setara di dalam rumah tangga. Jadi, kesetaraan gender tidak semata pada aspek politik, pendidikan, kesehatan, atau ekonomi saja, tetapi juga di dalam pengasuhan,” ujar Murjana Yasa.
Gerakan ini mendapat respons dan dukungan penuh dari jajaran birokrasi. Pemerintah Provinsi Bali memastikan akan memberikan dispensasi atau kelonggaran bagi para aparatur sipil negara (ASN) maupun pegawai instansi vertikal yang ingin berpartisipasi dalam gerakan ini pada Senin pekan depan.
Staf Ahli Gubernur Bali Bidang Ekonomi dan Keuangan, Dr. I Wayan Ekadina, S.E., M.Si. menegaskan bahwa komitmen Pemprov Bali dalam memfasilitasi kelonggaran birokrasi ini demi mendukung penguatan karakter anak sejak dini. “Pimpinan pemerintah sangat positif memfasilitasi. Sepanjang kegiatannya untuk kepentingan penguatan keluarga, pasti didukung,” kata Ekadina.
Menurut Ekadina, kebijakan ini tidak akan menurunkan produktivitas kerja, melainkan justru menjadi pemicu motivasi positif bagi para pegawai saat mulai beraktivitas di kantor. “Karena ketika di dalam keluarga ditemukan keharmonisan dan kesejahteraan, kami yakin begitu sampai di kantor, pegawai akan mampu memberikan kinerja terbaiknya,” pungkasnya. (BC18)


















