Berbeda dari Sebelumnya, Pujawali di Pura Luhur Uluwatu Berlangsung Selama Tujuh Hari

0
16
Pura Luhur Uluwatu
Bupati Adi Arnawa bersama rombongan saat melaksanakan persembahyangan di Pura Luhur Uluwatu. (BC5)

balibercerita.com –
Umat Hindu yang ingin melakukan persembahyangan dalam rangka pujawali di Pura Luhur Uluwatu memiliki kesempatan lebih panjang tahun ini. Jika biasanya pujawali berlangsung selama tiga hari hingga panyineban, kali ini rangkaian pujawali digelar selama tujuh hari karena dirangkaikan dengan padudusan agung dan tawur balik sumpah agung yang dilaksanakan setiap lima tahun sekali.

Bendesa Adat Pecatu, I Made Sumerta menjelaskan, puncak pujawali padudusan agung di Pura Luhur Uluwatu dilaksanakan pada Selasa (7/7), bertepatan dengan Anggara Kasih Kliwon Medangsia dan berlangsung hingga Selasa (14/7) saat Tilem. “Biasanya pujawali di Pura Luhur Uluwatu dilaksanakan selama tiga hari, namun karena kali ini berkaitan dengan Pedudusan Agung dan Tawur Balik Sumpah Agung yang dilaksanakan setiap lima tahun sekali, maka pujawali dilaksanakan selama tujuh hari,” ujarnya.

Selama rangkaian tersebut, Ida Bhatara nyejer selama tujuh hari, mulai 7 Juli hingga 14 Juli. Panyineban akan dilaksanakan bertepatan dengan Tilem. Meski demikian, keseluruhan rangkaian karya baru benar-benar berakhir pada 18 Juli dengan pelaksanaan upacara nyegara gunung.

Baca Juga:   Ketua DPRD dan Bupati Badung Hadiri Karya Ngodak lan Pasupati di Pura Dalem Sakenan Munggu

Menurut Sumerta, terdapat sejumlah perbedaan dibandingkan pujawali biasa. Jika biasanya tidak seluruh prasanak Ida Baatara diiring ke pura saat pujawali, pada pelaksanaan kali ini seluruh prasanak diiring dan distanakan di Pura Jurit. Bahkan, Kahyangan Tiga juga ikut dalam rangkaian tersebut.

Pada pujawali biasa, Ida Batara biasanya kembali ke Payogan Pura Pererepan Ratu Agung Sakti sekitar pukul 20.00 Wita. Namun pada puncak karya kali ini, Ida Batara kembali lebih awal sekitar pukul 17.00 Wita karena masih akan dihaturkan pujawali di masing-masing prasanak.

Prosesi yang dilaksanakan diawali dengan mendak di Dalem, dilanjutkan mapralingga ke Pura Jurit dan kembali ke Pura Jurit. Selanjutnya, pada pukul 20.00 Wita dilaksanakan pujawali di masing-masing prasanak Ida Batara bersama prasanak di Pura Pererepan dan Pura Kulat.

Rangkaian karya telah dimulai sekitar satu bulan lalu. Puncak pujawali dan padudusan agung di-puput oleh Yajamana Karya, Ida Pedanda Gede Sari Arimbawa dari Griya Sari Denpasar, Ida Pedanda Gede Putra Telaga dari Griya Telaga Sanur, serta Ida Pedanda Gede Made Darma Kerti dari Griya Saraswati, Batuan, Gianyar.

Baca Juga:   Karya Mapadudusan dan Ngenteg Linggih di Pura Anyar Desa Adat Umahanyar

Dari sisi jumlah pamedek, setiap putaran persembahyangan umumnya diikuti sekitar 350 hingga 400 orang. Dengan rata-rata 10 putaran dalam sehari, jumlah pamedek yang hadir dapat mencapai sekitar 3.000 orang per hari. Untuk mendukung kelancaran persembahyangan, pangemong dan pangempon pura telah menyepakati pengaturan lokasi pemujaan. Mengingat banyaknya upakara dan uparengga yang ditempatkan di utama mandala dan madya mandala, seluruh kegiatan persembahyangan dipusatkan di area bawah atau sor.

Persembahyangan berlangsung setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 18.00 Wita. Sementara itu, penganyaran oleh masing-masing kecamatan dilaksanakan mulai Rabu (8/7) hingga 14 Juli. Pada hari penganyaran, pamuspaan dipusatkan di area panyawangan mulai pukul 10.00 hingga 12.00 Wita dan berlangsung hingga sekitar pukul 13.00 Wita. Setelah itu aktivitas persembahyangan kembali berjalan normal.

Dalam pelaksanaan pujawali, Desa Adat Pecatu juga tetap konsisten menerapkan kebijakan pengurangan penggunaan kantong plastik untuk sarana upakara yang telah dijalankan selama empat hingga lima tahun terakhir. Kebijakan tersebut diterapkan untuk menjaga kesucian kawasan pura dari sampah, khususnya sampah plastik. “Jangan sampai pura yang kita sucikan justru dikotori oleh sampah, terutama plastik. Ini yang sudah kami antisipasi sejak empat sampai lima tahun lalu,” katanya.

Baca Juga:   Perayaan Imlek di Vihara Dharmayana Kuta, Sarana Persembahyangan Juga Gunakan Canang

Sebelumnya pengelola menyediakan besek gratis sebagai alternatif tempat membawa sarana upakara sekaligus sebagai sarana edukasi kepada umat, namun karena hal itu dilakukan sudah cukup lama maka pada pujawali kali ini penyediaan besek dilakukan dengan sistem punia.

Pihaknya juga mengimbau seluruh pamedek untuk menyesuaikan persembahyangan dengan waktu perjalanan, mengingat kondisi lalu lintas di wilayah Kuta Selatan yang cukup padat. Umat diharapkan datang dengan pikiran tenang dan penuh kesabaran agar pelaksanaan persembahyangan berjalan lancar.

Pangelingsir Puri Agung Jro Kuta sekaligus Pangempon Pura Luhur Uluwatu, I Gusti Ngurah Jaka Pratidnya alias Turah Joko mengatakan, inti dari pelaksanaan padudusan agung adalah sebagai ungkapan rasa syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas segala anugerah yang diberikan kepada umat. (BC5)