balibercerita.com –
Ribuan umat memadati kawasan nista mandala Pura Luhur Uluwatu, Desa Adat Pecatu, pada Jumat (3/7), untuk mengikuti pelaksanaan tawur balik sumpah agung (catur niri) yang menjadi bagian penting dari rangkaian Pujawali Padudusan Agung di salah satu Pura Sad Kahyangan di Bali tersebut.
Prosesi sakral yang di-puput Ida Pedanda Gede Putra Telaga dari Griya Telaga Sanur dan Ida Pedanda Gede Made Darma Kerti dari Griya Saraswati itu berlangsung khidmat di tengah suasana religius yang kental. Upacara ini merupakan bagian dari padudusan agung yang digelar setiap lima tahun sekali, dengan puncak pujawali jatuh pada Anggara Kasih Medangsia pada Selasa (7/7).
Sejumlah tokoh penting hadir dalam upacara tersebut, diantaranya Bupati Badung, I Wayan Adi Arnawa, Wakil Bupati Badung, Bagus Alit Sucipta, Sekda Badung, IB Surya Suamba, Wakil Ketua DPRD Bali, Wayan Disel Astawa, Pangelingsir Puri Agung Denpasar, AA Ngurah Oka Ratmadi, jajaran pangelingsir puri dan griya se-Bali, hingga unsur TNI, akademisi, serta tokoh adat.
Bupati Badung, I Wayan Adi Arnawa menegaskan bahwa tawur balik sumpah agung bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan sebuah karya utama yang memiliki makna penyucian alam semesta secara sekala dan niskala. “Melalui penyucian inilah kita berharap Bali tetap bersinar, penuh kerahayuan, dan senantiasa diberikan keselamatan. Ini bukan hanya dharma agama, tetapi juga bagian dari dharma negara yang mengajarkan kita menjaga persatuan, meningkatkan sradha bhakti, serta memohon keselamatan bagi Badung, Bali, dan Nusantara,” ujarnya.
Sebagai bentuk dukungan nyata terhadap pelestarian adat, agama, dan budaya Bali, Pemerintah Kabupaten Badung mengalokasikan anggaran sekitar Rp2 miliar melalui Dinas Kebudayaan Badung untuk mendukung seluruh rangkaian upacara hingga puncak karya. Menurut Adi Arnawa, keberadaan Pura Luhur Uluwatu sebagai salah satu Pura Sad Kahyangan menjadikan pelaksanaan yadnya ini memiliki nilai spiritual yang sangat tinggi. Ia berharap suasana aman, nyaman, dan damai di Badung dapat terus terjaga sebagai fondasi utama keberlangsungan sektor pariwisata.
Sementara itu, Bendesa Adat Pecatu, I Made Sumerta menjelaskan bahwa tawur balik sumpah agung merupakan bagian dari rangkaian piodalan yang bertepatan dengan padudusan agung lima tahunan. “Piodalan rutin dilaksanakan setiap enam bulan sekali, sedangkan padudusan agung dilaksanakan setiap lima tahun. Ini berbeda dengan panca wali krama yang digelar setiap sepuluh tahun sekali,” jelasnya.
Ia juga mengimbau para pamedek agar menyesuaikan waktu kedatangan mengingat tingginya antusiasme umat yang berpotensi menimbulkan kepadatan di kawasan Uluwatu. Selain itu, pihaknya terus mengajak masyarakat untuk menjaga kesucian kawasan pura dengan mengurangi penggunaan sarana upakara berbahan plastik serta membuang sisa sarana persembahyangan pada tempat yang telah disediakan.
Menariknya, rangkaian upacara di Pura Luhur Uluwatu tidak hanya menyedot perhatian umat Hindu, tetapi juga wisatawan mancanegara yang ingin menyaksikan langsung kekayaan tradisi dan spiritualitas Bali. “Banyak wisatawan yang belum pernah melihat prosesi seperti ini di negaranya. Secara tidak langsung, kegiatan ini menjadi media promosi budaya Bali kepada dunia,” kata Sumerta.
Hal senada disampaikan Pangelingsir Puri Agung Jro Kuta sekaligus Pangempon Pura Luhur Uluwatu, I Gusti Ngurah Jaka Pratidnya atau Turah Joko. Esensi tawur balik sumpah agung adalah mengembalikan kesucian dan keharmonisan antara bhuana alit dan bhuana agung sebagai fondasi kehidupan. “Tawur adalah sarana untuk menyucikan bumi, mengembalikan keseimbangan antara manusia dan alam semesta agar tetap harmonis, lestari, dan suci. Itulah harapan besar dari upacara ini,” ujarnya.
Turah Joko menuturkan, rangkaian padudusan agung telah dimulai sejak 24 Maret 2026 melalui matur piuning dan pamarisuda bumi, dilanjutkan ngingsah pada 21 Juni, melasti dan mapakelem di Pantai Labuan Sait pada 24 Juni, hingga puncak pujawali pada 7 Juli 2026. Seluruh rangkaian yadnya akan ditutup dengan upacara nyineb pada 14 Juli 2026.
Bagi masyarakat Bali, tawur balik sumpah agung bukan hanya ritual keagamaan lima tahunan. Lebih dari itu, upacara ini menjadi simbol komitmen bersama dalam menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta, sekaligus memperteguh posisi Bali sebagai pulau yang tetap teguh merawat warisan spiritual dan budayanya di tengah derasnya arus modernisasi. (BC5)














