Pecatu Dorong Dreamland dan Nyang-nyang Jadi DTW, Tempat Parkir Dinilai Mendesak Dibenahi

0
11
Pantai Dreamland
I Made Sumerta. (ist)

balibercerita.com –
Di antara deretan pantai eksotis yang dimiliki Bali Selatan, Pantai Dreamland menjadi salah satu nama yang cukup familiar di mata wisatawan dunia. Hamparan pasir putih, ombak yang digemari peselancar, serta akses yang relatif mudah menjadikan pantai di kawasan Pecatu ini selalu ramai dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara.

Namun di balik popularitas tersebut, masih ada persoalan mendasar yang hingga kini belum terselesaikan. Bukan soal keindahan alam atau akses jalan, melainkan ketersediaan lahan parkir yang dinilai belum mampu mengimbangi tingginya kunjungan wisatawan.

Kondisi itulah yang mendorong Desa Adat Pecatu kembali mengusulkan agar Pantai Dreamland bersama Pantai Nyang-nyang ditetapkan sebagai daya tarik wisata (DTW). Status tersebut diharapkan menjadi pintu masuk bagi percepatan pembangunan infrastruktur dan penataan destinasi secara lebih menyeluruh.

Bendesa Adat Pecatu, I Made Sumerta mengatakan, persoalan parkir di Pantai Dreamland sudah berlangsung cukup lama. Meski akses menuju pantai sudah tersedia dengan baik, wisatawan masih kesulitan mendapatkan area parkir yang representatif.

“Yang menjadi persoalan sekarang adalah parkirnya tidak tersedia secara memadai. Jalannya sudah ada, aksesnya tidak masalah, tetapi parkir yang representatif belum ada,” ujar Sumerta, Senin (6/7).

Baca Juga:   Jadi Promosi Langsung, Warm Up Vacation Diharapkan Gairahkan Penerbangan Internasional ke Bali

Saat kunjungan wisatawan meningkat, terutama pada musim liburan, puluhan hingga ratusan kendaraan roda dua dan roda empat memenuhi sisi jalan menuju kawasan pantai. Pemandangan kendaraan berjejer di sepanjang akses masuk menjadi hal yang lumrah terlihat setiap hari. “Kalau ramai bisa puluhan sampai ratusan kendaraan. Akhirnya parkir di pinggir-pinggir jalan akses menuju pantai,” katanya.

Sebenarnya terdapat lahan parkir di kawasan bawah dekat area UMKM. Namun fasilitas tersebut dinilai belum tertata optimal sehingga belum mampu menampung lonjakan kendaraan wisatawan yang datang berkunjung.

Selain mengurangi kenyamanan, keterbatasan area parkir juga berdampak pada aspek keamanan. Ia menerima sejumlah laporan terkait kehilangan barang bawaan hingga kendaraan yang tertukar maupun hilang. Kondisi tersebut dinilai dapat mengurangi kualitas pengalaman wisatawan saat berkunjung ke Dreamland. “Ini tentu tidak baik untuk mendukung pariwisata kita. Potensi kerawanannya cukup tinggi sehingga perlu segera dibenahi,” tegasnya.

Saat ini area parkir di Pantai Dreamland masih bersifat gratis. Beberapa warga memang menyediakan jasa penitipan kendaraan, namun belum seluruh wisatawan mengetahui keberadaan layanan tersebut. Penetapan Dreamland sebagai DTW menjadi salah satu solusi untuk mendorong peningkatan kualitas destinasi. Dengan status tersebut, peluang pembangunan infrastruktur penunjang, termasuk area parkir yang memadai, akan semakin terbuka.

Baca Juga:   Jelang Hiatus, Fiersa Besari akan Tampil di GWK Bali Countdown 2025

“Kami sudah lama mengusulkan agar Dreamland ditetapkan sebagai DTW. Harapan kami pada 2027 bisa terealisasi. Tetapi sebelum itu infrastrukturnya harus dibenahi terlebih dahulu karena menjadi syarat utama,” ujarnya.

Selain penataan parkir, Desa Adat Pecatu juga mengusulkan pengembangan sejumlah potensi lain, seperti penataan kawasan muara sungai serta fasilitas penunjang wisata yang dapat meningkatkan kenyamanan pengunjung. Dreamland dinilai memiliki keunggulan tersendiri dibanding beberapa pantai lain di wilayah Pecatu. Karakter pantainya yang landai membuat wisatawan lebih mudah mencapai bibir pantai tanpa harus menuruni tangga dengan kemiringan ekstrem.

Potensi itu tercermin dari tingginya angka kunjungan wisatawan. Pada musim liburan seperti Juli ini, jumlah pengunjung diperkirakan mencapai 500 hingga 2.000 orang per hari. Sebagian besar merupakan wisatawan mancanegara yang datang menggunakan kendaraan pribadi.

Meski demikian, peluang mendatangkan lebih banyak wisatawan domestik, khususnya rombongan menggunakan bus pariwisata, masih belum bisa dimaksimalkan. “Bus belum bisa masuk karena fasilitasnya belum mendukung. Padahal kunjungan cukup ramai dan potensinya sangat besar. Kalau infrastrukturnya dibenahi, tentu akan semakin banyak wisatawan yang datang dan berdampak terhadap PAD,” katanya.

Baca Juga:   GWK Bali Countdown 2024 Janjikan Pertunjukan Kembang Api Terbesar dan Spektakuler

Tak hanya Dreamland, perhatian Desa Adat Pecatu juga tertuju pada Pantai Nyang-nyang. Pantai yang terkenal dengan panorama tebing tinggi dan pasir putih alami itu dinilai layak mendapatkan status DTW karena kunjungan wisatawannya terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Menurut Sumerta, baik Dreamland maupun Nyang-nyang telah berkembang menjadi magnet wisata baru di Bali Selatan. Namun tanpa dukungan infrastruktur yang memadai, potensi besar tersebut dikhawatirkan tidak dapat berkembang secara optimal.

“Pantai Nyang-nyang dan Dreamland perlu dikaji untuk ditetapkan sebagai DTW. Kunjungan wisatawannya sudah sangat ramai, baik domestik maupun mancanegara, tetapi fasilitas penunjangnya masih perlu dibenahi sehingga pengelolaannya bisa lebih optimal,” pungkasnya.

Penetapan Dreamland dan Nyang-nyang sebagai DTW diharapkan menjadi langkah strategis untuk memperkuat daya saing pariwisata, meningkatkan pelayanan kepada wisatawan, sekaligus membuka peluang peningkatan Pendapatan Asli Daerah dari sektor pariwisata yang terus berkembang di kawasan Kuta Selatan. (BC5)