balibercerita.com –
Setelah puluhan tahun menjadi persoalan lintas negara di Asia Tenggara, kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kini ditargetkan benar-benar berakhir pada 2030. Target ambisius itu disepakati negara-negara ASEAN dalam Pertemuan ke-27 Technical Working Group (TWG) dan Ministerial Steering Committee (MSC) on Transboundary Haze Pollution yang berlangsung di Nusa Dua pada Kamis (9/7).
Indonesia yang tahun ini menjadi tuan rumah sekaligus ketua forum memimpin pembahasan bersama delegasi dari Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, Thailand, Timor-Leste, serta Sekretariat ASEAN. Di tengah ancaman perubahan iklim yang semakin nyata, seluruh negara sepakat memperkuat kolaborasi untuk mencegah karhutla dan menghapus ancaman kabut asap lintas batas yang selama ini kerap mengganggu kesehatan, transportasi, hingga perekonomian kawasan.
Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Mohammad Jumhur Hidayat mengatakan, seluruh negara anggota ASEAN memiliki komitmen yang sama dalam memperkuat sistem pencegahan kebakaran hutan dan lahan. “Alhamdulillah hari ini kita menjadi ketua meeting ministerial sub-regional ini. Kesimpulannya sangat baik karena semua negara bekerja dalam kerangka yang telah disepakati bersama. Mudah-mudahan pada 2030 kita tidak lagi menemukan persoalan asap di kawasan ASEAN,” ujarnya.
Target tersebut bukan tanpa dasar. Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia mencatat kemajuan dalam pengendalian karhutla melalui penguatan mitigasi di berbagai wilayah rawan, terutama kawasan lahan gambut yang selama ini menjadi sumber kebakaran besar saat musim kemarau.
Salah satu strategi yang dinilai efektif adalah menjaga kelembapan lahan gambut agar tidak mudah mengering. Upaya itu dilakukan melalui pembangunan sekat kanal (canal blocking), embung, hingga waduk-waduk kecil yang berfungsi menyimpan cadangan air saat musim kemarau.
Selain itu, teknologi pemantauan berbasis satelit juga terus diperkuat untuk mendeteksi titik panas secara dini. Dengan sistem peringatan dini tersebut, potensi kebakaran dapat segera direspons sebelum berkembang menjadi kebakaran berskala besar.
“Yang paling penting adalah memastikan lahan gambut tidak kering. Ditambah sistem pemantauan titik api yang terus diperbaiki sehingga kita bisa mendapatkan informasi lebih cepat,” kata Jumhur.
Dalam forum tersebut, Indonesia juga memaparkan sejumlah langkah yang telah dilakukan sepanjang tahun ini. Mulai dari pengaktifan kembali Desk Koordinasi Penanggulangan Karhutla 2026, patroli terpadu berbasis teknologi, penetapan status siaga darurat di sejumlah provinsi rawan, hingga operasi pemadaman melalui water bombing dan operasi modifikasi cuaca (OMC).
Pertemuan juga membahas percepatan operasional ASEAN Coordinating Centre for Transboundary Haze Pollution Control (ACCTHPC), pusat koordinasi regional yang akan menjadi garda depan dalam pemantauan, pertukaran informasi, dan penanganan kabut asap lintas batas.
Di tengah meningkatnya risiko akibat perubahan iklim, para delegasi menilai penguatan kerja sama regional menjadi kebutuhan mendesak. Menteri Sumber Asli dan Kelestarian Alam Malaysia, Dato’ Sri Arthur Joseph Kurup menegaskan pentingnya langkah pencegahan sejak dini agar kebakaran tidak berkembang menjadi bencana besar.
Sementara itu, Wakil Sekretaris Jenderal ASEAN untuk Komunitas Sosial-Budaya, San Lwin mengingatkan bahwa potensi El Niño dapat membuat musim kemarau tahun ini berlangsung lebih panjang dan lebih kering dibanding kondisi normal.
Meski demikian, optimisme tetap mengemuka dalam pertemuan tersebut. Negara-negara ASEAN sepakat bahwa persoalan kabut asap tidak dapat diselesaikan dengan saling menyalahkan, melainkan melalui kolaborasi yang lebih erat, pertukaran data yang cepat, serta penguatan kapasitas pencegahan di setiap negara. “Intinya saling mengingatkan dan saling membantu. Kita semua tidak ingin ada asap dari mana pun di kawasan ini,” tegas Jumhur.
Dengan komitmen yang semakin kuat, ASEAN kini menatap target besar: mewujudkan kawasan Asia Tenggara yang lebih tangguh, lebih hijau, dan bebas dari ancaman kabut asap lintas batas pada 2030. (BC5)



















