
balibercerita.com –
Puncak peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 Provinsi Bali tahun 2026 yang dilaksanakan di Kantor BKKBN Provinsi Bali, Kamis (9/7), menjadi momentum krusial untuk menguatkan peran ayah dalam pengasuhan kepada anak. Mengusung tema sentral “Ayah Wajib Hadir”, peringatan tahun ini diarahkan sebagai gerakan kolektif untuk mengikis fenomena fatherless country, sebuah kondisi di mana ayah hadir secara fisik namun absen secara psikologis dan emosional di dalam rumah.
Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bali, Dr. dr. Ni Luh Gede Sukardiasih, M.For., MAR, menegaskan bahwa keterlibatan aktif seorang ayah (father involvement) dalam pengasuhan harian memiliki korelasi positif yang sangat kuat terhadap perkembangan kognitif, kestabilan emosi, dan kepercayaan diri anak. Menurutnya, pemenuhan urusan pola asuh tumbuh kembang tidak bisa lagi dibebankan kepada ibu semata.
“Harganas ke-33 ini bukan sekadar perayaan seremonial tahunan, melainkan gerakan kolektif dan masif untuk menyatukan langkah pemerintah, swasta, dan masyarakat. Kita harus bergeser dan menghilangkan stigma bahwa tugas ayah hanya sebatas mencari nafkah. Kehadiran ayah yang utuh dan suportif terbukti mampu menurunkan tingkat stres ibu pasca-melahirkan, yang berkontribusi besar pada keberhasilan ASI eksklusif dan pencegahan stunting,” ujar Sukardiasih.
Sukardiasih memaparkan, guna menekan potensi stunting, pihaknya mengandalkan akurasi data by name by address bagi Keluarga Berisiko Stunting (KRS) agar intervensi tepat sasaran, dibantu Tim Pendamping Keluarga (TPK) di seluruh desa. Melalui dukungan dana bantuan operasional KB serta program prioritas Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN seperti Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting), Tamasya, Gati, dan Sidaya, Bali menargetkan angka stunting turun di bawah 5 persen dalam lima tahun ke depan, setelah sempat berfluktuasi dari 7,2 persen menjadi 8,7 persen.
Sebagai wujud nyata reorientasi peran tersebut, BKKBN Bali menggaungkan Gerakan Ayah Mengantar Anak ke Sekolah (GAMAS) pada hari pertama masuk sekolah, pada Senin, 13 Juli mendatang. “Kami sangat berharap dan mengimbau para bapak untuk meluangkan waktu beberapa jam saja mengantar anaknya. Ini sangat terkait dengan isu di mana 25 persen anak Indonesia kurang mendapatkan kasih sayang psikologis dari ayahnya,” tambah Sukardiasih.
Sementara itu, anggota Komisi IX DPR RI, Ni Putu Tutik Kusuma Wardhani mengaku sangat tersentuh oleh dedikasi jajaran Kemendukbangga yang tetap melangkah maju mengeksekusi program-program padat karya yang berdampak langsung bagi bangsa, meskipun situasi ekonomi sedang diuji oleh krisis global akibat konflik Iran-Israel. Tutik juga menyoroti pentingnya program lansia berdaya yang dikenal dengan sebutan Sidaya melalui peluncuran Sekolah Lansia di 20 desa di Kabupaten Gianyar dan Kota Denpasar.
“Meskipun tugas kita di negara sudah selesai atau pensiun, kita bisa melanjutkan tugas-tugas kemasyarakatan. Program lansia berdaya ini membuat putra-putri kita bangga melihat orang tuanya ternyata masih bermanfaat untuk orang lain,” tutur Tutik.
Di sisi lain, arah kebijakan Pemerintah Provinsi Bali yang selaras dengan visi “Nangun Sat Kerthi Loka Bali” turut memperkuat substansi Harganas tahun ini. Menyampaikan arahan Sekretaris Daerah Provinsi Bali, Staf Ahli Gubernur Bidang Ekonomi dan Keuangan, Dr. I Wayan Ekadina, SE, M.Si, menyatakan bahwa keluarga merupakan hulu dari semua kebijakan publik dan pondasi utama pembangunan karakter, nilai moral, serta kualitas sumber daya manusia (SDM).
“Bonus demografi yang saat ini kita hadapi bisa menjadi bencana mengerikan jika ledakan penduduk usia produktif menderita beban kesehatan, mental, dan tidak berdaya saing. Oleh karena itu, Pemprov Bali menghimbau seluruh Kepala Perangkat Daerah secara pribadi untuk terlibat dalam gerakan orang tua asuh cegah stunting (Genting),” kata Ekadina saat membacakan sambutan sekda.
Terkait dengan implementasi GAMAS pada 13 Juli nanti, Ekadina menegaskan bahwa Pemprov Bali berkomitmen penuh untuk memberikan kelonggaran birokrasi bagi pegawai vertikal. “Pimpinan pemerintah sangat positif memfasilitasi. Sepanjang kegiatannya untuk kepentingan penguatan keluarga, pasti didukung. Karena ketika di dalam keluarga ditemukan keharmonisan dan kesejahteraan, kami yakin begitu sampai di kantor, pegawai akan mampu memberikan kinerja terbaiknya,” pungkas Ekadina.
Puncak peringatan ini juga ditandai dengan penguatan sinergi lintas sektor melalui penandatanganan perjanjian kerja sama (PKS) antara Perwakilan BKKBN Provinsi Bali dengan sejumlah mitra akademis dan sosial, meliputi Universitas Ngurah Rai, Universitas Dhyana Pura (termasuk Fakultas Kedokteran serta Prodi Kesehatan Masyarakat), Institut Desain dan Bisnis Bali, Yayasan Sahajja, serta Badan Zakat Nasional Provinsi Bali.
Sebelumnya, sejak April 2026, serangkaian kegiatan pra-Harganas telah sukses dilaksanakan, mulai dari Penguatan Kampung Keluarga Berkualitas, capaian Juara 3 Nasional Quiz Keren BKKBN, hingga keberhasilan Rumah Data Kependudukan Desa Penarungan dan Lomba Video Pendek Anti Korupsi “Jejak Jujur Ayah” menembus nominasi 10 besar tingkat nasional. Rangkaian edukasi juga dioptimalkan lewat berbagai webinar berkala, mulai dari kesehatan reproduksi, literasi keuangan, hingga sosialisasi Satyagatra dan kesehatan seksual demi melindungi ketahanan keluarga di Bali. (BC18)

















