balibercerita.com –
Menjelang pelaksanaan Ngadegang Bendesa Adat Pecatu pada 26 Juli 2026, semangat kebersamaan dan persaudaraan terus digaungkan di tengah masyarakat. Proses pemilihan bendesa adat itu tidak semata-mata menjadi ajang menentukan pemimpin baru, tetapi juga momentum memperkuat semangat manyama braya, gotong royong, dan persatuan krama dalam menjaga keberlangsungan Desa Adat Pecatu.
Ketua Panitia Ngadegang Bendesa Adat Pecatu, Made Tomy Martana Putra mengatakan, seluruh tahapan penjaringan calon telah berlangsung dengan baik dan mendapat partisipasi aktif dari seluruh banjar adat. Dari proses tersebut, lahir tiga kandidat yang akan mengikuti pemilihan yakni Made Sutama (mantan Kepala Bapenda Badung) dari Banjar Tengah dengan nomor urut 1, Ketut Giri Arta (mantan Ketua LPD Pecatu) dari Banjar Kangin dengan nomor urut 2, serta Nyoman Mahardika (Kelian Banjar Adat Kauh) dengan nomor urut 3.
Menurut Tomy, antusiasme masyarakat dalam setiap tahapan menjadi gambaran kuatnya rasa memiliki terhadap Desa Adat Pecatu. Keterlibatan seluruh banjar adat dalam mengusulkan calon terbaiknya menunjukkan bahwa masyarakat memiliki tujuan yang sama, yakni menjaga dan membangun desa adat agar semakin maju dan harmonis.
“Partisipasi dari seluruh banjar menunjukkan bahwa masyarakat memiliki kepedulian yang besar terhadap masa depan Desa Adat Pecatu. Ini bukan hanya soal memilih bendesa, tetapi juga memperkuat kebersamaan dan rasa tanggung jawab bersama terhadap desa adat,” ujarnya dikonfirmasi, Minggu (19/7).
Ia menegaskan, proses Ngadegang Bendesa Adat Pecatu merupakan bagian dari tradisi demokrasi adat yang telah diwariskan secara turun-temurun. Karena itu, seluruh masyarakat diharapkan dapat menyikapi setiap perbedaan pilihan dengan bijaksana serta tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kekeluargaan yang menjadi kekuatan utama masyarakat Pecatu.
Tomy yang juga anggota DPRD Badung mengajak seluruh krama untuk menjaga suasana yang sejuk, damai, dan penuh rasa hormat selama seluruh tahapan pemilihan berlangsung. Menurutnya, perbedaan pilihan merupakan hal yang wajar, namun persaudaraan harus tetap menjadi landasan utama dalam kehidupan bermasyarakat.
“Kami berharap masyarakat menyambut proses ini dengan suka cita. Perbedaan pilihan adalah hal yang wajar dalam sebuah proses demokrasi adat, namun persatuan dan kebersamaan harus tetap menjadi prioritas utama. Setelah pemilihan selesai, mari bersama-sama mendukung bendesa terpilih demi kemajuan Desa Adat Pecatu,” katanya.
Sebagai desa adat yang berada di kawasan destinasi wisata internasional, keharmonisan masyarakat Pecatu menjadi modal penting dalam menjaga adat, budaya, dan citra wilayah. Karena itu, semangat manyama braya yang selama ini tumbuh di tengah masyarakat diharapkan tetap terjaga, baik sebelum maupun setelah pemilihan bendesa dilaksanakan.
Siapa pun yang nantinya terpilih memimpin Desa Adat Pecatu, seluruh krama diharapkan dapat kembali bersatu dan bersama-sama ngayah untuk kemajuan desa. Dengan demikian, Ngadegang Bendesa Adat Pecatu bukan hanya melahirkan seorang pemimpin baru, tetapi juga memperkuat ikatan persaudaraan yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat adat Pecatu. (BC5)















