Perjuangan Dramatis Pengangkutan Ogoh-ogoh Zona 7, Hadapi Hujan dan Kabel Semrawut Demi Lolos Penilaian

0
184
Ogoh-ogoh
Salah satu ogoh-ogoh di Zona 7 Kuta Selatan. (ist)

balibercerita.com –
Penilaian lanjutan lomba ogoh-ogoh Kabupaten Badung pada 6–8 Maret tak hanya menjadi ajang adu kreativitas, tetapi juga ujian kesiapan teknis bagi peserta. Hal itu dirasakan tiga perwakilan Zona 7 Kuta Selatan yang harus memikirkan strategi perjalanan menuju Pusat Pemerintahan (Puspem) Badung agar tidak terjebak kemacetan dan tetap memenuhi jadwal.

Untuk mengantisipasi kepadatan arus lalu lintas pagi hari, tiga ogoh-ogoh diberangkatkan bersamaan pada Selasa (3/2) dini hari. Perwakilan tersebut yakni ST Bhakti Darma Banjar Kangin, Desa Adat Pecatu dengan ogoh-ogoh Kala Bendu; ST Bhuwana Kusuma Banjar Peken, Desa Adat Bualu, Benoa dengan karya Manutur; serta ST Astiti Yoga Sentana Banjar Menesa, Desa Adat Kampial, Benoa dengan ogoh-ogoh Kalania Samasta.

Ketua Pasikian Yowana Kuta Selatan, Chandra Riantama menjelaskan keputusan berangkat bersama diambil setelah koordinasi seluruh peserta. Titik kumpul ditetapkan di Bypass Jimbaran sebelum rombongan bergerak sekitar pukul 00.30 Wita menuju Puspem Badung.

“Kami sepakat berangkat bareng-bareng dari Jimbaran menuju Puspem Badung. Lewat jam 12 malam sudah siap jalan. Target utama kami selain keselamatan dan kelancaran perjalanan adalah meminimalisir gangguan lalu lintas serta menghindari arus berangkat kerja dan sekolah,” ujarnya.

Baca Juga:   Ketua Komisi IV DPRD Badung Apresiasi Kenaikan Bantuan Kreativitas Ogoh-ogoh

Langkah tersebut membuahkan hasil. Seluruh ogoh-ogoh Zona 7 tiba di Puspem Badung sebelum pukul 07.30 Wita. Banjar Kangin Pecatu tercatat tiba lebih awal sekitar pukul 06.15 Wita, disusul Banjar Peken Bualu pukul 06.30 Wita, dan Banjar Menesa Kampial sekitar pukul 07.15 Wita.

Meski jadwal terpenuhi, perjalanan tidak sepenuhnya mulus. Kondisi geografis perbukitan Kuta Selatan serta kepadatan wilayah Badung Selatan menjadi tantangan sejak rombongan bergerak dari banjar masing-masing. Di tengah perjalanan, hujan deras disertai angin kencang juga sempat melanda. “Sempat hujan bahkan seperti badai, tetapi itu tidak menyurutkan semangat teman-teman untuk tetap lanjut ke Puspem. Karena target kami sebelum arus pagi dimulai sudah harus sampai,” tegas Candra.

Pengawalan dilakukan dengan melibatkan unsur kecamatan, linmas, pecalang, Satpol PP Badung, Bhabinkamtibmas, dan Babinsa di masing-masing desa. Setibanya di lokasi, ogoh-ogoh langsung ditempatkan di booth display panitia dalam kondisi masih terbungkus plastik. Hingga siang hari belum ada laporan resmi terkait kerusakan.

Baca Juga:   Pecatu Susun Aturan Adat Ketertiban Wilayah, Penduduk Pendatang Wajib Mematuhi

Bendesa Adat Pecatu, I Made Sumerta memberikan apresiasi atas semangat yowana, khususnya ST Bhakti Darma Banjar Kangin Pecatu yang kembali mengikuti penilaian di Puspem Badung. Ia mengingatkan agar kendala teknis di perjalanan tidak berdampak pada sanksi atau pengurangan nilai. “Jangan sampai kena skors karena waktu atau kerusakan akibat tersangkut kabel atau dahan pohon. Jalur harus benar-benar diperhatikan,” ujarnya.

Desa Adat Pecatu juga menyiapkan dukungan dana untuk membantu kebutuhan keberangkatan hingga kepulangan peserta. Mengenai hasil lomba, ia menyerahkan sepenuhnya kepada dewan juri dengan harapan penilaian berlangsung adil sesuai kriteria technical meeting.

Sementara itu, Tim Penggarap Ogoh-ogoh ST Bhuwana Kusuma Banjar Peken, I Made Risky Prasetya menyebut, persiapan telah dimulai sejak Senin (2/3) pukul 20.00 Wita. Rombongan bergerak menuju Bypass Ngurah Rai sekitar pukul 22.00 Wita dan berkumpul di Jembatan Bypass Ngurah Rai Jimbaran pada tengah malam sebelum melanjutkan perjalanan bersama.

Baca Juga:   Perayaan Imlek di Vihara Dharmayana Kuta, Sarana Persembahyangan Juga Gunakan Canang

Rute yang dilalui meliputi Bypass Ngurah Rai–Jalan Imam Bonjol–perempatan Teuku Umar–Jalan Mahendradatta–Jalan Cargo–Pasar Batukandik hingga Puspem Badung. “Tantangan pertama beban berat saat menaikkan ke kendaraan. Ditambah hujan deras dan angin kencang. Untungnya sudah kami bungkus plastik,” jelasnya.

Ogoh-ogoh diangkut menggunakan satu unit mobil towing. Namun tinggi karya yang hampir menyentuh kabel provider sempat menjadi kendala di perjalanan. Setelah tiba di Puspem, tim menemukan sejumlah kerusakan seperti patahnya jari tangan bagian atas, jari kaki, dan beberapa bagian kecil lainnya. Perbaikan segera dilakukan menjelang pementasan pada 7 Maret.

Ke depan, Risky berharap adanya tambahan kuota bagi Zona 7 yang dinilai memiliki karya besar dan megah, serta dukungan pengamanan lalu lintas yang lebih maksimal, termasuk penataan kabel dan ranting pohon di sepanjang jalur. “Selama ini kendala utama memang kabel dan ranting. Kalau itu bisa difasilitasi lebih maksimal, tentu perjalanan kami akan jauh lebih aman,” pungkasnya. (BC5)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini