Swadhyaya IV Bahas Kedudukan Perempuan dalam Perspektif Hindu

0
17
Swadhyaya
Foto bersama di sela-sela Swadhyaya Brahma Widya IV yang digelar Kamis (16/4). (ist)

balibercerita.com –
Swadhyaya Brahma Widya IV yang digelar Kamis (16/4), di aula Fakultas Brahma Widya UHN IGB Sugriwa Denpasar mengangkat tema tentang peran dan kemuliaan perempuan dalam ajaran Hindu. Diskusi ini menghadirkan dua narasumber yakni Dr. Anak Agung Raka Asmariani, S.Ag., M.Fil.H dan I Gede Wirawan.

Dalam pemaparannya, Dr. Anak Agung Raka Asmariani menyoroti ajaran dalam Manawa Dharma Sastra sebagai landasan normatif yang menempatkan perempuan pada posisi yang mulia. Ia menegaskan bahwa perempuan bukan sekadar bagian dari struktur keluarga, melainkan pusat keharmonisan dan sumber keberkahan. Hal ini tercermin dalam sloka yang menyatakan bahwa di mana perempuan dihormati, di sanalah para dewa berbahagia, dan sebaliknya, tanpa penghormatan kepada perempuan, segala upacara menjadi tanpa makna.

Baca Juga:   Gusde Mahendra Siapkan Program 100 Hari Peradah Bali: "Sabha Nitya Kala" dan "Magibung"

Perempuan dipandang memiliki hak-hak fundamental untuk dihormati, dilindungi, dan dimuliakan. Dalam ranah keluarga, perempuan berperan sebagai istri, ibu, sekaligus pengelola rumah tangga yang menjaga keseimbangan dan keharmonisan. Konsep stridhana juga menunjukkan pengakuan terhadap hak ekonomi perempuan dalam tradisi tersebut.

Sementara itu, I Gede Wirawan mengajak peserta melihat perempuan melalui pendekatan filsafat Hindu yang lebih mendalam meliputi ontologi, epistemologi, aksiologi, dan fenomenologi. Ia menjelaskan bahwa perempuan merupakan manifestasi shakti, energi ilahi yang menjadi sumber kehidupan. Dalam perspektif kosmis, perempuan adalah simbol penciptaan (yoni), sekaligus representasi Ibu Pertiwi yang sakral.

Baca Juga:   Janger Galuci Tegalsuci Suguhkan Nuansa Lampau dalam Perayaan HUT Gianyar ke-255

Menurutnya, pemahaman terhadap teks tidak boleh berhenti pada pembacaan literal. Diperlukan pendekatan filosofis untuk menggali esensi sejati, bahwa perempuan memiliki kesetaraan spiritual dengan laki-laki. Perbedaan peran bukanlah bentuk subordinasi, melainkan ekspresi dari svadharma yang saling melengkapi.

Diskusi semakin dinamis dalam sesi tanya jawab. Berbagai pandangan kritis muncul, mulai dari reinterpretasi makna “wanita” dan “perempuan”, hingga relevansi ajaran klasik dengan isu kontemporer seperti kesetaraan gender dan pilihan hidup modern, termasuk fenomena childfree. Narasumber menegaskan bahwa teks harus dibaca secara kontekstual, mengikuti perkembangan zaman, tanpa kehilangan esensi dharma.

Dalam konteks kekinian, perlindungan terhadap perempuan tidak lagi dimaknai sebagai pembatasan, melainkan sebagai pemberdayaan. Perempuan diberi ruang untuk berperan dalam berbagai bidang, termasuk pendidikan dan politik, tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur yang menjadi dasar keharmonisan kehidupan.

Baca Juga:   King Cempaka Kagumi Perayaan Tumpek Uye di Uluwatu

Menutup kegiatan, pihak dekanat menekankan pentingnya konsistensi mahasiswa dalam mengikuti kegiatan swadhyaya sebagai bagian dari pembentukan karakter dan spiritualitas. Usulan penerapan logbook kehadiran menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan partisipasi aktif mahasiswa.

Sebagai refleksi akhir, Swadhyaya IV menegaskan kembali bahwa perempuan adalah sumber kemuliaan, kesejahteraan, dan keseimbangan, baik dalam lingkup keluarga maupun semesta. Penghormatan terhadap perempuan bukan sekadar nilai simbolik, tetapi menjadi fondasi terciptanya keharmonisan hidup, baik dalam dimensi mikro maupun makrokosmos. (BC9)