Dari Ruang Kecil di Ubud, Difabel Mengubah Diri dan Lingkungan Sekitar

0
151
Yayasan Cahaya Mutiara Ubud
Para difabel di Yayasan Cahaya Mutiara Ubud. (ist)

balibercerita.com –
Tak jauh dari jantung Ubud yang riuh wisatawan, ada sebuah ruang sederhana yang denyut kehidupannya tak kalah kuat, Yayasan Cahaya Mutiara Ubud. Di sini, setiap pagi dimulai bukan dengan keluhan atas keterbatasan, melainkan bunyi gamelan, aroma kopi, dan tawa para difabel yang sedang menyiapkan hari dengan menari, memahat, menganyam, hingga menata galeri kerajinan. Di tempat yang tidak luas itu, sesungguhnya tengah tumbuh sebuah gerakan sosial, sebuah gerakan difabel untuk menentukan sendiri masa depannya.

Berbeda dari banyak lembaga serupa, Yayasan Cahaya Mutiara Ubud sejak awal dikelola langsung oleh para difabel. Mereka yang merencanakan program, memimpin pelatihan, hingga mengelola unit usaha. “Kami ingin menunjukkan bahwa kami mampu. Kami ingin orang berhenti melihat keterbatasan, dan mulai melihat potensi kami,” tegas Ni Nengah Warni, Ketua Pengurus Yayasan.

Keyakinan itu yang kemudian bertemu dengan dukungan Pertamina Patra Niaga AFT Ngurah Rai melalui program Sahabat Disabilitas Ubud. Namun, tidak seperti program CSR pada umumnya, pendekatan yang diterapkan adalah pendampingan dari belakang. Difabel tetap menjadi pemimpin proses.

Baca Juga:   Legong Kreasi "Manohara" Dipentaskan di PKB

Pertamina hanya menyediakan alat: perbaikan studio latihan, galeri, perlengkapan katering, smart cashier, hingga pelatihan digital marketing. Alat itu diolah sendiri, melahirkan transformasi yang bahkan tak disangka para pendampingnya.

Salah satu kisah perubahan itu dialami Yande, 31 tahun, penyandang cerebral palsy. Dulu ia ragu berkomunikasi dan takut berjualan. Kini ia mengelola promosi kerajinan melalui media sosial dan terbiasa melayani transaksi dengan mesin kasir pintar. “Sekarang saya lebih percaya diri. Saya belajar percaya pada diri saya sendiri,” ujarnya pelan.

Perubahan serupa terlihat pada Karmen (27). Penyandang kerapuhan tulang ini dahulu memalingkan wajah ketika diminta berbicara di depan umum. Kini ia memandu siaran langsung Tiktok dengan percaya diri, memperkenalkan kerajinan dan aktivitas yayasan. Hasilnya, dalam sebulan terakhir, omzet unit usaha kerajinan mereka melonjak menjadi Rp500.000 per hari. Transformasi seperti ini bukan sekadar peningkatan kemampuan. Ia adalah pemulihan martabat.

Baca Juga:   FPMHD-Unud Gelar Bakti Sosial Tri Hita Karana di Pura Pucak Mangu

Salah satu inisiatif terbesar yayasan adalah paket wisata edukatif One Day With Difabel, konsep yang unik karena bukan menampilkan difabel sebagai tontonan, melainkan sebagai guru. Pengunjung belajar menari bersama Warni, membuat kerajinan bersama Yande, hingga menggali proses kreatif para difabel lainnya.

Dalam setahun, program ini mampu menarik 2–3 kunjungan per bulan, menghasilkan pemasukan sekitar Rp6 juta. Program ini perlahan menggeser cara masyarakat memandang difabel: dari belas kasihan menjadi penghargaan. “Orang datang bukan untuk mengasihani. Mereka datang untuk belajar,” kata Karmen.

Pertamina juga rutin membuka panggung bagi para difabel untuk tampil dalam acara perusahaan Bulan K3, Uma Palak Festival, hingga konser hiburan. Kesempatan tampil itu mengubah cara mereka memandang diri sendiri. Kini, para difabel rutin mengadakan konser amal dua hingga tiga kali sebulan dengan donasi hingga Rp7,5 juta. “Kami diberi kepercayaan. Itu membuat kami berani.”kata Warni.

Baca Juga:   Tiga Korban Banjir di Mengwitani Belum Ditemukan, Desa Adat Gelar Ritual Khusus

Di bidang olahraga, tiga atlet yayasan bahkan meraih juara 1 marathon kursi roda dalam Maybank Marathon tahun ini, prestasi yang menjadi simbol bahwa batas fisik tidak membatasi tekad.

Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi menegaskan bahwa program ini dirancang bukan untuk memberi, melainkan untuk membuka akses. “Ketika kepercayaan diberikan dan ruang dibukakan, mereka sendiri yang membuktikan potensi mereka,” ujarnya.

Program ini semakin relevan dengan momentum Hari Disabilitas Internasional, yang tahun ini menekankan pentingnya partisipasi penuh dan setara dalam semua aspek kehidupan. Dari ruang kecil di Ubud ini, Yayasan Cahaya Mutiara bukan hanya membangun kemandirian ekonomi. Mereka membangun cara pandang baru bahwa difabel memiliki kapasitas memimpin, berkarya, dan mengubah lingkungan sosialnya. Dan seperti banyak gerakan besar lainnya, semuanya dimulai dari hal sederhana keyakinan bahwa mimpi mereka sah untuk diperjuangkan. (BC5)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini