balibercerita.com –
Tradisi makan bersama khas Karangasem, magibung, menjadi daya tarik utama dalam pembukaan The 12th Bali & Beyond Travel Fair (BBTF) 2026 di Nusa Dua, Kamis (28/5) malam. Di hadapan ratusan pelaku industri pariwisata dari berbagai negara, warisan budaya Bali Timur itu diperkenalkan sebagai simbol kebersamaan, kesetaraan, dan harmoni yang menjadi nilai penting dalam pariwisata Indonesia.
Suasana pembukaan BBTF tahun ini terasa berbeda. Para peserta tidak hanya disuguhi ragam kuliner Nusantara, tetapi juga diajak memahami filosofi yang hidup di balik tradisi magibung, sebuah budaya makan bersama yang telah diwariskan turun-temurun oleh masyarakat Karangasem.
Chairman BBTF 2026 sekaligus Ketua ASITA Bali, I Putu Winastra mengatakan, pemilihan magibung sebagai konsep pembuka bukan tanpa alasan. Tradisi tersebut dinilai mampu menggambarkan semangat berbagi pengalaman dan kesetaraan yang sejalan dengan visi pengembangan pariwisata berkelanjutan.
“Magibung dari Karangasem di Bali Timur. Sebuah konsep yang mengandung nilai kesetaraan, apresiasi, dan berbagi pengalaman. Sebuah pendekatan tradisional di mana bersantap merupakan bagian dari pengalaman tersebut,” ujar Winastra.
Menurutnya, kearifan lokal ini lebih dari sekadar aktivitas makan bersama. Tradisi ini menjadi ruang untuk membangun kedekatan, mempererat hubungan, serta merayakan kebersamaan tanpa memandang latar belakang sosial maupun budaya.
Melalui tema gastronomi yang diusung pada BBTF tahun ini, Winastra berharap para buyer, seller, dan delegasi internasional dapat mengenal Indonesia bukan hanya dari destinasi wisatanya, tetapi juga melalui kekayaan budaya yang tercermin dalam setiap sajian kuliner. “Kami berharap Anda tidak hanya menikmati cita rasanya, tetapi juga memahami cerita, nilai, dan filosofi di baliknya,” katanya.
Sementara itu, Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri RI, Heru Hartanto Subolo menegaskan bahwa pariwisata dan gastronomi memiliki peran strategis dalam memperkuat hubungan antarbangsa. Kuliner sering kali menjadi media yang efektif untuk membuka percakapan, membangun kedekatan, hingga menciptakan pemahaman lintas budaya. “Kita sering mengatakan bahwa diplomasi dimulai dengan dialog, namun pada kenyataannya, terkadang diplomasi dimulai dengan hidangan yang lezat,” ujarnya.
Ia menambahkan, makanan tidak hanya berbicara soal rasa, tetapi juga menyimpan cerita tentang sejarah, identitas, tradisi, dan nilai-nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi. Karena itu, gastronomi menjadi bagian penting dalam diplomasi budaya yang mampu memperkenalkan wajah Indonesia kepada dunia.
Melalui penyelenggaraan BBTF 2026, Heru berharap sektor pariwisata terus berkembang sebagai sarana memperkuat persahabatan antarnegara sekaligus mendorong terciptanya perdamaian dan kesejahteraan global. “Oleh karena itu, marilah kita terus bekerja sama untuk memastikan bahwa pariwisata tetap menjadi kekuatan untuk perdamaian, kemakmuran, dan saling pengertian,” tutupnya. (BC5)












