
balibercerita.com –
Pasaban Rsiwara Narawangsa Sri Nararya Damar Kenceng Bali Nusantara melaksanakan peringatan hari ulang tahun (HUT) ke-8 pada Minggu (17/5). Perayaan yang sedianya jatuh pada tanggal 10 Mei tersebut dirangkaikan dengan pelaksanaan upacara Yadnya Danu Kerthi berupa pakelem di Pura Ulun Danu Buyan, Pancasari, Buleleng.
Upacara ini di-puput oleh tujuh sulinggih dari paiketan pasaban dan dihadiri langsung oleh sejumlah tokoh dari Puri Pemecutan. Dalam konteks perayaan ulang tahun kali ini, jajaran sulinggih mendedikasikan momen tersebut untuk kepentingan umat Hindu melalui pelaksanaan Danu Kerthi.
Upacara ini sejalan dengan konsep Sad Kerthi yang digaungkan oleh Gubernur Bali, yang meliputi Atma Kerthi (jiwa), Segara Kerthi (laut), Danu Kerthi (air/danau), Wana Kerthi (hutan), Jana Kerthi (manusia), dan Jagat Kerthi (alam semesta/sosial).
Sulinggih, Ida Rsi Agung Bhagawan Dharma Putra Adnyana menegaskan bahwa Danu Kerthi memiliki makna mendalam sebagai bentuk penghormatan terhadap sumber air yang berasal dari gunung dan ditampung di danau. Secara khusus, upacara ini ditujukan kepada Dewi Danu yang senantiasa memberikan kemakmuran bagi umat manusia.
Melalui upacara ini, para sulinggih berharap dapat meningkatkan swadharma dalam ngerastiti jagat (mendoakan keselamatan alam semesta) demi mewujudkan kerahayuan (keselamatan), dhanam (kesejahteraan), raksanam (rasa aman), dan santhi (kedamaian). Hal tersebut dicapai dengan konsisten menjalankan ajaran Tri Hita Karana guna menciptakan harmonisasi antara manusia dengan sesama, lingkungan, dan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Pada kesempatan tersebut, Ida Rsi Agung Bhagawan Dharma Putra Adnyana menyampaikan pesan mendalam agar umat Hindu di Bali tidak terjebak pada konteks upacara atau ritual semata. Umat diharapkan mampu memahami tatwa (filosofi atau hakikat) dari setiap upacara yang dilakukan. Hal ini merujuk pada tiga kerangka dasar agama Hindu, yaitu tatwa, susila, dan upacara.
Pada upacara pakelem kali ini, tingkatan yang diambil adalah nistaning utama dengan menghaturkan sarana kurban persembahan berupa itik hitam dan ayam. Secara filosofis, itik hitam merupakan pemade (pengganti) dari kerbau. Itik hitam disimbolkan sebagai wahana Dewa Yama yang merepresentasikan kebodohan.
“Mari kita tenggelamkan kebodohan dalam kehidupan ini dan tingkatkan pengetahuan untuk memudahkan kita dalam menjalani kehidupan. Melalui agama, hidup kita terarah. Melalui pengetahuan, hidup menjadi mudah, dan melalui seni hidup menjadi indah. Inilah harapan dari konsep satyam, siwam, sundaram,” ungkapnya.
Ida Rsi menambahkan, menjaga keseimbangan dan keharmonisan alam harus dilakukan secara seimbang, baik secara sekala (nyata) maupun niskala (religius/abstrak). Secara niskala, keseimbangan dijaga melalui pelaksanaan upacara seperti pakelem sebagai pengorbanan suci yang tulus ikhlas kepada Dewi Danu. Sementara, secara sekala, umat dituntut secara nyata untuk aktif menjaga kebersihan lingkungan dan melestarikan danau sebagai sumber mata air vital bagi kehidupan sehari-hari. (BC18)













