Ritual Nangluk Merana di Desa Adat Kuta Menarik Perhatian Wisatawan

Nangluk merana
Prosesi nangluk merana di Desa Adat Kuta. (ist)

Mangupura, balibercerita.com – 

Upacara nangluk merana di Desa Adat Kuta menjadi daya tarik bagi wisatawan. Upacara yang digelar tiap setahun sekali pada hari Kajeng Kliwon Uwudan atau Enyitan di Sasih Kanem dalam kalender Bali itu menunjukkan kesakralan dan kental dengan ritual budaya Bali. Terlebih dalam pelaksanaannya, sejumlah sadeg Ida Batara melaksanakan ngurek yakni menghujam bagian tubuh dengan keris saat trance. 

Upacara tersebut dilaksanakan terpusat di Pura Dalem Kahyangan. Namun sebelumnya, masing-masing banjar di Kuta melaksanakan upacara di masing-masing persimpangan wilayah banjar. Usai prosesi itu dilaksanakan, barulah pelawatan Ida Batara yang berupa barong dan rangda secara bergiliran menuju ke Pura Dalem Kahyangan untuk dilaksanakan puncak acara.

Saat pandemi Covid-19 melanda, iring-iringan dalam prosesi sempat ditiadakan selama 2 tahun. Prosesi dilaksanakan dengan penyederhanaan, dengan hanya dilakukan di masing-masing perempatan banjar saja. Namun, tahun ini prosesi itu kembali dilaksanakan layaknya sebelum pandemi. Dikarenakan perkembangan kasus Covid-19 telah mereda, dan status pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) terus diturunkan.

Bendesa Adat Kuta Wayan Wasista menerangkan, upacara nangluk merana tahun ini digelar secara normal. Sebelumnya, upacara ini sempat dilaksanakan ngubeng selama 2 tahun karena pandemi. Kala itu, pelawatan Ida Batara dari masing-masing banjar tidak lunga ke Pura Dalem Kahyangan. Namun upacara di masing-masing persimpangan banjar tetap dilaksanakan. 

Baca Juga:   Di Pura Ini Tersimpan Kisah Romeo dan Juliet Versi Bali

Hal itu ditempuh sebagai bentuk penyederhanaan, dalam mematuhi aturan PPKM Level 3 yang diberlakukan saat itu. Adapun pelawatan tersebut berasal dari 6 banjar yaitu Pelasa, Pemamoran, Jaba Jero, Pande, Tegal dan Tanjung Pikat Banjar Segara. 

“Makna dari nangluk merana di Desa Adat Kuta untuk membersihkan bhuana agung dan bhuana Alit . Sebab Sasih Kanem dalam kalender Bali dikenal sebagai sasih merana (wabah penyakit) dan mala (musibah). Sasih Kanem juga merupakan masa pancaroba, yang rawan dengan wabah penyakit,” ucapnya.

Upacara nangluk merana dilakukan dengan menggunakan upakara pecaruan Panca Sata Medurga. Hal itu untuk nyomia atau menetralisir bhuta kala dan unsur negatif lainnya agar tidak mengganggu dan menyebabkan wabah. Prosesi upacara dimulai dari pagi hari, yaitu pukul 06.00 Wita. Nuwur tirta telengin segara Pantai Kuta menjadi awal upacara. 

Pada waktu bersamaan juga dilaksanakan uapcara pecaruan di catus pata (perempatan agung) desa. Tirta dari telengin segara dan tirta upacara pacaruan di catus pata disatukan untuk kemudian dipundut (dibawa) ke Pura Dalem Kahyangan. Tirta itu kemudian akan disambut dengan penyamblehan kucit butuan, kemudian tirta akan dilinggihkan di pura.

Baca Juga:   Sekda Adi Arnawa Hadiri Piodalan Nyatur Pura Kahyangan Jagat Dalem Solo

Selanjutnya, pelawatan dari 13 banjar yang ada di Kuta melaksanakan prosesi upacara di masing-masing simpang banjar secara serentak. Banjar-banjar tersebut yaitu Plasa, Temacun, Pemamoran, Pengabetan, Pering, Tegal, Buni, Teba Sari, Jaba Jero, Anyar, Mertha Jati, Pande Mas dan Segara. 

Adapun titik persimpangan yang menjadi titik upacara masing-masing banjar yaitu di Jalan Majapahit dengan mengambil 3 titik upacara, yaitu di Gebyog Kaler, Gebyog Tengah dan Kebyog Kelod. Kemudian di simpang Pasar Kuta atau depan Pura Desa, di simpang depan Banjar Temacun, catus pata Bemo Corner, depan Pura Unggan-unggan, pertigaan Jalan Buni Sari, pertigaan Pasar Seni Kuta, perempatan SD 1 Kuta, simpang patung Baruna Banjar Segara, dan di perempatan jalan Satria di Ujung Selatan. 

Setelah itu pelawatan akan diiring menuju Pura Dalem Kahyangan. “Kira-kira sekitar jam 12 akan dilakukan pecaruan Panca Sata Medurga yang dipuput Ida Sulinggih,” sebutnya.

Baca Juga:   Topeng Massal Iringi Palebon Maestro Topeng Tugek Carangsari

Usai upacara di Pura Dalem Kahyangan, semua pelawatan akan kembali ke payogan masing-masing. Saat itu di jaba tengah Pura Dalem Kahyangan akan digelar kembali prosesi nyambleh kucit butuan. Saat itu lima puluhan sadeg dari palewatan akan mengalami trans. Para sadeg akan memperebutkan darah kucit butuan untuk diminum.

Setelah semua pelawatan kembali ke payogan, para kelian, kelian maksan pelawatan, akan nunas tirta dan akan dipundut ke masing-masing banjar. Tirta itu nantinya akan diminta oleh masing-masing masyarakat, karena pada saat sandikala (petang) mereka akan melaksanakan upacara di depan dan di halaman rumah. Tirta itu nantinya akan dipercikkan ke masing-masing merajan. Selama prosesi, para pelaku usaha di Kuta juga turut berpartisipasi dengan memasang sanggah cucuk di depan tempat usahanya.

Tahun ini juga pertama kalinya banten total dibuat oleh serati banten Desa Adat Kuta. Hal itu sebagai langkah efisiensi dan pemberdayaan, dalam upaya meringankan beban krama. Ke depannya seluruh banten upakara di Desa Adat Kuta akan digarap oleh para serati yang berada di bawah BUPDA. (BC5)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini