balibercerita.com –
Di tengah hujan yang mengguyur kawasan Kuta sejak pagi, krama Desa Adat Kuta tetap teguh melaksanakan Upacara Nangluk Merana lan Pecaruan Sasih, Minggu (14/12). Upacara sakral yang bertepatan dengan rahinan Kajeng Kliwon Uwudan Sasih Kenem ini menjadi wujud nyata komitmen masyarakat adat dalam menjaga keseimbangan alam, kesehatan, dan keharmonisan kehidupan sekala-niskala, khususnya di kawasan pariwisata yang dinamis seperti Kuta.
Meski cuaca kurang bersahabat, antusiasme krama desa tidak surut. Sejak dini hari, banjar penyangra, pengayah desa, hingga pemangku adat telah bersiaga menjalankan ayahan swadharma sesuai tugas masing-masing. Rangkaian upacara pun berlangsung khidmat dan tertib, mencerminkan kuatnya kesadaran kolektif akan pentingnya pelestarian tradisi dan nilai-nilai spiritual warisan leluhur.
Rangkaian prosesi diawali dengan pelaksanaan Caru Tawur Agung di Catus Pata Desa Adat Kuta pada pukul 06.00 Wita. Selanjutnya, mulai pukul 06.30 Wita hingga menjelang siang, dilaksanakan Pamelepeh atau Pecaruan Sasih di seluruh persimpangan wilayah Desa Adat Kuta. Prosesi ini dipuput oleh Ida Ratu Pelawatan dari masing-masing banjar, disertai penyamblehan kucit butuan sebagai bagian dari ritual.
Bendesa Adat Kuta, I Komang Alit Ardana, menjelaskan bahwa pecaruan di persimpangan dimaknai sebagai upaya nyomia bhuta kala. Persimpangan diyakini sebagai titik pertemuan energi yang perlu dinetralisir agar unsur-unsur negatif dapat dikembalikan ke tempatnya, sehingga tercipta keseimbangan dan ketenteraman wilayah desa.
Adapun Ida Ratu Pelawatan yang turut muput upacara di persimpangan antara lain Barong Banjar Pelasa, Barong Bang Banjar Pemamoran dan Banjar Temacun, Barong Selem Banjar Tegal, Barong Banjar Pande Mas, Barong Singa Puri Satria Dalem Kaleran, serta Barong Landung Pura Tanjung Pikatan Banjar Segara. “Walaupun hujan turun sejak pagi, pecaruan tetap berjalan sesuai rencana. Antusiasme krama desa, khususnya banjar penyangra dan para pengayah, sangat tinggi. Seluruh ayahan swadharma yang ditugaskan oleh Desa Adat dapat diselesaikan dengan baik,” ujar Alit di sela-sela upacara.
Usai rangkaian Pecaruan Sasih di persimpangan rampung, Ida Ratu Pelawatan mewali ke payogan di masing-masing banjar. Berbeda dengan pelaksanaan sebelumnya yang berkaitan dengan Upacara Pemahayu Jagat di Pura Dalem, rangkaian kali ini dilanjutkan dengan Upacara Nangluk Merana yang dipusatkan di Pantai Kuta, tepatnya di depan Pura Segara Kuta, dekat kawasan tsunami shelter.
Upacara Nangluk Merana yang semula dijadwalkan berlangsung pukul 10.00 Wita sempat mengalami penundaan sekitar satu jam akibat hujan lebat. Setelah cuaca sedikit mereda, Ida Pedanda saking Griya Telabah munggah untuk muput upacara. Prosesi mapakelem ke tengah laut pun dilaksanakan sebagai simbol penghaturan ke telenging segara dan permohonan peleburan mala marana kepada Ida Bhatara Baruna.
Bendesa Adat Kuta menegaskan bahwa pemusatan Upacara Nangluk Merana lan Pecaruan Sasih di Pantai Kuta sejalan dengan perubahan tatanan upacara yang mulai diterapkan sejak tahun lalu. Sebelumnya, upacara ini dikenal dengan Nangluk Merana lan Pemahayu Jagat. Namun, Pemahayu Jagat tidak lagi dilaksanakan karena memiliki makna dan tujuan yang dinilai sejalan dengan Nangluk Merana. “Secara sastra, Nangluk Merana semestinya dipusatkan di penepi siring segara dengan menghaturkan upakara ke telenging segara serta memohon panugrahan Ida Bhatara Baruna. Nangluk Merana bermakna pembersihan serta permohonan tirta amertha demi keselamatan, kesejahteraan, dan kerahayuan,” terangnya.
Sementara itu, Pamelepeh Sasih dimaknai sebagai permohonan keselamatan dalam pergantian bulan, khususnya Sasih Kenem yang dikenal sebagai sasih sakit atau masa pancaroba. Pada periode ini, masyarakat dinilai lebih rentan mengalami gangguan kesehatan seperti batuk, pilek, dan demam. Melalui upacara ini, krama Desa Adat Kuta memohon perlindungan agar terhindar dari wabah penyakit dan marabahaya.
Sebagai bagian akhir dari rangkaian upacara, tirta segara dibagikan kepada seluruh krama Desa Adat Kuta untuk dipercikkan ke wewidangan dan pawongan masing-masing. Ritual ini dimaknai sebagai penyucian wilayah dan manusia, sekaligus penguatan ikatan spiritual antara masyarakat dengan alam semesta.
Upacara Nangluk Merana lan Pecaruan Sasih sendiri berlandaskan tiga konsep dasar ajaran Hindu, yakni Tatwa, Susila, dan Upacara. Ketiga konsep tersebut menekankan pemahaman utuh terhadap makna, tujuan, tata pelaksanaan, serta penentuan tempat upacara sesuai tuntunan sastra, agar pelaksanaan yadnya tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga sarat nilai dan makna. “Melalui upacara ini, kami memohon kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar senantiasa menganugerahkan kerahayuan, menjaga masyarakat dari wabah penyakit dan bencana, serta memberikan keselamatan dan keharmonisan bagi Desa Adat Kuta,” pungkasnya. (BC5)














