balibercerita.com –
Pantai Bingin, Desa Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, perlahan bersiap memasuki babak baru. Kawasan yang selama ini dikenal sebagai salah satu spot surfing favorit wisatawan dunia itu kini tengah ditata serius oleh Pemkab Badung untuk menjadi destinasi wisata unggulan baru di Bali Selatan.
Tak hanya sekadar mempercantik wajah pantai, penataan yang mulai dimatangkan pada 2026 ini juga membawa konsep yang lebih humanis dan berkelanjutan. Pemerintah ingin menghadirkan kawasan wisata yang nyaman, tertata, tetap alami, sekaligus memberi ruang lebih luas bagi para pedagang lokal untuk tumbuh bersama pariwisata.
Saat ini, penataan tahap pertama memasuki proses penyempurnaan detail engineering design (DED) setelah dipaparkan di hadapan Bupati Badung, I Wayan Adi Arnawa dan disosialisasikan kepada masyarakat setempat pada Sabtu (16/5).
Bupati Adi Arnawa menilai, Pantai Bingin memiliki potensi besar menjadi ikon destinasi wisata baru di Kabupaten Badung. Oleh karena itu, ia meminta seluruh proses penataan dilakukan secara matang agar tetap menjaga estetika kawasan sekaligus mampu mengakomodasi kepentingan masyarakat lokal. “Nanti agar tempat itu diupayakan sebisa mungkin dimanfaatkan untuk pedagang. Lebih banyak menampung pedagang tetapi juga tidak meninggalkan estetika kawasan,” ujarnya.
Konsep yang disiapkan pun tidak biasa. Di sisi timur kawasan yang berbatasan dengan tebing, Pemkab Badung menggagas area terasering yang akan dimanfaatkan sebagai lokasi stand atau kedai dengan konsep terbuka menghadap laut. Dari area tersebut, wisatawan nantinya bisa menikmati panorama Pantai Bingin sambil melihat aksi para peselancar menaklukkan ombak.
Tak hanya itu, di depan area kedai juga akan disiapkan ruang santai lengkap dengan long chair agar wisatawan bisa menikmati suasana pantai dengan lebih nyaman. “Jadi, menikmati orang main surfing juga bagus itu,” kata Adi Arnawa.
Suasana kawasan juga akan dipercantik dengan penataan landscape dan pembangunan open stage di area atas pantai. Open stage tersebut nantinya diproyeksikan menjadi ruang pertunjukan seni dan hiburan yang dapat menambah daya tarik wisata Pantai Bingin.
Selain mempercantik kawasan, Pemkab Badung juga mulai mengantisipasi dampak alam, khususnya saat air laut pasang. Salah satu opsi yang tengah dikaji yakni pembangunan revetment atau pelindung pantai guna menjaga keamanan kawasan wisata di masa mendatang.
Mengingat sejumlah perubahan desain dinilai cukup mendasar, proyek penataan Pantai Bingin diperkirakan berlanjut hingga 2027. Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) akan menghitung ulang kebutuhan anggaran agar pembangunan dapat berjalan bertahap dan maksimal.
Kepala Dinas PUPR Kabupaten Badung, I Nyoman Karyasa menjelaskan, tahap awal penataan akan difokuskan pada pembangunan fasilitas dasar untuk menunjang kenyamanan wisatawan. “Di tahap pertama ini akan dilakukan pembangunan akses menuju pantai, utilitas seperti jaringan air, tempat bilas dan toilet, hingga pematangan lahan sebagai persiapan pembangunan fasilitas penunjang seperti kedai berbahan kayu dan stage pertunjukan,” jelasnya.
Akses menuju Pantai Bingin menjadi prioritas utama. Pemkab Badung merancang pembangunan tangga menuju pantai dengan ukuran lebih nyaman dan lebar sekitar tiga meter agar wisatawan lebih mudah menikmati kawasan pantai yang selama ini dikenal sebagai surga surfing dunia tersebut.
Menariknya, konsep penataan tetap mempertahankan nuansa alami Pantai Bingin. Ruang hijau akan diperbanyak dan bangunan dibatasi agar tidak terlihat terlalu masif. Menurut Karyasa, konsep tersebut justru mendapat sambutan positif dari masyarakat saat sosialisasi awal dilakukan. “Satu hal yang ditekankan masyarakat dan memang sesuai konsep kami adalah memperbanyak ruang hijau dan bangunan tidak terlalu massive,” ungkapnya.
Setelah DED rampung, proyek akan masuk tahap tender sebelum pengerjaan fisik dimulai sekitar Juni atau Juli mendatang. (BC5)















