balibercerita.com –
Pertemuan antara musik elektronik, nuansa tradisional, dan seni tari menjadi ciri khas Eternals dalam setiap penampilannya. Berawal dari eksplorasi musik, kelompok ini kemudian berkembang menjadi sebuah ruang berkesenian bernama Sanggar Seni Eternals yang memberikan kesempatan bagi anak-anak dan generasi muda untuk belajar serta mengembangkan kreativitas.
Kisah Eternals dimulai pada Agustus 2024 ketika Gede Teguh Rendra Sanjaya, S.Pd., M.Sos., Gr mencoba mengeksplorasi konsep musik yang menggabungkan karakter elektronik dengan unsur musik tradisi dan modern. Eksplorasi tersebut tidak berhenti dalam bentuk karya musik. Konsep itu kemudian diwujudkan dalam pertunjukan yang menghadirkan musik elektronik, vokal bernuansa tradisional, serta gerakan tari dalam satu panggung.
Format tersebut memberikan warna berbeda dalam penampilan Eternals. Musik elektronik yang identik dengan karakter modern dipadukan dengan elemen tradisi sehingga menghasilkan pertunjukan yang tidak hanya mengandalkan musik, tetapi juga kekuatan visual dari seni tari. “Kami mencoba menghadirkan sesuatu yang berbeda, bagaimana musik elektronik bisa bertemu dengan nuansa tradisional dan penampilan tari dalam satu pertunjukan,” ujar Teguh.
Seiring waktu, Eternals mulai tampil dalam berbagai kegiatan. Undangan untuk mengisi festival, event, hingga kegiatan di lingkungan kampus pun berdatangan. Keterlibatan sejumlah penari dalam pertunjukan turut membuka ketertarikan anak-anak dari luar kelompok untuk ikut bergabung.
Bertambahnya jumlah anak yang terlibat mendorong Teguh mengambil langkah berikutnya. Pada 1 Januari 2025, Eternals resmi dibentuk sebagai komunitas. Kehadiran komunitas ini menjadi wadah untuk mengembangkan aktivitas seni sekaligus melanjutkan eksperimen musik dan pertunjukan yang sebelumnya telah dilakukan.
Perkembangan Eternals kemudian memasuki fase baru ketika kelompok tersebut mendapat kesempatan tampil dalam Festival Seni Bali Jani pada 21 Juli 2026. Pertunjukan itu dapat disaksikan secara langsung oleh penonton maupun melalui siaran langsung.
Penampilan tersebut membawa dampak lebih luas. Setelah menyaksikan pertunjukan, sejumlah orang tua mulai menunjukkan minat untuk mendaftarkan anak-anak mereka agar dapat belajar menari. Antusiasme itu menjadi salah satu alasan Eternals memperluas perannya, dari komunitas yang berfokus pada pertunjukan menjadi wadah pembelajaran seni.
Sekitar satu minggu setelah tampil di Festival Seni Bali Jani, Teguh memutuskan mendirikan Sanggar Seni Eternals. “Setelah tampil di Festival Seni Bali Jani dan ditonton langsung maupun melalui live streaming, banyak yang ingin mendaftarkan anaknya untuk belajar menari. Dari situ saya memutuskan untuk membuat sanggar,” katanya.
Sanggar Seni Eternals dibangun dengan tujuan untuk merawat sekaligus mengembangkan seni tradisi dan modern. Proses berkesenian tidak hanya diarahkan pada penciptaan sebuah pertunjukan, tetapi juga menjadi sarana bagi anak-anak dan generasi muda untuk belajar, berekspresi, mengenal lingkungan, serta membangun interaksi dengan sesama.
“Berkesenian bukan sekadar menghasilkan sesuatu yang indah. Ada proses untuk mengenal diri, memahami lingkungan, menghargai budaya, dan bertumbuh bersama,” ungkap Teguh.
Kegiatan sanggar terbuka bagi anak-anak, remaja, maupun masyarakat yang memiliki ketertarikan terhadap seni. Materi pembelajaran mencakup seni tari dan musik, baik yang bersumber dari tradisi maupun perkembangan seni modern.
Dalam prosesnya, para peserta tidak hanya diperkenalkan pada keterampilan seni. Nilai kedisiplinan, tanggung jawab, kerja sama, serta kecintaan terhadap budaya juga menjadi bagian dari pembelajaran.
Pengalaman di luar ruang latihan turut menjadi bagian penting dalam kegiatan sanggar. Para anggota diberikan kesempatan untuk terlibat dalam pertunjukan, festival, perlombaan, dan berbagai agenda seni lainnya. Pemanfaatan teknologi serta media digital juga dilakukan sebagai sarana untuk memperkenalkan karya kepada khalayak yang lebih luas.
“Kami ingin Eternals menjadi ruang yang terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar dan berkarya. Bukan hanya mengejar penampilan, tetapi juga membangun proses dan pengalaman bersama,” ujarnya.
Ke depan, Sanggar Seni Eternals membuka kemungkinan untuk menjalin kolaborasi dengan sekolah, komunitas, lembaga budaya, maupun berbagai pihak lain yang memiliki perhatian terhadap pengembangan seni dan budaya.
Dengan semangat “berkarya, berproses, dan bertumbuh bersama”, Eternals terus memperluas kiprahnya. Perjalanan yang bermula dari eksplorasi sebuah karya musik religi pada 2024, berlanjut ke berbagai panggung pertunjukan dan festival, hingga akhirnya melahirkan sanggar seni, menjadi bagian dari proses membangun ruang kreatif bagi generasi muda.
Melalui perpaduan musik, tari, serta seni pertunjukan, Eternals berupaya mempertemukan kekayaan tradisi dengan kreativitas masa kini. Dari proses tersebut, mereka berharap dapat terus melahirkan karya sekaligus membuka ruang bagi generasi berikutnya untuk belajar, berkarya, dan meneruskan cerita seni dari satu generasi ke generasi lainnya. (BC10)
















