
balibercerita.com –
Suasana religius terasa kuat di Pura Hulundanu Batur, Desa Adat Songan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Minggu (6/9). Bertepatan dengan Redite Umanis Menail, krama kembali melanjutkan rangkaian Karya Tawur Agung Manca Wali Krama dengan melaksanakan dua prosesi penting yakni ngaturang subhakti watos upakara pakelem dan danu kertih serta mapapada walungan upakara pakelem dan danu kertih.
Kedua prosesi tersebut menjadi bagian dari rangkaian yadnya yang tidak hanya memiliki makna keagamaan, tetapi juga mengandung pesan tentang penghormatan terhadap alam dan upaya menjaga keseimbangan sumber kehidupan.
Ketua umum karya, I Gede Darmawa didampingi ketua pelaksana, Jero Saba saat ditemui, Senin (7/9), menjelaskan bahwa kedua prosesi tersebut merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari rangkaian karya di Pura Hulundanu Batur. Menurutnya, ngaturang subhakti watos memiliki makna bakti dan penghormatan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta seluruh manifestasi-Nya.
Sementara itu, mapapada walungan menjadi tahapan untuk mempersiapkan sekaligus menyelaraskan berbagai upakara yang berkaitan dengan pakelem, danu kertih, dan wana kertih. Upacara di-puput oleh sejumlah sulinggih bersama prajuru adat. Di antaranya Ida Pandita Mpu Istri Wijadaksa Manik Geni dari Griya Agung Giri Lingga Wana, Desa Kerta, Payangan, Gianyar; Ida Pandita Mpu Budha Putra Kanda Daksa Manuaba dari Griya Agung Candra Geni Manuaba, Desa Calo, Tegallalang, Gianyar; serta Ida Pandita Mpu Dharma Wijaya Kusuma dari Griya Agung Wijaya Lingga Kusuma, Desa Juntal, Kubu, Karangasem.
“Selain para pandita, prosesi turut melibatkan Guru Kubayan Desa Adat Songan, Jro Mangku Gede, Jro Putus, Jro Dasaran, Jro Balian, dan Jro Penyarikan sebagai bagian dari unsur pemuput dan pelaksana adat dalam rangkaian karya,” katanya.
Rangkaian yadnya tersebut juga mendapat dukungan dari para pengayah kesenian. Sejumlah sekaa rejang dari Denpasar hadir untuk turut menyemarakkan prosesi, di antaranya Sekaa Rejang ST Srikandi Denpasar, ST Paragotra Sentana Dalem Tarukan Denpasar, dan ST Tunjung Sari Denpasar, serta pementasan wayang kulit.
Dukungan kesenian juga datang dari Kabupaten Bangli melalui Sidakarya Bangli dan Wayang Bangli. Dari Desa Adat Songan sendiri, Sekaa Gong Desa Adat Songan turut mengiringi rangkaian upacara dengan membawakan tabuh sidakarya bersama Pragina Desa Adat Songan. Selain itu, Sekaa Gong Satya Yadnya dan Pregina Desa Satya Yadnya juga mengambil bagian dalam memberikan dukungan terhadap pelaksanaan karya.
Kehadiran sulinggih, prajuru adat, krama, hingga pengayah kesenian menjadi gambaran kuatnya semangat kebersamaan dalam pelaksanaan Karya Tawur Agung Manca Wali Krama. Seluruh unsur tersebut bahu-membahu menjalankan setiap tahapan yadnya dengan penuh rasa tulus dan tanggung jawab.
Lebih dari sekadar ritual keagamaan, rangkaian karya ini menjadi ruang untuk memperkuat sradha dan bhakti sekaligus menjaga nilai gotong royong serta keharmonisan hubungan manusia dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sesama, dan lingkungan. Pesan tersebut semakin kuat melalui pelaksanaan pakelem, danu kertih, dan wana kertih yang mengandung makna pentingnya menjaga keseimbangan alam. Air dan kawasan hutan sebagai sumber kehidupan menjadi bagian yang mendapat perhatian dalam rangkaian yadnya ini.
Dengan semangat yadnya yang dilandasi ketulusan dan keikhlasan, seluruh rangkaian Karya Tawur Agung Manca Wali Krama diharapkan dapat berlangsung lancar serta memberikan kerahayuan, kesejahteraan, dan keharmonisan bagi seluruh krama. (BC13)












