Maha Kopi Bali, Tempat Ngopi Estetik dengan Panorama Persawahan dan Pantai Kelating

0
1
Maha Kopi Bali
Spot nongkrong Maha Kopi Bali di Desa Kelating, Kecamatan Kerambitan, Minggu (30/8). (ist)

balibercerita.com –
Desa Kelating, Kecamatan Kerambitan, Tabanan, mulai memiliki pilihan tempat nongkrong yang menawarkan suasana berbeda. Adalah Maha Kopi Bali yang berlokasi di Jalan Uma Taman, Banjar Dangin Jalan, Desa Kelating. Tempat nongkrong ini memadukan konsep ngopi estetik dengan panorama persawahan dan Pantai Kelating.

Maha Kopi Bali mulai beroperasi sejak Maret 2026. Tempat yang menyasar wisatawan lokal maupun mancanegara ini menawarkan pemandangan alam sebagai daya tarik utama. Dari lokasi tersebut, pengunjung dapat menikmati panorama persawahan, Pantai Kelating, hingga pemandangan matahari terbit dan matahari terbenam.

Owner Maha Kopi Bali, I Dewa Made Maharjana mengatakan, konsep yang diusung sejak awal tidak hanya sekadar membuka usaha kuliner, tetapi turut mendorong Kelating menjadi salah satu tujuan wisata yang memiliki pilihan tempat bersantai bagi wisatawan. “Kelating ini punya potensi. Jangan sampai kita hanya menjadi penonton. Karena itu kami mulai membangun dari desa sendiri,” ujar Maharjana saat melaksanakan open house, Minggu (30/8).

Baca Juga:   GT World Challenge Asia 2026 di Mandalika: Jadwal, Harga Tiket, dan Keseruan Pit Walk GT3 Kelas Dunia

Menurutnya, selama ini sejumlah penghuni vila dan guest house di kawasan Kelating kerap mengeluhkan minimnya tempat makan dan tempat nongkrong. Mereka bahkan harus mencari pilihan kuliner hingga ke kawasan Tanah Lot.

Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan Maha Kopi Bali hadir. Selain menyediakan ruang bagi wisatawan untuk bersantai, usaha ini diharapkan ikut menghidupkan perputaran ekonomi masyarakat desa sekaligus membuka lapangan pekerjaan.

Maha Kopi Bali mengusung perpaduan konsep Bali dengan menu makanan Indonesia dan western food. Komposisi pengunjung saat ini relatif berimbang, yakni sekitar 50 persen wisatawan lokal dan 50 persen wisatawan asing. Ke depan, pengelola berupaya memperkuat pasar wisatawan mancanegara tanpa mengesampingkan wisatawan domestik.

Daya tarik lainnya berada pada bangunan bertingkat yang memungkinkan pengunjung menikmati pemandangan dari ketinggian. Bahkan dari lantai tiga, pada kondisi cuaca cerah, panorama hingga kawasan Bedugul dapat terlihat.

Baca Juga:   Rejuvenasi Peninsula Island Dikebut, ITDC Targetkan Wajah Baru The Nusa Dua Lebih Modern dan Berkelas

Selain area nongkrong, tersedia pula ruang pertemuan dengan kapasitas sekitar 50 orang. Tempat tersebut dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan, mulai dari pertemuan, gathering, hingga acara privat. Pengelola juga tengah mengembangkan Maha Kopi Bali sebagai lokasi wedding party dan berbagai event lainnya.

Suasana malam hari turut menjadi daya tarik. Pengelola menghadirkan musik akustik setiap malam untuk menemani pengunjung menikmati makanan, kopi, dan panorama malam di Kelating. Maharjana mengatakan, perkembangan usaha sejauh ini menunjukkan tren positif. Rata-rata kunjungan disebut mengalami peningkatan sekitar 15 persen setiap bulan.

Melihat potensi tersebut, pengembangan fasilitas dan konsep terus dilakukan agar Maha Kopi Bali tidak hanya menjadi tempat makan dan ngopi, tetapi juga bagian dari pengembangan pariwisata Desa Kelating. “Harapannya ekonomi di desa bisa hidup, lapangan kerja bertambah, dan nama Kelating juga semakin dikenal sebagai salah satu tujuan wisata,” katanya.

Baca Juga:   Swan Paradise A Pramana Experience Perkenalkan Paket “Stay & Play Padel or Tennis”, Liburan Aktif Bernuansa Tropis di Gianyar

Menurut Maharjana, pengembangan pariwisata berbasis desa juga memiliki manfaat sosial. Dengan tersedianya lapangan pekerjaan dan kegiatan ekonomi di desa, masyarakat, khususnya generasi muda, memiliki lebih banyak pilihan untuk bekerja dan berkarya di lingkungan sendiri.

Hal tersebut dinilai turut mendukung keberlanjutan kehidupan adat dan budaya Bali. Anak-anak muda yang bekerja di luar desa sering kali memiliki keterbatasan waktu untuk mengikuti kegiatan adat. Dengan berkembangnya aktivitas ekonomi di desa, diharapkan mereka dapat tetap bekerja sekaligus lebih mudah terlibat dalam kegiatan adat.

“Bukan hanya soal usaha. Kami ingin ikut menjaga desa, menghidupkan ekonomi, membuka lapangan kerja, sekaligus menjaga keberlanjutan adat dan budaya Bali,” tandasnya. (BC13)