Tumpek Uye Uluwatu akan Dikemas Jadi Daya Tarik Wisata

0
1
Tumpek Uye Uluwatu
Wisatawan menyaksikan kawanan monyet yang berebut gebogan saat perayaan Tumpek Uye di DTW Kawasan Luar Pura Luhur Uluwatu. (ist)

balibercerita.com –
Kawanan monyet yang selama ini menjadi salah satu ikon kawasan Uluwatu tak hanya dipandang sebagai penghuni kawasan pura. Keberadaan satwa tersebut juga dinilai ikut menggerakkan pariwisata dan memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat Desa Pecatu. Karena itu, perayaan Tumpek Uye di Uluwatu ke depan ingin dikemas lebih menarik dan inovatif.

Gagasan tersebut disampaikan dalam pelaksanaan Tumpek Uye atau Tumpek Kandang di DTW Kawasan Luar Pura Luhur Uluwatu, Sabtu (5/9). Tradisi memuliakan hewan ini diketahui telah rutin dilaksanakan di Uluwatu selama sekitar 15 tahun.

Pangempon Pura Luhur Uluwatu, I Gusti Ngurah Jaka Pratidnya mengatakan, tradisi tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap hewan, khususnya kawanan monyet yang hidup di kawasan Uluwatu. “Perayaan Tumpek Uye sudah 15 tahun yang lalu kita lakukan seperti ini. Mudah-mudahan ke depannya, saya yakin Jro Mangku Bendesa yang baru akan membawa lebih banyak inovasi,” ujar pria yang akrab disapa Turah Joko ini.

Menurutnya, perhatian terhadap monyet di Uluwatu bukan sekadar bagian dari ritual. Salah satu bentuk nyata yang telah dilakukan adalah menyediakan tempat dan makanan bagi satwa tersebut sebagai implementasi rasa kasih terhadap sesama makhluk hidup.

Baca Juga:   Ketua DPRD Badung Dampingi Bupati Hadiri Karya Mamungkah di Pura Dalem Cedok Waru

Ia berharap perhatian terhadap kebutuhan makanan monyet dapat terus ditingkatkan sehingga keberadaan satwa tersebut tetap terjaga dan tidak menimbulkan persoalan dengan wisatawan. “Harapan kami tentunya monyet-monyet di seputaran Uluwatu lebih bisa jinak. Kepada pengelola juga sudah saya sampaikan, kalau bisa makanannya ditingkatkan,” katanya.

Bendesa Adat Pecatu, Jro Mangku Made Sutama mengatakan, Tumpek Uye merupakan hari suci umat Hindu untuk memuliakan hewan yang memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Di sisi lain, perayaan tersebut juga menjadi momentum untuk memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Siwa Pasupati.

“Tumpek Uye merupakan hari suci agama Hindu untuk memuliakan hewan sebagai potensi yang berperan penting di kehidupan kita para manusia. Di samping itu juga yang paling utama adalah hari ini kita memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa, manifestasinya sebagai Siwa Pasupati,” jelasnya.

Pelaksanaan Tumpek Uye di Uluwatu juga mengacu pada surat Gubernur Bali melalui Dinas Pemajuan Masyarakat Desa, Desa Adat. Perayaan ini dilaksanakan setiap enam bulan sekali.

Baca Juga:   Anom Gumanti Hadiri Upacara Mamungkah dan Ngenteg Linggih di Pura Dadia Pasek Bya Kuta

Khusus di Uluwatu, perhatian utama diberikan kepada kawanan monyet yang menjadi bagian dari kehidupan kawasan Pura Luhur Uluwatu. Keberadaan mereka bahkan dinilai ikut menjadi daya tarik bagi wisatawan mancanegara.

Menurut Jro Mangku Sutama, hal tersebut secara tidak langsung memberikan dampak ekonomi kepada masyarakat Desa Pecatu. Wisatawan datang ke Uluwatu bukan hanya untuk melihat pura dan menikmati panorama, tetapi juga tertarik dengan keberadaan kawanan monyet. “Mereka sangat memberikan satu andil rezeki kepada masyarakat di Pecatu karena merupakan daya tarik wisata mancanegara,” tuturnya.

Melihat potensi tersebut, prajuru adat yang baru berencana membuat inovasi agar Tumpek Uye tidak berhenti sebagai kegiatan rutin setiap enam bulan. Perayaan ini diharapkan bisa dikemas menjadi salah satu daya tarik wisata di Uluwatu.

Salah satu rencana yang disiapkan adalah menambah jumlah gebogan buah untuk monyet. Saat ini terdapat dua gebogan besar. Ke depan, jumlahnya direncanakan bertambah sehingga tujuh kelompok monyet di kawasan tersebut masing-masing bisa mendapatkan bagian. “Seperti sekarang ini ada dua gebogan besar, mungkin nanti kami akan tambahkan lagi lima sehingga benar-benar masing-masing kelompok monyet yang jumlahnya tujuh kelompok ini bisa mendapatkan satu gebogan,” katanya.

Baca Juga:   Ketua TP PKK Badung Buka Lomba Klakat dan Canang Sari di Kerobokan<br>

Konsep pemberian makanan juga akan dibuat lebih tertata. Pihak desa adat berencana membuka ruang bagi masyarakat atau wisatawan yang ingin memberikan punia berupa makanan kepada monyet. Dengan pembagian di beberapa titik, diharapkan monyet tidak saling berebut ketika mendapatkan buah. “Kami akan berupaya semaksimal mungkin mengemas sedemikian rupa sehingga merupakan daya tarik wisatawan ke Uluwatu ini, salah satunya adalah Tumpek Uye itu sendiri,” ujarnya.

Jro Mangku Sutama mengatakan, konsep tersebut masih akan dibahas bersama masyarakat dan prajuru Desa Adat Pecatu. Evaluasi dilakukan agar pelaksanaan Tumpek Uye enam bulan mendatang tidak berjalan monoton. “Kami akan mencoba enam bulan yang lebih baik dari sekarang ini. Kami akan kemas, kami akan mencoba nanti rembug di desa adat apa yang harus kami lakukan, sehingga jangan monoton seperti sekarang ini. Harus kita melakukan inovasi-inovasi yang lebih baik,” pungkasnya. (BC5)