Kamardiyana Gagas Pariwisata Regeneratif untuk Perkuat Ekonomi dan Pelestarian Pejeng

0
11
Pejeng
I Made Kamardiyana. (ist)

balibercerita.com –
Pelestarian budaya dan lingkungan saling memperkuat satu sama lain. Upaya tersebut memerlukan kolaborasi dan pemberdayaan masyarakat agar aktif berpartisipasi. Dari keterlibatan ini, peluang ekonomi dapat tercipta demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Hal tersebut disampaikan oleh tokoh muda Desa Pejeng, I Made Kamardiyana.

Gagasan itu muncul bukan tiba-tiba, melainkan telah diterapkan dan dibuktikannya sejak lama. Kamardiyana yang calon Perbekel Desa Pejeng nomor urut 1 ini menyebut, 16 tahun silam ia mulai merintis kebun organik yang kemudian berkembang hingga menjadi sebuah komunitas bernama Mai Organic. Komunitas yang bermarkas di tanah kelahirannya, Banjar Panglan, Desa Pejeng inilah yang kini banyak bergerak di bidang pelestarian lingkungan dan budaya sekaligus.

Sepak terjangnya di dunia pertanian dan pelestarian lingkungan diganjar penghargaan dari Bupati Gianyar, I Made Mahayastra, dalam ajang Anugerah Citra Karya Raksita 2026, di Alun-alun Kota Gianyar, Minggu (19/4), bertepatan dengan peringatan HUT ke-255 Kota Gianyar. Berkat pengembangan pakan fermentasi berbahan limbah upacara, Kamardiyana meraih penghargaan Citra Karya Raksita 2026 sebagai Terbaik Inovasi Bidang Kelautan dan Perikanan. Pada kategori ini, hanya satu inovator yang terpilih, dan Kamardiyana dinilai unggul dari sisi kematangan konsep hingga pemaparan inovasi.

Baca Juga:   Kunjungan Turis Asing Mulai Menggeliat di Desa Kutuh, Pantai Timbis dan Tanah Barak Jadi Magnet Baru

Kamardiyana percaya kegiatan pelestarian merupakan pintu masuk menciptakan peluang di bidang ekonomi. Ia mencontohkan, saat pelepasliaran jalak Bali, pihaknya melibatkan institusi nasional dan internasional. Mereka datang tidak hanya untuk meliput jalak Bali tetapi juga kekayaan budaya Pejeng. Saat melakukan observasi, peserta yang jumlahnya mencapai ratusan orang itu membutuhkan makanan dan minuman yang dibeli dari warga lokal. Di sinilah peluang ekonomi bagi masyarakat lokal itu muncul.

Baca Juga:   Kuliner Bali Tak Lagi Sekadar Soal Makan, PHRI Dorong Gastronomi Jadi Daya Tarik Wisata

“Kegiatan ini bisa dipakai sebagai ajang promosi untuk pariwisata regeneratif, dimana keberadaan pariwisata bisa menunjang aktivitas pertanian ramah lingkungan. Ketika bisa dikelola dengan baik, kegiatan ini memiliki potensi yang luar biasa untuk kemajuan desa,” kata mantan Kelian Dinas Banjar Panglan ini, Sabtu (5/9).

Demikian halnya ketika pihaknya menjalankan aksi pelestarian mata air (beji). Kegiatan ini memerlukan gotong royong yang tidak hanya melibatkan warga lokal Pejeng, tetapi juga warga luar yang concern terhadap konservasi.

“Sama seperti yang tadi (pelepasliaran jalak Bali) kegiatan ini akan membuka peluang ekonomi karena dalam pelestarian ini kita pasti memerlukan sarana dan prasarana atau paling tidak makan dan minum yang bisa dibeli di warga lokal. Kegiatan ini kalau dipromosikan dengan baik, dapat menjadi daya tarik agar orang berkeinginan datang ke Pejeng,” ucapnya.

Baca Juga:   Nakula Rayakan 13 Tahun dengan Hadirkan Koleksi Vila Besar untuk Musim Liburan di Bali

Lebih lanjut ia menyampaikan, Desa Pejeng sejatinya memiliki potensi besar yang jika dikelola dengan baik akan dapat membuat masyarakat sejahtera. Sektor pertanian yang telah ada sejak zaman nenek moyang diyakininya akan tetap bertahan. Sebagai desa tua, Pejeng punya berbagai peninggalan purbakala dan pura bersejarah sehingga memiliki potensi yang luar biasa untuk dunia pendidikan dan pariwisata.

“Sekarang tinggal bagaimana membuat program yang berkesinambungan, pembangunan multiyears, dan meningkatkan kemampuan dan skill masyarakat. Potensi dan peluang itu sangat besar. Ini yang belum tergali maksimal selama ini. Kemungkinan karena arah kebijakan. Kemungkinan kedua, belum tahu harus mulai dari mana,” kata Kamardiyana. (BC13)