balibercerita.com –
Tingginya minat wisatawan menyaksikan tari kecak di kawasan Luar Pura Uluwatu justru menghadirkan tantangan baru bagi pengelola. Dua sesi pertunjukan yang disiapkan setiap hari sama-sama diminati, namun sebagian besar wisatawan dan travel agent masih menginginkan slot pertunjukan pertama pukul 18.00–19.00 Wita.
Penyarikan Desa Adat Pecatu yang juga mantan Manajer DTW Kawasan Luar Pura Uluwatu, Wayan Wijana mengatakan, kapasitas setiap sesi pertunjukan Kecak mencapai 1.200 penonton. Sesi pertama bahkan disebut hampir selalu penuh. “Kecak itu relatif stabil, bahkan sesi satu dan dua itu full terus. Full-nya 1.200, full capacity 1.200,” ujar Wijana.
Untuk mengakomodasi tingginya permintaan, pengelola telah menerapkan dua sesi pertunjukan. Sesi pertama berlangsung pukul 18.00–19.00 Wita, sedangkan sesi kedua pukul 19.00–20.00 Wita. Namun, persoalan muncul karena permintaan wisatawan dan travel agent lebih banyak tertuju pada sesi pertama. Padahal, sesi kedua masih memiliki kapasitas yang cukup besar dan biasanya mampu menampung sekitar 800–900 penonton.
“Permintaan banyak di sesi satu, jam 6 sampai jam 7. Kita lakukan sesi dua jam 7 sampai jam 8. Itu salah satu solusi untuk memenuhi minat dan keinginan wisatawan untuk nonton Kecak,” jelasnya.
Menurut Wijana, pengelola sebenarnya telah mengatur kuota bagi travel agent yang menjadi mitra maupun wisatawan umum. Informasi ketersediaan juga dipublikasikan melalui media sosial. Persoalannya, distribusi permintaan masih terkonsentrasi pada sesi pertama. “Permasalahan sekarang bagus responsnya, cuma para wisatawan bahkan travel agent keinginannya harus di sesi pertama. Nah, ini yang membuat kita bermasalah,” katanya.
Kondisi tersebut semakin kompleks ketika wisatawan terlambat tiba akibat kepadatan lalu lintas menuju kawasan Uluwatu. Wisatawan yang sebelumnya telah memesan sesi pertama berpotensi datang ketika pertunjukan sesi tersebut sudah berlangsung sehingga harus dialihkan ke sesi berikutnya.
Karena itu, pengelola berharap rencana Pemerintah Kabupaten Badung membuka jalan lingkar dapat membantu mengatasi persoalan akses menuju Uluwatu. Jalur tersebut dinilai dapat memberikan lebih banyak pilihan bagi wisatawan dan travel agent dalam mengatur waktu perjalanan. “Mudah-mudahan dengan adanya rencana Pak Bupati, Pemerintah Kabupaten Badung membuka jalan lingkar, hal ini juga akan bisa menyebabkan para wisatawan, travel agent bisa mengatur waktu lebih baik,” harap Wijana.
Di sisi lain, upaya meningkatkan kenyamanan wisatawan juga dilakukan melalui penyiapan lahan parkir baru. Pemerintah Kabupaten Badung melalui APBD telah menggarap lahan seluas kurang lebih 2,5 hektare untuk menjadi area parkir yang lebih representatif.
Keberadaan parkir yang lebih luas sekaligus diharapkan dapat menjadi bagian dari strategi meningkatkan kunjungan wisatawan domestik ke Uluwatu. “Ini tantangan kita di Uluwatu dengan pemerintah daerah, bagaimana memberikan peningkatan yang signifikan terhadap wisatawan domestik,” ujarnya.
Bagi pengelola, tingginya minat terhadap kecak merupakan hal positif karena pertunjukan tersebut telah menjadi salah satu daya tarik unggulan Uluwatu. Tantangannya kini bukan lagi mendatangkan penonton, melainkan mengatur arus kunjungan agar tingginya permintaan tidak menumpuk pada satu sesi.
“Kalau semuanya meminta di sesi pertama, itu permasalahannya. Kita harus siap di sesi kedua. Kalau sampai sesi kedua tidak ada permasalahan sebenarnya, selalu available, selalu tersedia,” tandasnya. (BC5)














