balibercerita.com –
Populasi monyet di kawasan DTW Kawasan Luar Pura Uluwatu, Pecatu, Badung, kini diperkirakan mencapai sekitar 650 ekor. Meski terus mengalami perkembangan, pertambahan populasi tersebut dinilai masih dalam kondisi yang dapat dikendalikan melalui berbagai upaya pengelolaan.
Penyarikan Desa Adat Pecatu yang juga mantan Manajer DTW Kawasan Luar Pura Uluwatu, Wayan Wijana mengatakan, keberadaan monyet menjadi salah satu daya tarik utama wisata di Uluwatu. Karena itu, pengelolaan populasi dan kesehatan satwa tersebut terus mendapat perhatian. “Populasi monyet saat ini berdasarkan data yang kami terima sekitar 650 ekor. Tentunya masih ada perkembangan, tetapi tidak signifikan karena kami sudah melakukan langkah-langkah atau upaya agar populasinya tidak terlalu melebar, sehingga bisa kami kondisikan dan manajemen dengan baik,” ujar Wijana belum lama ini di Pecatu.
Menurutnya, keberadaan monyet tidak dapat dipisahkan dari daya tarik Uluwatu. Selain panorama alam dan pertunjukan Kecak, monyet menjadi salah satu bagian dari konsep The 5 Beautiful Beauties yang menjadi daya tarik kawasan tersebut. “Seperti yang dikatakan, monyet sebagai daya tarik harus betul-betul kita perhatikan. Tagline kita di Uluwatu adalah The 5 Beautiful Beauties. Salah satunya kera atau monyet, di samping panorama alam, kecak, dan sebagainya,” jelasnya.
Meski perilaku sejumlah monyet terkadang bervariasi, pihaknya tetap optimistis dapat melakukan pengelolaan dengan langkah-langkah terbaik. Salah satunya melalui kegiatan pemberian pakan yang dilakukan secara terkoordinasi.
Setiap Minggu, manajemen menggelar feeding monkey. Wisatawan maupun pengunjung diperbolehkan memberikan makanan kepada monyet, namun kegiatan tersebut dilakukan dengan koordinasi dan pengawasan dari manajemen.
Tak hanya mengatur populasi, kesehatan monyet juga menjadi perhatian. Pemeriksaan dilakukan setidaknya setiap enam bulan, meliputi pemeriksaan taring, kondisi kesehatan hingga pemeriksaan darah. “Kita lakukan perawatan minimal setiap enam bulan. Dicek taring-taringnya, kemudian kesehatannya, cek darah dan sebagainya. Kita juga punya sertifikat bahwa satwa monyet, khususnya di Uluwatu dan Labuan Sait, bebas dari rabies,” ungkapnya.
Dengan adanya pemeriksaan rutin dan sertifikasi tersebut, pihaknya berharap wisatawan tidak perlu terlalu khawatir terhadap keberadaan monyet di kawasan wisata tersebut. Di sisi lain, aspek keselamatan pengunjung juga menjadi perhatian serius pengelola. Terlebih, Uluwatu merupakan kawasan daya tarik wisata yang setiap harinya ramai dikunjungi wisatawan maupun pemedek.
Ia mengatakan, manajemen telah menyiapkan kerja sama dengan rumah sakit maupun klinik terdekat untuk menangani apabila terjadi kecelakaan atau insiden di kawasan DTW, termasuk kejadian yang berkaitan dengan monyet. “Kalau ada kecelakaan, namanya di DTW tentunya kami atensi sangat serius. Sebelumnya dalam manajemen, kami sudah menunjuk rumah sakit yang terdekat. Kami bekerja sama dengan rumah sakit atau klinik terdekat,” katanya.
Penanganan tersebut tidak hanya berlaku bagi insiden yang berkaitan dengan monyet. Kecelakaan kecil maupun kejadian lainnya yang dialami pemedek dan pengunjung juga menjadi perhatian pengelola. Untuk pertolongan awal, pengunjung tidak dibebankan biaya. Manajemen juga menyiapkan ambulans yang siaga selama 24 jam serta tenaga perawat untuk memberikan respons apabila terjadi kondisi darurat.
“Setiap accident atau masalah yang ada kaitannya dengan monyet, walaupun itu bukan dengan monyet, kecelakaan kecil maupun kecelakaan lainnya, baik pemedek maupun pengunjung, kami atensi dan rawat. Perawatan awal gratis, tidak kami bebani biaya apapun karena itu tanggung jawab kami,” tegasnya.
Langkah tersebut diharapkan mampu memberikan perlindungan sekaligus rasa aman dan nyaman bagi wisatawan yang berkunjung ke kawasan Uluwatu, tanpa menghilangkan keberadaan monyet sebagai salah satu daya tarik khas kawasan tersebut. (BC5)













