
balibercerita.com –
Meski Indonesia mulai dipengaruhi kondisi El Nino, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut potensi hujan lebat hingga cuaca ekstrem masih mengintai sejumlah wilayah dalam sepekan ke depan. Fenomena atmosfer seperti Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Kelvin, Rossby Ekuatorial, hingga Mixed Rossby-Gravity (MRG) disebut masih aktif dan berperan besar dalam pembentukan awan hujan di berbagai daerah.
Di sisi lain, cuaca panas juga mulai terasa di sejumlah wilayah Indonesia akibat berkurangnya tutupan awan pada pagi hingga siang hari. BMKG mencatat suhu maksimum mencapai 35 hingga 36 derajat Celcius terjadi di beberapa daerah seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Banten, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Timur hingga Papua Barat selama periode 14–17 Mei 2026.
Kondisi panas tersebut justru memicu pertumbuhan awan konvektif pada sore hingga malam hari yang kemudian berpotensi menimbulkan hujan lebat disertai petir dan angin kencang. BMKG mencatat curah hujan ekstrem masih terjadi di sejumlah daerah, termasuk Jawa Barat mencapai 184,5 mm per hari, Kalimantan Tengah 129,8 mm per hari, Kalimantan Barat 105 mm per hari, hingga Sulawesi Selatan 96,7 mm per hari.
Direktorat Meteorologi Publik BMKG menjelaskan, saat ini kondisi ENSO berada pada kategori El Nino Condition dengan nilai indeks NINO 3.4 sebesar +0,52. Kondisi tersebut sebenarnya cenderung mengurangi pembentukan awan hujan, khususnya di Indonesia bagian timur. Namun, aktivitas MJO yang masih aktif di Samudra Hindia membuat peluang hujan signifikan tetap tinggi di banyak wilayah Indonesia.
Selain itu, aktivitas gelombang atmosfer tropis juga diprediksi masih berlangsung dalam beberapa hari ke depan. Gelombang Kelvin diperkirakan aktif di sebagian besar Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua. Sementara Gelombang Rossby Ekuatorial diprediksi mempengaruhi Jawa Timur, Bali, NTB, NTT hingga Laut Timor. Kondisi ini meningkatkan suplai uap air dan memperbesar peluang terbentuknya awan hujan.
BMKG juga memantau keberadaan sirkulasi siklonik di beberapa wilayah seperti Samudra Hindia barat Sumatra Utara, Laut Jawa bagian timur, dan Samudra Pasifik timur laut Maluku Utara. Fenomena tersebut memicu perlambatan serta pertemuan angin yang dapat meningkatkan potensi hujan intensitas sedang hingga lebat.
Untuk periode 19–21 Mei 2026, BMKG mengingatkan potensi hujan sedang hingga lebat di sejumlah wilayah, termasuk Bali, Jawa Barat, NTB, NTT, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Maluku Utara hingga Papua Pegunungan. Bahkan beberapa wilayah masuk kategori siaga hujan lebat hingga sangat lebat yang berpotensi disertai petir dan angin kencang.
Sementara, pada periode 22–25 Mei 2026, hujan lebat diperkirakan masih berpotensi terjadi di Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan dan Papua Pegunungan. BMKG juga mengingatkan potensi angin kencang di Aceh bagian utara dan Papua Selatan bagian selatan.
Menghadapi kondisi cuaca yang cepat berubah, BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, pohon tumbang, genangan hingga sambaran petir. Masyarakat juga diminta menghindari berteduh di bawah pohon atau baliho saat hujan deras disertai angin kencang.
Selain itu, cuaca panas pada siang hari juga perlu diwaspadai. BMKG mengimbau masyarakat menggunakan pelindung dari paparan sinar matahari dan menjaga kecukupan cairan tubuh agar terhindar dari dehidrasi saat beraktivitas di luar ruangan.
BMKG meminta masyarakat terus memantau perkembangan prakiraan cuaca dan peringatan dini melalui kanal resmi seperti aplikasi InfoBMKG, media sosial @infobmkg, maupun situs resmi BMKG. (BC5)

















