Gugat Stigma Adat Lewat “Panen Anak”, Teater SMA Harapan Denpasar Tampil Memukau di Festival Seni Bali Jani

0
7
Teater SMA Harapan
Kelompok Teater SMA Harapan Denpasar yang membawakan lakon "Panen Anak" pada Festival Seni Bali Jani, Sabtu (18/7). (ist)

balibercerita.com –
Panggung Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII bergemuruh saat lomba teater modern yang digelar pada Sabtu (18/7). Salah satu penampilan yang mencuri perhatian datang dari kelompok Teater SMA Harapan Denpasar yang membawakan lakon “Panen Anak” karya sastrawan Bali, Manik Sukadana. Penampilan para siswa itu berhasil membius penonton hingga mendapat standing ovation sebagai bentuk apresiasi atas kualitas pementasan mereka.

Sutradara Teater SMA Harapan Denpasar, Dede Satria mengatakan, keikutsertaan sekolahnya dalam Festival Seni Bali Jani merupakan bentuk dukungan terhadap ajang yang digagas Pemerintah Provinsi Bali untuk mengembangkan kreativitas generasi muda di bidang seni pertunjukan. “Kebetulan kami mengikuti Festival Seni Bali Jani yang digagas oleh Pemerintah Provinsi Bali. SMA Harapan ikut berpartisipasi dalam Lomba Teater Modern yang digelar hari ini,” ujar Dede.

Menurut Dede, persiapan menuju kompetisi dilakukan selama sekitar satu bulan. Proses tersebut diawali dari pembinaan di ekstrakurikuler teater yang telah rutin berjalan di SMA Harapan. Para siswa terlebih dahulu mengikuti pelatihan dasar teater, kemudian tampil dalam pentas tunggal sebagai bagian dari proses seleksi sebelum dipilih menjadi pemeran dalam lomba.

“Sebenarnya di SMA Harapan sudah ada ekstrakurikuler teater. Sebelum bergabung ke ekstrakurikuler, para siswa terlebih dahulu mengikuti pelatihan dasar teater. Setelah itu kami mengadakan pentas tunggal, lalu memilih aktor-aktor terbaik untuk mewakili sekolah pada lomba kali ini. Persiapan khusus menuju festival ini berlangsung sekitar satu bulan,” jelasnya.

Baca Juga:   Tak Semua Laporan Terbukti! Panitia Luruskan Dugaan Pelanggaran Lomba Ogoh-ogoh di Badung

Dalam pementasan tersebut, SMA Harapan mengangkat lakon “Panen Anak” yang mengangkat persoalan sosial di tengah kehidupan masyarakat Bali. Naskah karya Manik Sukadana itu mengajak penonton merefleksikan berbagai stigma dan tekanan sosial yang masih dialami sebagian masyarakat, terutama terkait tuntutan adat dan keturunan.

“Pada Festival Seni Bali Jani kali ini kami membawakan lakon Panen Anak, karya Manik Sukadana. Dari yang saya pahami bersama teman-teman, naskah ini menceritakan tentang kehidupan masyarakat desa yang sering kali terkekang oleh adat, omongan orang lain, serta berbagai stigma yang berkembang di masyarakat,” ungkapnya.

Ia menambahkan, melalui karya tersebut Manik Sukadana berupaya menyampaikan kritik terhadap cara pandang yang memberikan tekanan berlebihan kepada seseorang dalam menjalani kehidupan. “Melalui naskah ini, Manik Sukadana ingin menggugat cara pandang tersebut. Memiliki anak bukanlah sesuatu yang bisa dipaksakan atau dijadikan tekanan. Namun, dalam kenyataannya masih ada orang tua yang tidak sabar dan terus mendesak anak-anaknya agar segera memberikan cucu,” tuturnya.

Dede menegaskan, pesan utama yang ingin disampaikan dalam pementasan itu adalah pentingnya memaknai adat secara bijaksana tanpa menghilangkan nilai-nilai luhur yang diwariskan. “Pesan moral yang ingin disampaikan adalah bahwa adat tidak harus dimaknai secara kaku. Adat perlu dijalankan dengan bijaksana dan lebih fleksibel. Setiap orang memiliki jalan hidupnya masing-masing. Ke mana pun seseorang pergi, pada akhirnya ia akan tetap kembali kepada akar dan keluarganya,” tutupnya.

Baca Juga:   Sejarah Blahkiuh Dikemas Apik Pementasan Sekaa Gong Wira Agra Kusuma

Sementara itu, salah satu pemeran dalam pementasan, Fellice Danilia mengaku bangga dapat tampil di Festival Seni Bali Jani VIII. Menurutnya, festival tersebut menjadi ruang yang sangat penting bagi generasi muda untuk mengembangkan kemampuan, menampilkan kreativitas, sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap seni dan budaya Bali.

“Saya bangga bisa menjadi bagian dari Festival Seni Bali Jani. Festival ini menjadi wadah yang sangat positif bagi generasi muda untuk mengekspresikan kreativitas dan kemampuan berkesenian,” ujar Fellice.

Ia mengungkapkan, seluruh tim menjalani latihan intensif selama kurang lebih 30 hari agar dapat memberikan penampilan terbaik di hadapan dewan juri dan masyarakat yang hadir. “Kami membutuhkan waktu sekitar 30 hari untuk melakukan persiapan hingga akhirnya mampu tampil maksimal di hadapan dewan juri. Semua proses latihan menjadi pengalaman yang sangat berharga karena mengajarkan kami tentang kerja sama, disiplin, dan totalitas dalam berkarya,” katanya.

Fellice berharap Festival Seni Bali Jani terus diselenggarakan secara berkelanjutan sehingga semakin banyak talenta muda Bali memperoleh kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya. “Saya harap Festival Seni Bali Jani terus menjadi ruang yang mendorong lahirnya talenta-talenta muda di bidang seni dan budaya. Melalui ajang ini, kreativitas generasi muda dapat terus berkembang sekaligus memperkuat upaya pelestarian seni dan budaya Bali di masa depan,” harapnya.

Talenta muda berbakat ini turut menyampaikan pesan kepada generasi muda agar tidak ragu mengembangkan potensi dan bakat yang dimiliki, khususnya di bidang seni dan budaya. Menurutnya, keterlibatan anak muda dalam berbagai kegiatan seni menjadi salah satu cara untuk menjaga identitas budaya Bali sekaligus membangun karakter yang kreatif, disiplin, dan percaya diri.

Baca Juga:   Ketua DPRD Badung Dampingi Bupati Hadiri Puncak Karya Padudusan Agung di Pura Pucak Mangu

“Saya ingin mengajak teman-teman generasi muda Bali untuk jangan ragu berkarya dan berani mencoba hal-hal positif, termasuk di bidang seni. Seni bukan hanya menjadi tempat menyalurkan bakat, tetapi juga cara kita menjaga identitas, budaya, dan warisan leluhur Bali. Semoga semakin banyak anak muda yang mau terlibat, karena di tangan generasi muda inilah seni dan budaya Bali akan terus hidup dan berkembang,” pungkasnya.

Di sisi lain dalam kesempatan yang berbeda, Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Bali, Ny. Putri Suastini Koster menyampaikan apresiasi terhadap pelaksanaan Festival Seni Bali Jani VIII yang dinilai berhasil menghadirkan ruang berekspresi bagi talenta-talenta muda Bali. Menurutnya, kegiatan tersebut layak dikembangkan menjadi festival serupa di tingkat kabupaten/kota agar semakin banyak kreativitas generasi muda yang dapat muncul dari berbagai daerah.

Putri Suastini Koster juga menilai peran Pemerintah Provinsi Bali dalam memfasilitasi kreativitas anak-anak dan generasi muda sangat penting, terutama di tengah pesatnya penggunaan gawai. Melalui kegiatan seni dan budaya seperti Festival Seni Bali Jani, generasi muda tidak hanya memiliki ruang untuk berkegiatan secara positif, tetapi juga terus mengasah bakat, kreativitas, serta memperkuat komitmen dalam melestarikan seni dan budaya Bali bagi generasi mendatang. (BC18)