balibercerita.com –
Di tengah tingginya kunjungan wisatawan ke kawasan Nusa Dua, Bali Collection bersiap menghadirkan wajah baru yang tidak hanya menawarkan pengalaman berbelanja dan bersantap, tetapi juga ruang untuk menikmati kekayaan budaya Indonesia. Kawasan ritel yang telah menjadi salah satu ikon gaya hidup di Nusa Dua itu akan membuka kembali Blok C yang sempat ditutup sejak pandemi Covid-19 dengan konsep baru bertajuk Indonesia Heritage.
Nilai investasi disiapkan sekitar Rp40 miliar hingga Rp50 miliar untuk menata ulang area seluas 1,8 hektare tersebut menjadi destinasi yang menggabungkan budaya, kuliner Nusantara, ruang hijau, serta wahana ramah keluarga.
GM Commercial Properties PT Jakarta Setiabudi Internasional Tbk, Stella Kohdong menjelaskan, Bali Collection memiliki total luas area 8,1 hektare yang terbagi menjadi tiga kawasan, yakni blok A, B, dan C, dengan total area bersih yang dapat disewakan mencapai 25.931 meter persegi. Saat ini, blok A dan B telah beroperasi dengan tingkat okupansi mencapai 100 persen. Kondisi tersebut menjadi alasan kuat bagi manajemen untuk kembali menghidupkan blok C yang memiliki area komersial sekitar 4.600 meter persegi dan sempat ditutup saat pandemi.
“Dulu saat pandemi seluruh tenant di blok C dipindahkan ke blok A dan B. Sekarang A dan B sudah penuh, sehingga kami membuka kembali blok C dengan konsep yang lebih baik dan berbeda,” ujar Stella, Rabu (15/7).
Selama ini, pasar utama Bali Collection didominasi wisatawan internasional yang menginap di hotel-hotel kawasan Nusa Dua dan sekitarnya. Namun, pengembangan Blok C diharapkan mampu memperluas jangkauan pasar dengan menarik lebih banyak wisatawan domestik maupun masyarakat lokal.
Total jumlah pengunjung yang datang ke Bali Collection tahun 2025 mencapai 46.587 orang yang terdiri dari 18.895 penduduk sekitar, 10.210 karyawan hotel, 10.720 tamu hotel, dan 6.762 wisatawan. Sementara itu, rata-rata kunjungan harian saat ini mencapai sekitar 6.409 orang. Melihat potensi itu pihaknya ingin menghadirkan sesuatu yang berbeda dan melengkapi yang sudah ada di blok A dan B.
Bali Collection merancang blok C sebagai kawasan yang menghadirkan pengalaman berbeda dari area yang sudah ada. Jika blok A dan B selama ini dikenal dengan ragam tenant dan pilihan kuliner internasional, maka blok C akan tampil sebagai etalase budaya Indonesia. Konsep yang diusung adalah “Indonesia Heritage that Showcases Local Culture” dengan menghadirkan perpaduan dine, shop, play and culture.
Pengunjung nantinya tidak hanya dapat menikmati kuliner Nusantara dan produk UMKM dari berbagai daerah, tetapi juga merasakan suasana budaya Indonesia melalui berbagai aktivitas dan pertunjukan yang akan dihadirkan. “Kalau di sini campur, di sana kami ingin menampilkan keindahan Indonesia. Bali, Sulawesi, Kalimantan dan daerah lainnya. Baik dari sisi makanan maupun UMKM. Tentunya dengan harga yang lebih terjangkau dan ramah bagi pasar lokal serta wisatawan domestik,” jelas Stella.
Konsep tersebut juga dirancang agar tidak menimbulkan persaingan langsung dengan tenant yang sudah ada di blok A dan B. Sebaliknya, blok C diharapkan menjadi pelengkap yang memperkaya pengalaman pengunjung saat berada di Bali Collection.
Selain menghadirkan identitas budaya Indonesia yang kuat, kawasan ini juga akan mempertahankan karakter alami yang telah dimiliki sejak awal. Banyaknya pohon besar yang tumbuh di area blok C akan menjadi bagian utama dari penataan kawasan. Area tersebut akan disulap menjadi taman hijau yang asri dengan tambahan bunga, ruang terbuka, dan lanskap yang lebih tertata sehingga menghadirkan suasana natural yang nyaman untuk keluarga.
Untuk merealisasikan konsep tersebut, Bali Collection menggandeng konsultan asal Singapura, Siura dalam proses perencanaan kawasan. Fokus utama pengembangan bukan pada pembangunan gedung baru, melainkan penataan ulang lanskap dan ruang terbuka. “Yang kami lakukan bukan membangun dari nol, tetapi menata yang sudah ada. Fokusnya pada landscape, tanaman, ruang hijau dan pengalaman pengunjung,” ujarnya.
Nuansa ramah keluarga juga akan diperkuat melalui kehadiran fasilitas bermain yang lebih lengkap. Jika selama ini area blok A dan B hanya memiliki wahana sederhana seperti ayunan, maka blok C akan menghadirkan playground dengan konsep yang lebih menarik dan interaktif.
Optimisme terhadap pengembangan kawasan ini semakin menguat setelah digelarnya tenant gathering yang mempertemukan tenant lama maupun calon tenant baru. Respons yang diterima manajemen disebut sangat positif. Dari total 4.600 meter persegi area komersil di blok C yang tersedia, sebagian sudah dipesan dan dibayar. Kepercayaan tenant terhadap Bali Collection menjadi modal penting, mereka sudah melewati berbagai fase bersama, mulai sebelum pandemi, saat pandemi hingga saat ini.
Stella menambahkan, konsep Indonesia Heritage tidak hanya ditujukan untuk menarik pasar domestik. Kehadiran UMKM dan produk-produk khas Nusantara juga diharapkan menjadi sarana memperkenalkan budaya Indonesia kepada wisatawan internasional yang berkunjung ke Bali.
“Kalau di blok C ini bukan masalah lokal saja, tetapi lebih ke Indonesia. UMKM Indonesia akan lebih banyak masuk. Kami ingin menampilkan beauty of Indonesia, baik dari Bali, Sulawesi, Kalimantan maupun daerah lainnya. Makanan dan produknya juga akan lebih terjangkau sehingga lebih ramah untuk pasar lokal dan domestik, sekaligus menjadi sarana memperkenalkan budaya Indonesia kepada wisatawan internasional,” jelasnya.
Pekerjaan penataan lanskap dijadwalkan dimulai pada Agustus hingga September 2026. Jika berjalan sesuai rencana, blok C akan mulai beroperasi pada kuartal pertama 2027. “Kami ingin Bali Collection tidak hanya menjadi destinasi wisata belanja dan kuliner bagi wisatawan internasional, tetapi juga menjadi tempat yang menarik dan terjangkau bagi wisatawan domestik serta masyarakat lokal,” kata Stella.
Head of Property Bali Collection, Robert Aditya Pramana menambahkan, perubahan tren pengunjung yang terjadi pascapandemi juga menjadi salah satu alasan pengembangan kawasan ini. Sebelum pandemi sekitar 90 persen pengunjung Bali Collection merupakan wisatawan internasional yang datang dari hotel-hotel di sekitar kawasan Nusa Dua. Namun setelah pandemi, komposisi tersebut mulai berubah. Persentase wisatawan domestik meningkat cukup signifikan, dari sebelumnya hanya sekitar 10 persen menjadi 30 persen saat ini.
Menurut Robert, peningkatan tersebut tidak terlepas dari berbagai program yang terus dikembangkan Bali Collection, termasuk wahana budaya seperti Jagi serta beragam event yang tidak hanya menyasar wisatawan mancanegara. Selain itu, dukungan hotel-hotel di sekitar kawasan, termasuk dari wilayah Jimbaran yang mulai membawa tamunya berkunjung ke Bali Collection, turut berkontribusi terhadap peningkatan jumlah pengunjung. Kehadiran beach club dan berbagai fasilitas pendukung lainnya juga semakin memperkaya pengalaman wisata yang ditawarkan.
Ke depan, Bali Collection akan terus berupaya memperluas segmen pasar melalui berbagai inovasi dan kegiatan yang relevan dengan kebutuhan pengunjung. “Kami akan terus mencoba menghadirkan event-event baru, membuka peluang outlet baru, mengadopsi konsep yang berhasil di tempat lain, serta menyesuaikan dengan kebutuhan tamu yang datang ke Bali Collection,” ujar Robert. (BC5)















