
Jakarta, balibercerita.com –
Ketika Evi, perajin tanah liat asal Klaten, memulai usahanya, tak terbayang bahwa produknya suatu hari akan dipasarkan hingga ke Prancis. Namun berkat dukungan pembiayaan dari Amartha, transformasi itu menjadi nyata.
Kini, cerita seperti Evi akan semakin banyak, menyusul masuknya pendanaan internasional sebesar USD 55 juta untuk mendukung perempuan pelaku UMKM di desa-desa Indonesia. Pendanaan ini datang dari tiga lembaga keuangan pembangunan asal Eropa: Swedfund (Swedia), Finnfund (Finlandia), dan BIO (Belgia).
Dana tersebut merupakan bagian dari fasilitas sindikasi senilai USD 199 juta yang dipimpin oleh International Finance Corporation (IFC). Seluruhnya akan disalurkan untuk memperluas akses keuangan yang adil dan berkelanjutan bagi perempuan di sektor informal.
“Kami percaya perempuan di desa punya potensi besar yang selama ini belum sepenuhnya terakses. Investasi ini adalah bentuk kepercayaan dunia terhadap kekuatan ekonomi akar rumput di Indonesia,” ujar Andi Taufan Garuda Putra, Founder & CEO Amartha.
Data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Februari 2025 menunjukkan bahwa kredit kepada UMKM hanya tumbuh 2,1 persen secara tahunan, angka yang mengindikasikan stagnasi. Padahal, perempuan di sektor informal merupakan tulang punggung penggerak ekonomi lokal. Namun, mereka sering terpinggirkan dalam akses ke layanan perbankan formal.
Jane Niedra, Direktur Investasi Inklusi Keuangan di Swedfund, menyebut bahwa investasi ini akan mendukung pembiayaan yang bertanggung jawab dan inklusif. “Kami ingin mendorong stabilitas ekonomi dengan memberdayakan perempuan di desa. Mereka bukan hanya penerima manfaat, tapi juga agen perubahan,” tuturnya.
Inisiatif ini turut didukung oleh teknologi yang dikembangkan Amartha, seperti aplikasi AmarthaFin, yang memungkinkan perempuan nasabah saling mendukung secara finansial sebagai pemberi pinjaman mikro. “Melalui model ini, kami ciptakan sirkulasi ekonomi lokal berbasis solidaritas,” tambah Ulla-Maija Rantapuska dari Finnfund.
Sementara itu, BIO menekankan pentingnya layanan keuangan digital di wilayah terpencil. CEO Joris Totté menegaskan, pembayaran digital dan e-wallet adalah jembatan menuju inklusi keuangan sejati.
Amartha, yang telah melayani lebih dari 3,3 juta UMKM sejak 2010, baru-baru ini juga menjadi tuan rumah Asia Grassroots Forum 2025, ajang yang mempertemukan pelaku ekonomi akar rumput dengan investor global. “Selama 15 tahun terakhir, kami belajar bahwa teknologi saja tidak cukup. Harus ada pemahaman mendalam terhadap karakter masyarakat yang dilayani,” tutup Taufan.
Lewat investasi ini, Amartha tidak hanya menyalurkan dana, tapi juga membuka peluang dan mengangkat suara perempuan desa agar mereka berdiri sejajar dalam perekonomian digital yang terus berkembang. (BC5)
















