Undiksha Kembangkan Teknologi AR untuk Perkuat Wisata Edukasi Berkelanjutan di Desa Penglipuran

0
13
Penglipuran
Desa Wisata Penglipuran. (ist)

balibercerita.com –
Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) terus mendorong inovasi dalam pengembangan pariwisata berbasis teknologi. Salah satu upaya yang dilakukan adalah merancang konsep smart sustainable edutourism berbasis augmented reality (AR) untuk mendukung pengelolaan Desa Wisata Penglipuran, Kabupaten Bangli, sebagai destinasi wisata budaya yang semakin edukatif dan berkelanjutan.

Selama ini, Desa Wisata Penglipuran dikenal luas sebagai salah satu ikon wisata budaya Indonesia berkat keaslian tata ruang desa, arsitektur tradisional yang tetap terpelihara, serta komitmen masyarakat dalam menjaga nilai-nilai adat dan budaya. Di tengah perkembangan teknologi digital, desa ini juga terus beradaptasi dengan menghadirkan inovasi yang tetap berpijak pada pelestarian warisan budaya.

Menjawab kebutuhan tersebut, tim peneliti Undiksha mengembangkan sistem digital yang memanfaatkan teknologi AR untuk memperkaya pengalaman wisatawan saat berkunjung. Program ini merupakan bagian dari Program Bestari Saintek yang memperoleh pendanaan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Saat ini, pengembangan sistem telah memasuki tahap penyempurnaan sebelum diterapkan dan diuji langsung di lapangan.

Baca Juga:   Meriahkan Peringatan Dies Natalis ke-44, Universitas Dwijendra Gelar Pergelaran Budaya Nusantara 

Sebagai bagian dari proses pengembangan, tim peneliti menyelenggarakan focus group discussion (FGD) validasi produk penelitian di kampus Undiksha, Singaraja. Forum tersebut mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari Dinas Pariwisata, pengelola Desa Wisata Penglipuran, Ketua Sekaa Teruna Teruni (Yowana) Desa Penglipuran, hingga tim peneliti, guna memberikan masukan terhadap penyempurnaan sistem.

Ketua Tim Peneliti, Prof. Dr. I Wayan Lasmawan, Senin (20/7), menjelaskan bahwa teknologi AR akan memberikan akses informasi digital secara interaktif pada berbagai objek wisata. Melalui pemindaian QR code atau titik lokasi tertentu menggunakan telepon pintar, wisatawan dapat menikmati beragam konten, seperti model tiga dimensi (3D), animasi, narasi sejarah, audio, video, hingga informasi mengenai budaya dan kearifan lokal.

Baca Juga:   Pemerintah Daerah Didorong Garap Potensi Sport Tourism

“Melalui teknologi ini, wisatawan tidak hanya berkunjung, tetapi juga memperoleh pengalaman belajar yang lebih interaktif mengenai sejarah, arsitektur tradisional, filosofi, serta nilai-nilai budaya yang hidup di Desa Penglipuran. Kami ingin menghadirkan model pengelolaan destinasi yang mampu mengintegrasikan inovasi digital dengan pelestarian budaya secara berkelanjutan,” ujarnya.

Anggota tim peneliti, I Wayan Pardi, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa sistem tersebut dilengkapi berbagai fitur, mulai dari QR marker pada objek budaya, dashboard pemantauan kepadatan pengunjung, peta wisata interaktif, katalog digital UMKM berbasis narasi budaya, hingga media edukasi digital yang membantu interpretasi destinasi. “Seluruh fitur dirancang untuk mendukung pengelolaan destinasi yang lebih efektif sekaligus meningkatkan kualitas layanan informasi kepada wisatawan,” jelasnya.

Baca Juga:   Semarak Liburan Dimulai dari Bandara: Cerita Keceriaan Musim Panas di Ngurah Rai

Inovasi yang dikembangkan Undiksha mendapat respons positif dari pengelola Desa Wisata Penglipuran. General Manager Pengelola Desa Wisata Penglipuran, I Wayan Sumiarsa menilai konsep tersebut selaras dengan arah pengembangan desa wisata yang mengombinasikan pemanfaatan teknologi digital dan pelestarian budaya sebagai fondasi utama.

“Sistem ini memiliki potensi besar untuk meningkatkan pengalaman wisatawan sekaligus membantu pengelola dalam mengambil keputusan berbasis data. Kami berharap implementasinya dapat semakin memperkuat daya saing Penglipuran sebagai destinasi wisata budaya berkelas dunia,” ungkapnya. (BC13)