Fenomena Bulan Baru dan Pasang Maksimum, Begini Penjelasan Ilmiahnya

0
158
Pasang
Suasana Pantai Tanjung Benoa. Masyarakat pesisir diimbau mewaspadai potensi pasang maksimum air laut. (ist)

balibercerita.com –
Dalam beberapa hari ke depan, masyarakat pesisir Bali diimbau waspada terhadap potensi pasang maksimum air laut yang diperkirakan terjadi antara 21 hingga 25 Oktober 2025. Peringatan ini disampaikan oleh Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar, menyusul adanya fenomena fase bulan baru atau new moon yang dikenal dapat memengaruhi tinggi permukaan laut.

Kepala BBMKG Wilayah III Denpasar, Cahyo Nugroho menjelaskan bahwa tujuh wilayah di Bali berpotensi mengalami dampak pasang maksimum, yakni pesisir selatan Jembrana, Tabanan, Badung, Denpasar, Gianyar, Klungkung, dan Karangasem. “Fase bulan baru pada 21 Oktober 2025 berpotensi meningkatkan ketinggian air laut di sejumlah daerah pesisir Bali,” ujarnya, Rabu (22/10).

Baca Juga:   Bupati Adi Arnawa Terima Entry Meeting BPK Perwakilan Bali

Menurut Prakirawan BBMKG, I Wayan Wirata, fenomena ini merupakan bagian dari siklus pasang surut (tides) yang secara alami dipengaruhi oleh gaya gravitasi bulan dan matahari terhadap bumi. “Pada saat fase bulan baru, posisi bulan berada di antara bumi dan matahari. Keduanya sejajar, sehingga gaya tarik gravitasi bulan dan matahari bekerja ke arah yang sama. Inilah yang menyebabkan air laut tertarik lebih kuat, sehingga terjadi pasang maksimum,” jelasnya.

Baca Juga:   Wujudkan Ketahanan Pangan di Desa Ubung Kaja

Wirata menambahkan, saat gaya gravitasi tersebut berpadu, perbedaan antara pasang dan surut menjadi lebih besar dari biasanya. Kondisi ini juga memengaruhi kekuatan gelombang laut di pesisir.

“Gelombang bisa lebih tinggi karena energi yang bekerja pada massa air laut meningkat. Akibatnya, ombak yang mencapai pantai terasa lebih kuat dibanding hari-hari biasa,” katanya.

Berdasarkan hasil pemodelan tiga hari ke depan, gelombang laut di perairan utara Bali berkisar 0,5–1,25 meter, sedangkan di perairan selatan Bali 1,0–2,5 meter. Meski masih tergolong aman untuk aktivitas pelayaran kecil, masyarakat diimbau tetap berhati-hati, terutama di area pelabuhan dan pantai rendah yang rentan tergenang. “Fenomena ini alami dan terjadi setiap bulan, namun penting untuk memahami mekanismenya agar masyarakat bisa lebih siap dan tidak panik,” tutur Wirata.

Baca Juga:   Sekda Adi Arnawa Buka Lomba Porsenides Desa Sembung Tahun 2023

Selain meningkatkan kewaspadaan, BMKG juga mendorong masyarakat untuk mengenali siklus pasang surut laut sebagai bagian dari literasi kebencanaan. Dengan memahami sains di balik fenomena alam seperti fase bulan baru, masyarakat dapat lebih bijak dalam menyesuaikan aktivitas pesisir, termasuk perikanan, tambak, dan wisata laut. (BC5)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini