Sakralnya Tari Daa Malom Desa Adat Ngis, Simbol Keagungan Wanita dan Kesuburan

0
2
Daa Malom
Dua gadis cilik penari Daa Malom. (ist)

balibercerita.com –
Di balik kekayaan budaya Bali, Desa Adat Ngis, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem, memiliki sebuah warisan sakral yang masih terjaga hingga kini yakni tari Daa Malom. Tarian yang diwariskan secara turun-temurun ini bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan bagian penting dari ritual suci Ngusaba Puseh yang hanya dipentaskan setahun sekali saat Purnama Sasih Kasa Nemu Kajeng pada musim kemarau.

Bagi masyarakat Desa Adat Ngis, Tari Daa Malom merupakan ungkapan rasa syukur sekaligus doa kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar desa senantiasa dianugerahi kesuburan, kemakmuran, dan keharmonisan. Hal ini erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat yang sebagian besar menggantungkan hidup dari sektor pertanian.

Secara etimologi, nama Daa Malom berasal dari dua kata, yaitu Daa yang berarti perempuan atau wanita, serta Malom yang bermakna hijau subur atau kesuburan. Dengan demikian, tari Daa Malom melambangkan perempuan sebagai simbol kesuburan dan kehidupan.

Keunikan tari ini juga terlihat dari para penarinya. Daa Malom hanya dibawakan oleh dua gadis yang masih suci. Keduanya melambangkan purusa (laki-laki) dan pradana (perempuan) sebagai simbol keseimbangan kehidupan.

Baca Juga:   Ritual Mapag Toya, Sekda Badung Mulang Pakelem di Danau Beratan

Pemilihan penari dilakukan dengan persyaratan yang sangat ketat. Penari tidak boleh berasal dari keluarga pangelingsir desa, belum mengalami menstruasi, tidak memiliki cacat tubuh maupun bekas luka, serta tidak pernah digigit anjing. Seluruh ketentuan tersebut telah diwariskan secara turun-temurun sebagai bagian dari tradisi yang dihormati masyarakat.

Selain pemilihan penarinya, tari ini juga memiliki keunikan pada tata rias dan busana. Rias wajah dibuat sangat sederhana tanpa menggunakan kosmetik seperti tari Bali pada umumnya. Penari hanya mengenakan boreh yang dioleskan menggunakan batang sirih membentuk simbol tapak dara di bagian bahu dan tubuh.

Sementara itu, busana yang dikenakan tergolong rumit dan sakral karena merupakan warisan leluhur. Penari mengenakan gelung dari kulit bambu yang dihiasi berbagai bunga tanpa sari, kain tenun lokal atau kain bebali, sinjang, wastra, anteng, pepekek, oncer, lamak, serta berbagai aksesori berbahan perak seperti gelang dan cincin. Salah satu ciri khasnya, kain harus menutupi kedua kaki sehingga kaki penari tidak boleh terlihat selama pementasan berlangsung.

Baca Juga:   Gong Kebyar Duta Tabanan Tampil Memukau di PKB 

Prosesi diawali dengan penyucian diri di Beji Kangin, kemudian penari berhias di Pura Jro Pasek sambil mempelajari gerakan yang akan dipentaskan. Setelah itu dilanjutkan prosesi mendak tirta, memasuki Pura Puseh dengan iringan gamelan selonding berlaras pelog saih pitu yang memainkan Tabuh Daa.

Di dalam Pura Puseh, penari menampilkan sejumlah gerakan sakral seperti amusti karana, sembah Tri Kona, hingga gerakan tangan yang menggambarkan kuncup bunga kemudian mekar. Pementasan berlangsung di halaman Bale Agung Pura Puseh sebagai puncak rangkaian upacara Ngusaba Puseh.

Tidak hanya memiliki nilai religius, tari Daa Malom juga mengandung fungsi sosial yang mempererat persatuan masyarakat Desa Adat Ngis. Seluruh warga diwajibkan terlibat dalam pelaksanaan upacara sehingga tradisi ini menjadi media memperkuat rasa kebersamaan dan gotong royong.

Di sisi lain, tarian ini juga dipercaya membawa ketenangan dan keharmonisan bagi masyarakat, sekaligus memiliki nilai estetika tinggi melalui keindahan gerak, tata busana, dan iringan musik tradisional yang mengiringinya. Makna yang terkandung dalam tari Daa Malom berlandaskan filosofi Tri Hita Karana, yaitu menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan (parahyangan), sesama manusia (pawongan), serta alam (palemahan). Masyarakat juga memaknai kedua penari sebagai simbol dewa dan dewi yang turun ke bumi untuk menyucikan sekaligus memuliakan jalannya upacara.

Baca Juga:   Ribuan Warga Kayuselem Gwasong Padati Giri Nata Mandala, Mahasabha VII Perkuat Pasemetonan “Bermatadara”

Lebih dari sekadar tarian, Daa Malom menjadi media pendidikan nilai-nilai tattwa, etika, dan upacara. Seluruh aturan mengenai penari maupun prosesi diwariskan secara lisan sebagai bagian dari awig-awig yang tetap dijaga hingga saat ini. Di tengah perkembangan zaman, tari ini tetap menjadi identitas budaya yang memperlihatkan kuatnya komitmen masyarakat Desa Adat Ngis dalam menjaga warisan leluhur. Kesakralan, filosofi, dan nilai-nilai kehidupan yang terkandung di dalamnya menjadikan tarian ini sebagai salah satu kekayaan budaya Bali yang patut terus dilestarikan. (BC5)