Seniman Lokal Rancang Patulangan Singa Agung, Ukur Tubuh Kucing untuk Dapatkan Proporsi Ideal

0
248
Singa agung
I Komang Warsa berfoto dengan patulangan singa agung. (ist)

Amlapura, balibercerita.com –
Sebuah karya seni monumental hadir dalam prosesi ngaben massal gabungan enam dadia warga Sira Arya Gajah Para dan Getas (AGPAG), Desa Adat Angantelu, Kecamatan Manggis, Karangasem, Jumat (4/7). Prosesi sakral ini dimeriahkan oleh dua sarana pengabenen istimewa yaitu wadah bade tumpang sembilan dan patulangan berbentuk singa raksasa berwarna merah. Keduanya merupakan hasil karya seniman lokal.

Wadah bade dirancang oleh Kadek Erik, sementara patulangan singa dikerjakan oleh I Komang Warsa, seorang seniman otodidak lulusan SMP yang dikenal berani bereksperimen. Warsa mengaku ini adalah pengalaman pertamanya membuat patulangan berbentuk singa, meskipun ia sebelumnya pernah membuat ogoh-ogoh dan patulangan gajah mina.

Baca Juga:   Prodi Doktor Kajian Budaya FIB Unud Gelar PKM di Museum Pendet

“Saya tahu, karya ini akan ditonton banyak orang. Artinya, tanpa disadari mereka menjadi juri. Jadi, saya harus benar-benar memikirkan proporsinya,” ujar Warsa saat ditemui di sela prosesi ngaben.

Uniknya, untuk mendapatkan bentuk tubuh singa yang proporsional, Warsa menggunakan metode yang tak lazim yaitu mengukur kucing peliharaannya di rumah. Ia memperhatikan panjang kaki, badan, hingga leher si kucing untuk kemudian dijadikan acuan dalam merancang tubuh singa.

“Dari situ saya dapat gambaran, misalnya panjang kaki itu setengah dari panjang badan. Leher juga harus seimbang dengan kepala. Karena seringkali karya dinilai hanya dari proporsi. Kalau kaki terlalu pendek atau leher kepanjangan, langsung dikritik,” jelasnya.

Baca Juga:   Desa Adat Kuta Buat Perarem Penguatan Pengawasan Usaha Money Changer

Tak hanya dari sisi estetika, Warsa juga memperhitungkan fungsi utama petulangan sebagai wadah pengabenan. Singa yang dibuatnya harus mampu memuat 163 sawa, termasuk 60 berupa tulang, dengan ruang yang cukup luas dan proporsional.

“Panjang tubuh singa ini 6 meter, tinggi 4 meter, diameter perutnya sekitar dua pelukan orang dewasa. Bobotnya hampir 1 ton. Semua saya hitung berdasarkan jumlah sawa, termasuk ruang untuk bebantenan,” tuturnya.

Baca Juga:   Indahnya Toleransi, Palebon Cokorda Pemecutan XI Akan Libatkan Warga Islam Kepaon

Seluruh proses pengerjaan berlangsung selama satu bulan, dibantu beberapa rekan. Bahan yang digunakan pun ramah lingkungan, sesuai filosofi Hindu Bali yang menjaga keseimbangan dengan alam.

Meski tidak menempuh pendidikan seni formal, Warsa percaya bahwa alam adalah guru terbaik. Ia belajar dari pengalaman, pengamatan, dan tentu saja dari darah seni yang mengalir dari leluhurnya. “Semoga karya kami ini bisa menjadi kendaraan suci yang mengantar arwah leluhur menuju alam Brahman,” pungkasnya. (BC5)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini