
balibercerita.com –
Fakultas Brahma Widya Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar menggelar kegiatan Swadhyaya pada Senin (2/2) di Aula Fakultas Brahma Widya, Denpasar. Kegiatan ini mengangkat tema “Penciptaan dalam Mānava Dharmaśāstra” dan membahas pandangan kosmologi Hindu serta relevansinya dalam kehidupan manusia.
Narasumber pertama, Ida Bagus Putu Adnyana, S.Ag., M.Ag., memaparkan konsep penciptaan alam semesta menurut Mānava Dharmaśāstra. Ia menjelaskan bahwa proses penciptaan tidak terjadi secara instan, melainkan melalui tahapan filosofis yang bermula dari kondisi sunyi dan gelap sebagai simbol pra-kehidupan.
“Dalam kondisi ini, realitas masih bersifat laten. Belum ada wujud, belum ada dualitas. Dari sinilah kemudian muncul Hiranyagarbha atau telur emas, sebagai simbol awal mula kehidupan,” jelasnya.
Ia menerangkan bahwa Hiranyagarbha dipahami sebagai wadah kosmis yang melahirkan alam semesta beserta unsur-unsurnya, seperti langit, bumi, ruang, dan kehidupan. Konsep tersebut menunjukkan bahwa alam semesta berasal dari kesadaran ilahi dan memiliki keteraturan yang perlu dijaga.
Narasumber kedua, I Putu Adi Setiawan menyoroti dampak ajaran kosmologi Hindu terhadap perilaku manusia. Menurutnya, ajaran tersebut menegaskan keterhubungan antara manusia, alam, dan seluruh makhluk hidup.
“Manusia, alam, dan kehidupan saling terhubung. Jika satu rusak, yang lain ikut terdampak. Karena itu, kesejahteraan tidak bisa dilihat secara individual, tetapi harus dipahami sebagai kesejahteraan bersama,” ungkapnya.
Ia menambahkan, Mānava Dharmaśāstra memandang tujuan hidup manusia tidak semata-mata berorientasi pada pencapaian materi, melainkan pada pelaksanaan dharma agar tercipta keselarasan dengan tatanan kosmik.
Dalam diskusi, sejumlah isu aktual turut dibahas, mulai dari kerusakan lingkungan, krisis etika, hingga melemahnya tanggung jawab sosial. Para narasumber menilai nilai-nilai dharma tetap relevan untuk menjawab tantangan zaman modern apabila diterapkan secara reflektif dan bertanggung jawab.
Sesi tanya jawab berlangsung aktif dengan berbagai pertanyaan dari peserta, termasuk mengenai tujuan penciptaan alam semesta, tantangan menjalankan dharma di era modern, serta relasi antara agama, hukum, dan keadilan sosial.
Melalui kegiatan ini, Fakultas Brahma Widya mendorong agar kajian kitab suci tidak hanya berhenti pada ranah akademik, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dalam membangun kesadaran etis dan kepedulian terhadap lingkungan. (BC10)














