Negara, balibercerita.com –
Rute penyeberangan Ketapang–Gilimanuk di Selat Bali kembali menjadi sorotan setelah tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya pada 3 Juli 2025 dini hari. Insiden ini menambah panjang daftar kecelakaan laut yang menelan korban jiwa di perairan yang dikenal berbahaya tersebut.
Meskipun jarak tempuhnya relatif singkat, hanya sekitar 5 mil laut atau 30 menit perjalanan Selat Bali menyimpan banyak tantangan. Arus laut yang kuat dan tidak menentu, gelombang tinggi, serta lalu lintas kapal yang padat membuat jalur ini menjadi salah satu yang paling berisiko di Indonesia.
Selat Bali merupakan pertemuan arus laut dari Samudra Hindia dan Laut Jawa. Ini menciptakan arus bawah laut yang kuat, terutama saat pasang surut. Banyak nahkoda kapal harus menerapkan teknik khusus untuk menyebrangi selat ini, seperti mengikuti arus ke hulu atau hilir dermaga dengan mesin dimatikan, lalu menyalakan mesin kembali saat kapal mendekati dermaga.
Gelombang laut juga menjadi ancaman serius. Gelombang setinggi 2–4 meter kerap terjadi, terutama pada musim angin timur. BMKG secara rutin mengeluarkan peringatan dini, namun kondisi cuaca bisa berubah cepat, menyulitkan prediksi di lapangan.
Sebagai jalur penghubung utama antara Pulau Jawa dan Bali, rute Ketapang–Gilimanuk dilalui ratusan kapal feri setiap harinya. Tingginya frekuensi penyeberangan membuat jalur ini sangat padat, dan risiko kecelakaan meningkat drastis jika ada faktor cuaca ekstrem atau gangguan teknis.
Adapun insiden kapal tenggelam di Selat Bali dalam dua dekade terakhir antara lain, KMP Tri Star tenggelam 500 meter dari Pelabuhan Gilimanuk pada 25 Juli 2007. Kapal membawa 43 penumpang, 13 awak, dan 20 kendaraan. Diduga karena cuaca buruk dan kelebihan muatan. KMP Barito Raya tenggelam pada 7 Juli 2009 saat menuju Ketapang. Kapal mengalami kebocoran yang tidak tertangani. Sebagian besar penumpang selamat.
Kemudian, KMP Rafelia II tenggelam 4 Maret 2016. Membawa sekitar 70–80 orang. Kebocoran lambung dan kelebihan muatan menyebabkan kapal miring dan terbalik dalam hitungan menit. Ada 6 orang korban tewas. KMP Yunicee tenggelam pada 29 Juni 2021 saat menunggu sandar di Pelabuhan Gilimanuk karena gelombang tinggi (3–4 m). Sebanyak 7 orang dilaporkan tewas dalam peristiwa itu.
Teranyar, KMP Tunu Pratama Jaya yang tenggelam 25 menit setelah berangkat dari Pelabuhan Ketapang. Membawa 53 penumpang dan 12 kru. Diduga terjadi kebocoran di ruang mesin yang memicu blackout sebelum kapal terbalik. Hingga berita ini diturunkan, laporan menyebutkan 6 orang tewas pada kejadian ini. Sementara, puluhan lainnya masih dalam pencarian.
Rangkaian tragedi ini menunjukkan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap operasional pelayaran di Selat Bali. Pemerintah diharapkan memperketat pengawasan keselamatan kapal, termasuk pemeriksaan teknis, batas muatan, dan sistem komunikasi darurat. (BC5)

















