Genangan Air Berbau di Pantai Berawa Ditangani, Pemdes Minta Drainase Ditata Permanen

0
12
Pantai Berawa
Penanganan darurat setelah munculnya limbah di Pantai Berawa, Desa Tibubeneng, Kuta Utara, Senin (3/8). (BC9)

balibercerita.com

Penanganan darurat mulai dilakukan di kawasan Pantai Berawa, Desa Tibubeneng, Kecamatan Kuta Utara, menyusul viralnya genangan air berbau di muara drainase yang sempat memicu keluhan masyarakat. Manajemen Finns Beach Club mengerahkan alat berat untuk meratakan pasir pantai sekaligus menutup cekungan yang menjadi lokasi tergenangnya air.

Berdasarkan pantauan di lokasi pada Senin (3/8), sebuah ekskavator terlihat bekerja meratakan permukaan pasir serta menambah timbunan di sekitar akses tangga menuju pantai. Langkah tersebut dilakukan agar aliran air dari saluran drainase kembali mengalir langsung ke laut.

Karyawan proyek Finns Beach Club, Samsul Arifin mengatakan, pekerjaan dimulai sejak pagi hari dengan fokus menghilangkan cekungan yang terbentuk akibat abrasi dan cuaca ekstrem dalam beberapa hari terakhir. “Alat berat dikerahkan sejak sekitar pukul 08.00 Wita. Perataan dilakukan supaya tidak ada lagi cekungan yang menampung air dari drainase,” ujar Samsul.

Baca Juga:   Selama 19 Hari, Jumlah Penumpang Naik 56,05 Persen, Pesawat Minus 6,15 Persen

Ia menjelaskan, cekungan tersebut mulai terbentuk sekitar sepekan terakhir setelah ombak besar disertai hujan deras mengikis bibir pantai. Kondisi itu membuat air dari drainase tertahan dan tidak dapat mengalir langsung ke laut.

Menurutnya, meski lokasi yang diperbaiki merupakan fasilitas umum, pihak Finns Beach Club turut membantu penanganan sebagai langkah darurat. Selain meratakan pasir, pembersihan saluran drainase juga dilakukan agar aliran air kembali lancar.

“Sudah sekitar seminggu tidak bisa dilalui air. Setelah ombak besar dan hujan, pasir tergerus sehingga terbentuk cekungan yang dalam. Tadi kami langsung diperintahkan oleh owner untuk tutup genangan,” paparnya.

Sementara itu, Perbekel Tibubeneng, I Made Kamajaya menjelaskan, pemerintah desa selama ini rutin melakukan pemantauan terhadap kondisi lingkungan. Ia menegaskan genangan yang sempat viral bukan hanya dipicu oleh air limbah dari satu pelaku usaha, melainkan juga dipengaruhi kondisi alam yang menghambat aliran drainase menuju laut.

Baca Juga:   Terjebak Pasang Laut di Padang-padang, Dua WNA Dievakuasi Tim SAR

Menurutnya, saat air laut pasang kemudian surut, terbentuk endapan pasir yang menciptakan cekungan di muara drainase. Akibatnya, air dari saluran, termasuk hasil olahan instalasi pengolahan air limbah (ipal) berbagai usaha maupun limbah domestik warga yang telah masuk ke saluran, tertahan selama beberapa hari hingga akhirnya menimbulkan bau.

“Kondisi alam menyebabkan air menggenang karena tidak bisa langsung mengalir ke laut. Ditambah sampah yang terbawa dan dibuang pengunjung, akhirnya muncul bau yang menyengat,” jelasnya.

Sebagai upaya penanganan cepat, pemerintah desa berkoordinasi dengan manajemen Finns Beach Club untuk mengerahkan alat berat membuka kembali jalur aliran air menuju laut serta menutup cekungan menggunakan pasir. Keterlibatan pihak swasta tersebut dilakukan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) sebagai respons atas permintaan pemerintah desa.

Baca Juga:   Puncak Harganas ke-33 di Bali Gaungkan Gerakan "Ayah Wajib Hadir" dan Strategi Baru Tekan Stunting

“Langkah ini sifatnya darurat agar genangan segera hilang. Sekarang air sudah bisa kembali mengalir ke laut dan cekungan yang menyebabkan genangan sudah ditutup. Kalau kewenangan infrastrukturnya tetap pemerintah,” paparnya.

Kamajaya berharap penanganan tidak berhenti pada langkah darurat. Ia meminta Pemerintah Kabupaten Badung melalui instansi teknis segera melakukan pembenahan permanen terhadap sistem drainase di kawasan Pantai Berawa, termasuk penataan saluran pembuangan dan penguatan pengawasan terhadap instalasi pengolahan air limbah milik para pelaku usaha.

“Kami ingin persoalan ini diselesaikan secara menyeluruh. Infrastruktur drainasenya ditata, pengawasan ipal diperketat, sehingga tidak lagi muncul persoalan yang merugikan lingkungan maupun citra pariwisata Berawa,” pungkasnya. (BC9)