balibercerita.com –
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali melalui Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP), menggandeng Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar dalam menggenjot investasi di Pulau Dewata, khususnya di daerah luar Denpasar, Badung, Gianyar, Tabanan (Sarbagita).
UNHI lantas membentuk tim kajian di bawah Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM). Tim kajian yang diketuai Dr. Made Fery Karyada, S.Pd., M.A. serta empat anggota yang merupakan dosen UNHI lintas keilmuan.
Sebagai langkah awal, tim kajian menggelar diskusi, mengundang seluruh pemangku kepentingan di kabupaten/kota, provinsi, pelaku pariwisata, pengusaha serta dua narasumber, ekonom Prof. Dr. IB Raka Suardana, S.E., M.M., serta Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bali, I Made Ariandi, bertempat di Kampus UNHI, Selasa (9/6).
Ketua LPPM UNHI, Dr. Ir. Made Novia Indriani, S.T., M.T. menjelaskan, diskusi ini bertujuan mengumpulkan informasi terkait prioritas pemetaan potensi perekonomian di luar Sarbagita. Pihaknya memiliki waktu tiga bulan menyelesaikan kajian tersebut.
Nantinya, hasil kajian ini tidak sekadar menjadi acuan pemangku kebijakan, namun referensi bagi investor agar tidak ragu-ragu menanamkan modalnya di kawasan Bali Utara, timur, dan tengah. “Jadinya semacam dokumen kelayakan investasi juga,” ujar Novia Indriani.
Novia Indriani melanjutkan, kajian yang dilakukan tim UNHI memiliki karakteristik yang khas yakni memasukkan unsur filosofis dan historis. Sebab, masyarakat Bali meyakini tiap jengkal tanah memiliki taksu tersendiri.
Kajian ini didasari Perda Bali 8/2020, Sad Kerthi, serta Padma Bhuana yang ditulis Cok Ace. “Dalam referensi itu, di Bali ini tiap kabupaten/kota sudah disangga dewa masing-masing. Kami jadikan acuan agar investasi tumbuh tanpa menggerogoti kearifan lokal,” imbuh dia.
Berdasarkan pemetaan awal, pihaknya meyakini daerah luar Sarbagita punya potensi besar untuk dikembangkan, selain sektor pariwisata. Agroindustri dinilai punya prospek tinggi. Disamping itu, pariwisata berbasis desa, khususnya Bali Aga, tidak kalah menariknya.
Kepala DPMPTSP Bali, Dr. I Ketut Sukra Negara, S.Sos., M.Si., memaparkan, sesuai arahan Presiden Prabowo, pertumbuhan ekonomi ditarget 8 persen di tahun 2029. Angka yang menurutnya relatif tinggi sehingga investasi mesti digenjot sebagai salah satu indikator.
Provinsi Bali, lanjut Sukra, tahun ini diberikan target investasi Rp47,8 triliun. Naik dari target tahun sebelumnya sebesar Rp45 triliun dan berhasil direalisasikan sekitar Rp42 triliun. Dengan naiknya target ini, pihaknya memerlukan kolaborasi lintas sektoral, seperti yang dilakukan bersama UNHI.
Dari sisi jenis investasi, masih didominasi sektor tersier [mencakup pariwisata] sebesar 68,33 persen, sekunder (2,04 persen) dan sektor primer (pertanian dalam arti luas] sebesar 0,84 persen. Investor didominasi dari Australia, Singapura, Rusia dan Prancis. Sebaran investasi pun, menumpuk di Sarbagita sebesar 93 persen. Sisanya, 7 persen menyebar di lima kabupaten. “Jadi gap-nya sangat jelas tidak merata,” ungkapnya.
Untuk itu, ia berharap, kajian tim UNHI mampu membantu iklim investasi yang sehat, menjunjung nilai kearifan lokal sesuai visi Gubernur Bali yang bermuara pada kesejahteraan masyarakat. “Kami harap sektor sekunder dan primer ini yang dimaksimalkan,” ujarnya.
Kedua narasumber sepakat bahwa untuk memeratakan perekonomian di Bali diperlukan dukungan infrastruktur. “Kalau infrastruktur sudah bagus, saya yakin investor pasti tertarik. Karena infrastruktur adalah kunci,” kata IB Raka Suardana.
Soal potensi, IB Raka Suardana meyakini tiap kabupaten memiliki kekhasan sendiri yang belum tentu ada di provinsi lain. Hal ini lah sesungguhnya menjadi modal Bali dalam menarik hati investor.
Sementara itu, Made Ariandi mengatakan, pelaku usaha di luar Sarbagita memang masih minim. Dengan adanya upaya awal pemetaan identifikasi sektor unggulan, pengembangan ke depan menjadi lebih mudah.
Ditanya soal apakah regulasi termasuk awig-awig dari desa adat menjadi hambatan investor? Ia dengan tegas menyangkal. Malah ia mendukung regulasi yang kuat agar investasi yang datang berkualitas tinggi. Kadin pun mengaku telah menangkap berbagai potensi yang bisa dikembangkan di seluruh Bali.
Diskusi dibuka oleh Wakil Rektor I UNHI Dr. I Komang Santhyasa, S.T., M.T. Melalui kajian ini, UNHI membuktikan mampu menjadi kampus berdampak. Sebab, menurutnya, tugas perguruan tinggi tidak sebatas mencetak sarjana tapi turut menjadi pemecah masalah dan menghadirkan solusi. (BC18)


















