KUR BRI Bantu Pelaku Usaha Pemindangan di Kusamba Tingkatkan Produksi dan Perluas Usaha

0
6
KUR BRI
Salah satu pelaku usaha pemindangan di Kusamba, Ni Wayan Suitari memanfaatkan kemudahan KUR dari BRI untuk mengembangkan usahanya. (ist)

balibercerita.com –
Aktivitas pemindangan ikan tradisional di Sentra Pemindangan Kusamba, Kabupaten Klungkung, terus bertahan di tengah naiknya biaya operasional dan fluktuasi pasokan ikan. Dukungan tambahan modal melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) turut mendorong pelaku usaha meningkatkan kapasitas produksi hingga ratusan keranjang per hari.

Salah satu pelaku usaha pemindangan, Ni Wayan Suitari mengakui bahwa usaha yang dijalankannya kini mampu memproduksi sekitar 300 keranjang ikan pindang setiap hari. Produksi dilakukan sejak pagi dan umumnya sudah habis diambil pembeli menjelang siang.

Ia menjelaskan, tingginya volume produksi sangat dipengaruhi ketersediaan pasokan ikan dan permintaan pasar. Ikan yang diolah tidak hanya berasal dari Bali, tetapi juga didatangkan dari sejumlah daerah seperti Jawa untuk menjaga keberlangsungan produksi saat pasokan lokal menurun.

Baca Juga:   Harga Sejumlah Komoditas Bahan Pokok di Tabanan Meningkat

Menurutnya, musim paceklik ikan biasanya terjadi pada pertengahan hingga akhir tahun. Dalam kondisi tersebut, pasokan ikan dari luar Bali menjadi penopang utama agar aktivitas pemindangan tetap berjalan.

Suitari telah menjadi nasabah BRI lebih dari satu dekade dan memanfaatkan fasilitas KUR untuk mengembangkan usahanya. Pinjaman yang diperoleh digunakan secara bertahap, mulai dari usaha penjualan keranjang ikan hingga memperluas usaha ke pemindangan dan penjualan garam.

Ia menilai, akses KUR cukup membantu pelaku usaha kecil karena proses pencairannya relatif cepat dengan persyaratan yang mudah. Meski demikian, pihak perbankan tetap melakukan pemantauan rutin terhadap usaha nasabah guna memastikan usaha berjalan aktif.

Dalam aktivitas sehari-hari, pembeli biasanya membawa ikan mentah untuk direbus di lokasi pemindangan. Penghasilan pelaku usaha diperoleh dari jasa perebusan ikan, penjualan garam, hingga penjualan keranjang.

Baca Juga:   ​Sasar Wisman Berkualitas, Bali Didesak Miliki Kebijakan Pariwisata Khusus

Di sisi lain, pelaku usaha juga menghadapi tingginya biaya produksi, terutama kebutuhan garam. Suitari memilih menggunakan garam asal Bima, Nusa Tenggara Barat, karena dinilai lebih cocok untuk proses pemindangan akibat teksturnya yang lebih kasar dan tingkat keasinannya lebih tinggi. Harga garam tersebut mencapai sekitar Rp200 ribu per 50 kilogram. Selain garam, biaya operasional juga bertambah dari kebutuhan perlengkapan produksi seperti kompor berkapasitas besar dan tungku perebusan.

Meski biaya terus meningkat, aktivitas pemindangan di Kusamba tetap berlangsung hampir setiap hari dan menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat pesisir. Sentra tersebut selama ini turut menyuplai kebutuhan ikan pindang ke sejumlah pasar tradisional di Bali serta menyerap tenaga kerja harian.

Baca Juga:   Kinerja Gemilang, Pegadaian Kanwil VII Denpasar Catat Penjualan Emas 334,9 Kg

Sementara itu, Regional CEO BRI Region 17 Denpasar, Hery Noercahya menegaskan dukungan BRI terhadap pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah, termasuk sektor pengolahan hasil perikanan di Bali dan Nusa Tenggara. Menurutnya, melalui penyaluran KUR, BRI terus mendorong peningkatan kapasitas produksi, penguatan modal kerja, hingga pengembangan usaha berkelanjutan bagi pelaku UMKM.

BRI juga menilai sektor perikanan dan pengolahan hasil laut memiliki potensi besar dalam mendukung pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir. Selain pembiayaan, pelaku usaha turut didorong meningkatkan literasi keuangan dan memanfaatkan layanan digital perbankan untuk mendukung efisiensi usaha. (BC13)