balibercerita.com –
Antusiasme masyarakat terhadap Big Bad Wolf (BBW) Bali 2026 langsung terlihat sejak hari pertama penyelenggaraan pada Senin (25/5). Bahkan, sebelum pintu dibuka, ratusan pengunjung sudah memadati lokasi dan mengantre sejak pagi untuk berburu buku dengan harga diskon.
Fenomena menarik terlihat dari sejumlah pengunjung yang sengaja membawa koper kosong untuk menampung buku-buku yang dibeli dalam jumlah besar. Antrian pertama bahkan sudah terbentuk sejak pukul 07.00 Wita, jauh sebelum pameran resmi dibuka.
Salah satu pengunjung, Larisa (31), warga Denpasar, datang bersama anak balitanya untuk mencari buku bacaan. Ia mengaku sudah tiga kali mengunjungi setiap penyelenggaraan Big Bad Wolf di Bali. Menurutnya, daya tarik utama BBW adalah harga buku yang sangat terjangkau, koleksi yang beragam, serta banyaknya pilihan buku berbahasa Inggris yang sulit ditemukan di tempat lain. “Kalau di tempat lain mungkin dapat satu buku, di sini bisa dapat tiga. Apalagi sekarang banyak diskon tambahan, jadi semakin worth it,” ujarnya.
Ia mengaku telah menjadi pelanggan setia sejak masih hamil hingga kini telah memiliki anak. Menyadari tingginya antusiasme masyarakat, Larisa sengaja datang lebih awal agar tidak kehabisan buku incaran. “Saya sudah tahu pasti bakal war, makanya datang pagi. Awalnya mau datang sama suami, tapi mendadak ada pekerjaan,” katanya.
Larisa juga menilai lokasi penyelenggaraan tahun ini lebih nyaman karena memiliki area yang lebih luas dibandingkan tahun sebelumnya. Meski demikian, ia menilai area di lantai tiga memiliki atap yang lebih rendah sehingga terasa lebih panas saat dipadati pengunjung.
Sementara itu, Country Director Big Bad Wolf Books Indonesia, Marthius Wandi Budianto mengaku terkejut sekaligus optimistis melihat sambutan masyarakat Bali terhadap penyelenggaraan tahun ini. Menurutnya, BBW Bali 2026 menjadi momentum spesial karena bertepatan dengan perayaan 10 tahun Big Bad Wolf hadir di Indonesia. “Kami sangat senang bisa kembali ke Bali. Antusiasmenya benar-benar di luar ekspektasi dan luar biasa,” ujarnya.
Marthius menjelaskan, penyelenggaraan tahun lalu berlangsung di area seluas sekitar 1.500 meter persegi di lantai satu dan menjadi salah satu event BBW dengan ukuran terkecil di Indonesia. Tahun ini, luas area pameran meningkat hampir dua kali lipat dengan jumlah buku yang dibawa juga dua kali lebih banyak dibandingkan tahun lalu.
Menariknya, meskipun berbagai biaya operasional mengalami kenaikan, harga buku tetap dipertahankan tanpa penyesuaian.
“Kami ingin menghadirkan pengalaman yang menyenangkan sekaligus memberikan inspirasi melalui buku-buku yang mudah diakses masyarakat,” katanya.
Ia mengaku semakin optimistis melihat tingginya minat masyarakat. Padahal, hari pembukaan berlangsung pada Senin yang biasanya menjadi hari dengan aktivitas kunjungan lebih rendah setelah akhir pekan. “Dari pukul 08.00 pagi sudah banyak pengunjung mengantre sebelum kami buka. Ini sesuatu yang sangat menggembirakan,” ujarnya.
Tahun ini BBW Bali hadir dengan durasi yang lebih panjang, area yang lebih besar, serta koleksi buku yang lebih lengkap. Bahkan, skala penyelenggaraannya kini sudah setara dengan kota-kota besar lain seperti Bandung, Semarang, dan Yogyakarta.
BBW juga tidak membatasi jumlah buku yang dapat dibeli pengunjung. Ia mengungkapkan bahwa masyarakat bahkan bisa menemukan buku dengan harga mulai Rp5.000 hingga Rp10.000. “Kami ingin buku bisa diakses oleh siapa saja. Karena itu kami tidak membatasi jumlah pembelian dan tetap menghadirkan harga yang sangat terjangkau,” jelasnya.
Beragam kalangan terlihat memadati pameran, mulai dari keluarga, ibu rumah tangga, pelajar, remaja hingga perwakilan sekolah dan perpustakaan yang ingin memperbarui koleksi bacaan mereka. Bahkan pada penyelenggaraan sebelumnya, terdapat pembeli yang memborong hingga 200–300 buku sekaligus untuk kebutuhan perpustakaan.
Dengan antusiasme yang terus meningkat, Big Bad Wolf Bali 2026 optimistis mencatat pertumbuhan jumlah pengunjung dan transaksi yang lebih tinggi dibandingkan tahun lalu, sekaligus semakin memperkuat budaya literasi di Pulau Dewata. (BC5)
















