Rendahnya Konsumsi Protein di Indonesia Pengaruhi Imunitas dan Kualitas Hidup

0
228
Protein
Ade Rai (kanan) dan Hans menjelaskan tentang pola makan sehat. (BC5)

Denpasar, balibercerita.com –

Keseimbangan gizi dalam pola makan masyarakat Indonesia perlu ditingkatkan, khususnya mengenai konsumsi protein. Pasalnya, kualitas tubuh sangat ditentukan oleh apa yang dimasukkan ke dalam mulut menyangkut mikronutrisi (karbohidrat, protein dan nutrisi).

Sayangnya, pola makan masyarakat Indonesia masih didominasi oleh karbohidrat olahan dan lemak tidak sehat, sementara konsumsi proteinnya sangat rendah. Hal itu menjadi masalah, karena menyebabkan kualitas dan komposisi tubuh menjadi rendah, serta imunitas lemah.

Menurut mantan binaragawan profesional dan pakar kebugaran, Ade Rai, konsumsi makanan di Indonesia cenderung lebih rendah dibandingkan negara lain, terutama pada kelompok makanan bergizi. Protein sebagai nutrisi berperan besar dalam menyusun hampir semua sel tubuh, termasuk tulang, otot, paru-paru, rambut, hingga kulit. Namun hal ini kurang mendapatkan perhatian serius padahal protein atau protos merupakan hal yang paling utama.

“Ibarat batu bata dalam bangunan. Kalau dibahas pentingnya batu bata pada gedung, maka ini akan runtuh tanpa batu bata. Artinya, badan kita perlu protein bukan hanya untuk otot, tapi juga buat kulit, rambut dan sel dalam tubuh, semuanya,” ucapnya saat peresmian Ade Rai sebagai brand ambassador ayam guling Enakko, di gerai Jalan Ahmad Yani, Denpasar Utara pada Sabtu (9/8).

Kesapalahpahaman masyarakat Indonesia ini membuat kualitas hidup menurun, mulai dari usia harapan hidup rendah, imunitas rendah, kualitas dan komposisi tubuh yang kurang baik. Hal ini salah satunya dikarenakan terlalu banyak memakan karbo, lemak olahan maupun karbohidrat olahan dibandingkan dengan mengkonsumsi protein.

Baca Juga:   Prost Fest 2022 Akan Obati Kerinduan Pecinta Musik di Bali

Yang menjadi masalah adalah kadar gula yang berlebih yang ada di dalam tubuh. Apabila gula lebih banyak dalam tubuh, maka virus, bakteri, sel kanker, tumor, dan sebagainya akan senang, sehingga imunitas akan menjadi rendah dan mudah sakit. “Jika gula lebih banyak terikat pada mata maka pengelihatan menjadi bermasalah, jika lebih banyak pada kulit maka kulit akan menjadi kusam, kalau gula banyak di gigi maka berlubang. Apabila ada gula darah dan mengalami luka maka luka itu tidak akan sembuh-sembuh maka kondisi itu disebut diase atau diabetes tipe 2 karena gula banyak di pembuluh darah,” ungkapnya.

Tantangan yang sebenarnya ada pada terpapar oleh konsumsi karbohidrat yang berlebihan. Hal itu bukan salah dari karbohidrat, melainkan ketidakmampuan bertoleransi terhadap karbohidrat. Kondisi ini dipicu karena tidak pernah latihan beban, tidak pernah olahraga, tidak memilih sumber karbohidrat atau strategi penurunan karbohidrat yang benar.

Permasalahan kesehatan di Indonesia sebenarnya multifaktoral, bukan cuma tentang karbo yang kebanyakan, tapi juga protein kurang, konsumsi lemak buruk (lemak yang baik tidak dikonsumsi), kurang bergerak. Bahkan juga opsi pandang yang melemahkan hati, seperti stres dan mentalitas konflik. Hal Itu cukup banyak berpengaruh.

Baca Juga:   VWD Indonesia Pecahkan Rekor Muri Asia

Ada 3 faktor pendekatan sehat, pendekatan chemical yaitu apa yang kita masukan ke dalam mulut kita. Pendekatan mekanikal atau struktural yaitu apa yang kita gerakan dengan badan kita dan pendekatan yang sifatnya emosional yang terkait ke pikiran dan napas. Di Indonesia, ketabahan, keikhlasan dan kesabaran menjadi sesuatu yang penting karena terkait dengan napas. Jika napas didominasi oleh napas teratur, maka akan mengaktivasi mode tumbuh dan kembang pada badan, begitu pula sebaliknya. Dalam bahasa sederhananya, ketiga pendekatan ini berupa makan teratur, olahraga teratur, dan tidur teratur.

Memakan protein secara otomatis membuat aktivitas cheating seperti jajan akan berkurang. Ketika protein masuk, rasa kenyang akan bertahan lebih lama. Jika makan dengan karbohidrat (nasi, roti dan lain-lain) tanpa protein cukup maka tubuh manusia akan masuk ke fase rollercoaster energi. Ketika gula darah tinggi dan dibuang melalui sugar press dan insulin, begitu sudah turun maka akan ingin makan lagi sehingga membuat makan teru menerus kebanyakan. Dengan mengkonsumsi protein justru sebenarnya memungkinkan untuk makannya tidak terlalu banyak.

Di sisi lain, ia juga membagikan tips dalam menjaga tubuh agar tidak buncit. Diantaranya melakukan puasa, mengontrol karbohidrat, memprioritaskan makanan berprotein, selektif terhadap lemak, memprioritaskan latihan beban karena aktivitas ini mengencangkan otot, dan istirahat yang cukup. “Biasakan tidak makan saat pagi hari. Dalam keadaan perut kosong pada pagi hari, langsung saja beraktivitas atau berolahraga dan setelah itu baru makan,” imbaunya.

Baca Juga:   Homili/Menatap Wajah Tuhan, Babak Baru Perjalanan Sajama Cut

Hans selaku figur publik penuh energi menyampaikan saat ini konsumsi anak muda cenderung lebih banyak memporsikan nasi dibandingkan protein. Hal ini cenderung salah, karena pemilihan nasi lebih banyak dibandingkan protein. “Kalau saya porsi makan 50 persen itu protein, sisanya campuran,” ucapnya.

Selain asupan protein, hal ini menurutnya harus juga diimbangi dengan olahraga. Ia berpesan kepada anak muda agar membiasakan berolahraga, karena hal itu adalah investasi jangka panjang. Ketika masa muda sering berolahraga maka anak muda tidak perlu bayar apapun di masa tua, baik untuk berobat atau apapun. Jika masa muda tidak suka berolahraga, nanti di masa tua akan cenderung lemas.

“Olahraga di masa muda banyak sekali benefitnya. Selain kesehatan, bonusnya badan kamu keren, siapa yang tidak mau badannya keren. Anak muda memang kadang dikasih nasihat banyak itu tidak mau, cukup bilang badan keren maka mereka akan tertarik dengan sendirinya,” imbuhnya. (BC5)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini