Tinggalkan Karier di Luar Negeri, Nenik Sukses Kembangkan Peternakan Babi

0
5
Peternakan babi
Ni Ketut Nenik Suryanadi. (BC9)

balibercerita.com –
Bekerja di luar negeri sering dianggap sebagai jalan menuju kehidupan yang lebih baik. Namun, bagi Ni Ketut Nenik Suryanadi, pengalaman justru mengantarkannya pada keyakinan lain. Setelah merasakan bekerja di Amerika Serikat dan perusahaan swasta, ia memilih pulang serta membangun usaha sendiri bersama sang suami, Kadek Dwi Andika.

Kini, pasangan tersebut mengembangkan usaha peternakan babi bernama Candi Kusuma Pinatih Farm di Desa Ayunan, Kecamatan Abiansemal. Dari usaha kecil yang dimulai dengan tiga ekor babi pada 2017, bisnis tersebut tumbuh menjadi peternakan dengan kapasitas mencapai 255 ekor dan menghasilkan omzet hingga Rp2 miliar dalam sekali panen.

Nenik menceritakan, sebelum menekuni dunia peternakan dirinya pernah bekerja lebih dari dua tahun di Amerika Serikat serta empat tahun di perusahaan telekomunikasi. Pengalaman tersebut kemudian menjadi modal penting dalam membangun sistem pengelolaan peternakan yang lebih modern.

Baca Juga:   Bali Perkuat Sistem Pungutan Wisatawan Asing

“Awalnya kami memelihara babi secara tradisional. Setelah belajar, kami beralih ke sistem modern karena hasilnya jauh lebih efektif untuk pertumbuhan ternak,” ujar Nenik, Kamis (2/7).

Saat merintis usaha bersama suaminya, perempuan berusia 35 tahun itu mengawali semuanya dengan cara sederhana melalui pola pemeliharaan tradisional dan hanya tiga ekor ternak. Seiring waktu, skala usahanya terus bertambah. Saat ini peternakan tersebut memiliki 55 ekor indukan serta sekitar 200 ekor babi penggemukan.

Dalam pengelolaannya, Candi Kusuma Pinatih Farm kini menerapkan pola peternakan modern. Sistem kandang baterai digunakan untuk proses penggemukan, sementara kandang koloni dimanfaatkan bagi babi usia muda. “Hasilnya, babi siap panen mampu mencapai bobot ideal sekitar 120 kilogram,” ungkapnya.

Di balik pertumbuhan usaha tersebut, kualitas daging menjadi salah satu keunggulan utama yang terus dijaga. Untuk mendukung hal itu, pihaknya memproduksi pakan sendiri dengan formulasi berbeda sesuai tahap pertumbuhan ternak, mulai dari anak babi, indukan hingga fase penggemukan.

Baca Juga:   Jelang Galungan, Pemkab Badung Cek Harga dan Ketersediaan Pangan

Usaha ini tidak hanya menjual babi hidup, tetapi juga melayani penjualan babi bersih dan menjadi pemasok sejumlah pelaku usaha babi guling di Bali. Permintaan pun datang dari berbagai kebutuhan, mulai dari kegiatan adat hingga sektor kuliner. “Permintaan rutin datang dari kebutuhan upacara adat, piodalan, rumah makan, hingga pelaku usaha kuliner,” ucap wanita yang juga memiliki hobi motor trail ini.

Pasar mereka bahkan tak hanya berada di Bali. Nenik mengungkapkan, pihaknya pernah mengirim sekitar 40 hingga 50 ekor babi hidup maupun karkas dalam satu kali pengiriman ke Manado dan Medan. Menurutnya, keseimbangan antara komposisi daging dan lemak menjadi alasan mengapa produknya banyak diminati.

Baca Juga:   Jaga Kebersihan dan Berdayakan Warga Jadi Pesan di Tengah Tumbuhnya Usaha Kafe di Pantai Kedonganan

Meski demikian, perjalanan usaha peternakan tidak selalu berjalan mulus. Fluktuasi harga pakan dan harga jual ternak yang belum stabil menjadi tantangan yang terus dihadapi. “Harga pakan naik, tetapi harga babi justru bisa turun. Sampai sekarang belum ada patokan harga yang jelas, sehingga peternak sering berada di posisi yang sulit,” paparnya.

Selain persoalan harga, Nenik juga berharap perhatian pemerintah terhadap sektor peternakan dapat diperkuat, terutama ketika peternak menghadapi ancaman penyakit seperti African swine fever (ASF). Menurutnya, banyak peternak kehilangan modal akibat wabah tersebut, namun dukungan penanganan masih terbatas.

Ia juga berharap pasar peternakan lokal dapat berkembang lebih luas hingga mampu menembus pasar internasional. “Harapan kami, peternak babi di Bali juga bisa naik kelas dan mampu bersaing hingga pasar internasional,” imbuhnya. (BC9)