Tak Ingin Terlena Jadi Ikon Dunia, Kecak Uluwatu Diam-diam Datangkan Mystery Guest untuk Menguji Kualitas Pentas

0
4
Kecak Uluwatu
Pementasan Kecak Uluwatu. (ist)

balibercerita.com –
Ribuan pasang mata wisatawan setiap hari terpukau menyaksikan Tari Kecak Uluwatu dengan latar matahari terbenam dan megahnya Pura Luhur Uluwatu. Namun di balik gemerlap tepuk tangan itu, pengurus Sekaa Kecak Uluwatu justru memilih bersikap waspada. Mereka sadar, popularitas tidak boleh menjadi alasan untuk berpuas diri.

Sebuah langkah tak biasa dilakukan. Tanpa diketahui para penari maupun anggota sekaa, pengurus mengundang Listibiya Kecamatan Kuta Selatan dan Listibiya Kabupaten Badung sebagai mystery guest atau tamu misterius untuk menyaksikan langsung pertunjukan pada Minggu (2/8). Mereka membaur sebagai wisatawan biasa, mengamati setiap detail pementasan, lalu memberikan penilaian secara objektif.

Ketua Sekaa Kecak Uluwatu, I Made Adi Astawa Putra mengatakan, cara tersebut dipilih agar evaluasi berlangsung alami. Pengurus ingin mengetahui kualitas pertunjukan yang sesungguhnya, bukan penampilan yang sengaja diperbagus karena mengetahui sedang dinilai. “Sebagai ketua saya selalu mengingatkan anggota agar jangan sampai terlena. Walaupun pertunjukan sudah berjalan reguler dan pendapatan stabil, kualitas pementasan wajib tetap dijaga,” ujarnya, Rabu (5/8).

Menurut Adi Astawa, kritik dari pengurus terkadang kurang efektif diterima anggota. Karena itu, pihaknya menggandeng Listibiya sebagai lembaga yang memiliki otoritas dalam pembinaan seni dan budaya Bali.

Baca Juga:   Puncak Festival Ogoh-ogoh Singasana III, Sepuluh Karya Terbaik Sekaa Teruna Tampil Memukau

Seluruh hasil pengamatan nantinya akan menjadi bahan evaluasi menyeluruh untuk memperkuat kualitas pertunjukan yang telah menjadi salah satu daya tarik wisata paling populer di Pulau Dewata. “Kami ingin mengetahui kelebihan sekaligus kekurangan pertunjukan. Semua hasil review itu nanti akan kami jadikan bahan evaluasi untuk menjaga kualitas pementasan,” katanya.

Meski belum pernah menerima keluhan berarti dari wisatawan, pengurus memilih tidak menunggu munculnya masalah. Di tengah semakin banyaknya pertunjukan Tari Kecak di berbagai daerah, mereka ingin memastikan Kecak Uluwatu tetap menjadi tolok ukur kualitas.

Komitmen itu diwujudkan dengan pembentukan tim pengendali mutu yang melibatkan penari, dalang, penembang, penabuh kajar hingga seluruh unsur pendukung pertunjukan. Bahkan, ke depan evaluasi juga akan melibatkan akademisi Institut Seni Indonesia (ISI), pengamat seni, hingga kreator konten budaya.

Meski terus berbenah, Adi Astawa memastikan satu hal tidak akan berubah, yakni keaslian pertunjukan. Ia tidak ingin mengubah autentisitas pertunjukan, melainkan membenahi standar kualitas pementasan. Ia tetap ingin menjaga kesakralan Pura Uluwatu dan mempertahankan pakem Tari Kecak.

Baca Juga:   Empat Karya Budaya Badung Diusulkan Sebagai Warisan Budaya Tak Benda

Ketua Listibiya Kecamatan Kuta Selatan, I Wayan Deddy Sumantra menyebut konsep mystery guest ini sebagai terobosan yang belum pernah dilakukan sebelumnya, baik di Kuta Selatan maupun Kabupaten Badung. Langkah tersebut menunjukkan keseriusan pengurus dalam menjaga mutu pertunjukan budaya yang telah dikenal hingga mancanegara.

Selama proses evaluasi, Listibiya mencatat sejumlah aspek yang perlu diperkuat, mulai dari kualitas vokal penembang, teknik vokal, ketepatan agem atau sikap tubuh penari sesuai pakem, penguatan ekspresi karakter, penghayatan dramatik saat adegan pasukan wanara, hingga penampilan tokoh Garuda. “Jangan sampai terlena lalu tampil asal-asalan. Justru karena sudah menjadi ikon, kualitasnya harus terus dijaga,” tegas Deddy.

Ia berharap pola evaluasi independen seperti ini dapat menjadi contoh bagi pengelola seni pertunjukan pariwisata lainnya. Menurutnya, keterbukaan menerima kritik merupakan salah satu kunci agar seni budaya Bali tetap lestari sekaligus mampu bersaing di tengah perkembangan industri pariwisata.

Penasihat Sekaa Kecak Uluwatu, Nyoman Sungada juga menyambut baik hasil evaluasi tersebut. Salah satu penggagas berdirinya Sekaa Kecak Uluwatu itu mengakui ada beberapa aspek teknis yang mulai mengalami penurunan seiring padatnya jadwal pertunjukan setiap hari. Baginya, kondisi itu bukan untuk disesali, melainkan menjadi pengingat agar seluruh anggota terus memperbaiki diri.

Baca Juga:   Di Tengah Ajang The Lake Toba GP 2025, ITDC Gelar Parade Clean Up

“Saya yang sejak awal menggagas pembentukan Sekaa Kecak Uluwatu tidak ingin kami terlena hanya karena jumlah pengunjung sangat banyak. Justru ketika pertunjukan sudah mendunia, kualitas harus terus dijaga. Karena itu kami memohon bantuan para pakar seni dari Listibiya Kabupaten Badung dan Listibiya Kecamatan Kuta Selatan untuk mereviu kembali pementasan kami sehingga apa yang masih kurang bisa segera diperbaiki,” pungkasnya.

Langkah “diam-diam” yang dilakukan Sekaa Kecak Uluwatu ini menjadi bukti bahwa mempertahankan predikat sebagai ikon wisata dunia tidak cukup hanya dengan panggung yang selalu penuh penonton. Di balik setiap tepuk tangan wisatawan, ada komitmen untuk terus belajar, menerima kritik, dan menjaga warisan budaya Bali agar tetap tampil dengan kualitas terbaik. (BC5)