The Palace Jeweler: Perhiasan Bukan Sekadar Gaya Hidup, Tapi Investasi yang Bisa Dinikmati

0
1
The Palace Jeweler
Konsumen saat melihat koleksi perhiasan emas The Palace Jeweler. (BC5)

balibercerita.com –
Di tengah tingginya minat masyarakat terhadap emas, The Palace Jeweler mengingatkan bahwa investasi emas tidak bisa dilihat sebagai instrumen yang memberikan keuntungan instan. Baik emas batangan maupun perhiasan, keduanya tetap membutuhkan waktu untuk menghasilkan nilai tambah.

General Manager The Palace Jeweler, Jelita Setifa menjelaskan bahwa masih banyak masyarakat yang menganggap pembelian emas akan langsung menghasilkan keuntungan dalam waktu singkat. Padahal, seperti instrumen investasi lainnya, emas memiliki selisih harga beli dan harga jual yang dikenal sebagai spread.

“Kalau hari ini beli emas, baik perhiasan maupun batangan, lalu langsung dijual hari yang sama, tentu belum untung. Karena selalu ada perbedaan antara harga beli dan harga jual. Keuntungan emas itu sifatnya jangka panjang,” ujarnya.

Meski demikian, perhiasan memiliki nilai tambah yang tidak dimiliki emas batangan, yakni dapat digunakan sekaligus menjadi aset. Ia menyebut perhiasan sebagai beauty investment. Selain memiliki nilai jual kembali, perhiasan juga bisa dipakai dan dinikmati. Hal itu berbeda dengan logam mulia yang memang lebih fokus sebagai instrumen investasi.

Baca Juga:   Dominasi Sempurna Taiwan dan Kejutan dari Benin Warnai Kejuaraan Dunia Tchoukball Pantai 2025

Jelita menilai masyarakat Indonesia, termasuk Bali, sudah sangat dekat dengan budaya memakai perhiasan sejak lama. “Kalau kita lihat, bayi baru lahir saja kadang sudah ditindik. Artinya masyarakat Indonesia sangat familiar dengan perhiasan. Yang selama ini belum banyak tersedia adalah ritel perhiasan yang transparan, terjangkau, dan mudah diakses,” jelasnya.

Area Manager The Palace Jeweler, Reindy yang menyebut ekspansi berkelanjutan menjadi indikator bahwa pasar Bali menerima kehadiran The Palace dengan baik. Di tengah kenaikan harga emas yang sempat terjadi beberapa waktu lalu, The Palace tidak melihat adanya perubahan signifikan pada preferensi konsumen.

Menurut Reindy, mayoritas pelanggan tetap memilih perhiasan emas 18 karat dengan kandungan emas 75 persen yang notabene sebagai produk utama The Palace. Pihaknya juga menyediakan pilihan emas 9 karat dengan kadar 37,5 persen bagi konsumen yang memiliki anggaran lebih terbatas.

Baca Juga:   Jelang Galungan, Pemkab Badung Cek Harga dan Ketersediaan Pangan

Salah satu inovasi yang dikembangkan The Palace adalah menghadirkan koleksi perhiasan preloved atau perhiasan yang sebelumnya pernah dimiliki konsumen lain. Produk tersebut bukan sekadar barang bekas yang dijual kembali, melainkan bagian dari komitmen perusahaan untuk menyediakan pilihan yang lebih terjangkau bagi masyarakat.

“Barang preloved kami pisahkan dan informasikan secara terbuka kepada konsumen. Kondisinya sangat baik dan sering kali sulit dibedakan dengan barang baru. Tapi karena kami mengedepankan transparansi, kami harus menyampaikan bahwa barang tersebut pernah dimiliki konsumen lain,” jelasnya.

Menurutnya, produk preloved justru mendapat respons positif karena menawarkan harga yang lebih terjangkau tanpa mengurangi kualitas.

Selain fokus pada edukasi konsumen, The Palace juga menegaskan komitmennya mendukung industri nasional. Seluruh perhiasan emas yang dipasarkan diproduksi oleh tenaga kerja Indonesia. “Produk kami 100 persen diproduksi di dalam negeri oleh talenta-talenta lokal. Bahkan operasional toko di Bali juga melibatkan tenaga kerja lokal Bali,” kata Jelita.

Baca Juga:   Fitness Plus Bali Tawarkan Investasi Menggiurkan 

Ia menambahkan, hanya bahan baku berlian tertentu yang masih diperoleh dari luar negeri. Namun secara keseluruhan, The Palace mengusung identitas sebagai national jeweler yang mengedepankan karya anak bangsa. Dalam persaingan industri perhiasan, The Palace juga menonjolkan transparansi harga, termasuk dalam program pembelian kembali (buyback).

Reindy menjelaskan bahwa perusahaan menggunakan acuan Today Gold Price (TGP) yang diperbarui setiap hari dan ditampilkan secara terbuka di seluruh gerai. “Kami selalu menampilkan harga jual dan harga beli emas setiap hari. Jadi konsumen bisa melihat langsung acuannya dan mengetahui nilai transaksi secara transparan,” ujarnya.

Jelita menambahkan, edukasi mengenai harga, kadar emas, hingga sistem buyback menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan konsumen. “Perjuangan kami memang mengedukasi pasar. Namun kami percaya konsumen semakin cerdas dalam memilih brand yang transparan dan bisa dipercaya. Itu yang membuat The Palace hari ini terus bertumbuh hingga memiliki 87 gerai di Indonesia,” pungkasnya. (BC5)