Mural Gadis Bali Hiasi Helipad Nusa Dua

0
231
Mural
Dwyma Adinatha saat menggambar Gadis Bali di Helipad Nusa Dua. (ist)

balibercerita.com –
Helipad di Pulau Peninsula, Nusa Dua, kini dihiasi mural dengan gambar gadis Bali lengkap dengan atributnya. Gambar ini merupakan ikon dari Nusa Dua Festival 2025 yang mengangkat tagline beauty and harmoni yaitu keindahan dan harmonisasi. Gambar mural gadis Bali menjadi personalisasi wujud dari tagline tersebut secara fisik, dimana gadis Bali memiliki daya tarik kecantikan, anggun dan pesona lainnya.

Dwyma Adinatha alias Dwymabim menjadi sosok dari penggambar mural tersebut. Seniman mural dan visual asal Tabanan ini mengaku merasa sangat bangga bangga dan berkesan dipercaya menggambar mural ikon Nusa Dua Festival di kawasan pariwisata Nusa Dua. Terlebih sangat jarang ada helipad yang dihiasi mural, apalagi dengan ukuran yang cukup luas.

“Saya berharap hal ini menjadi energi baru untuk acara ini, setelah sekian lama vakum dan kembali bangkit. Semoga bisa bersinar lagi,” ucapnya, Selasa (9/9), di Renaissance Nusa Dua.

Pria berusia 29 ini menggambar mural gadis Bali dengan diameter 50 meter dengan waktu pengerjaan selama 11 hari yaitu dari tanggal 27 Agustus sampai 6 September 2025. Dalam pengerjaannya ia dibantu oleh timnya yang berjumlah 4 orang, kemudian dikebut dengan penambahan tenaga sehingga menjadi 9 orang termasuk dirinya.

Baca Juga:   Pesona Gunung Bromo, The Best Golden Sunrise In Java

Lahirnya mural Gadis Bali sebagai ikon Nusa Dua Festival 2025 tercetus dari obrolannya bersama tim dari ITDC. Dari sana kemudian disepakati tagline beauty and harmoni digambarkan dengan pesona gadis Bali dan dituangkan di media helipad. Hal ini sesuai dengan alirannya yang menganut pop art dengan ciri khas karakter perempuan yang memakai pakaian adat.

“Insipirasi visual saya selalu berbicara tentang perempuan Bali. Bali dikenal bukan hanya tentang tradisi dan alam, tapi ada manusianya yaitu masyarakat Bali yang langsung menjadi cerminan dunia. Dari sana diambil sosok perempuan bali yang menjadi simbol keanggunan, kekuatan, harmoni sesuai dengan tema beauty harmoni. Ini menjadi lambang keharmonisan,” bebernya.

Untuk menggambar ikon gadis Bali di helipad, ia menghabiskan cat sekitar 450 liter dari planning awal 200 liter. Karya ini diakuinya menjadi projek mural mural terbesar yang pernah ia garap bersama tim dengan menghabiskan cat terbanyak. Waktu pengerjaan diambil dari jam 3 sore sampai jam 10 malam. Karya tersebut sekaligus menorehkan sejarah sebagai helipad pertama di Bali yang dihias secara estetik, menghadirkan visual kontemporer yang berpadu harmonis dengan filosofi budaya lokal.

Baca Juga:   The Batcave Debut Lewat “All Hustle, No Luck” Suara Baru dari Skena Teenage Ska Punk Bali

Dengan media yang besar, waktu dan kondisi di lapangan menjadi tantangan terbesar. Selain mengkhawatirkan hujan yang dapat memperlambat proses pengerjaan, cuaca panas menyengat pada siang hari membuat tim harus mengatur waktu yang tepat agar tidak kehabisan tenaga.

Ketika dikerjakan sore hari, kondisi angin yang cukup kencang menjadi masalah lain. Dengan semangat agar karya ini menjadi maksimal, tim memilih untuk berhadapan dengan angin dibandingkan terik matahari. Hal ini juga mempertimbangkan kondisi pengeringan cat yang hasilnya kurang bagus apabila dikerjakan siang hari.

Faktor presesi gambar menjadi tantangan lain yang dihadapi. Karena mural dikerjakan di media helipad, pihaknya cukup kesulitan menentukan akurasi gambar jika dilihat dari samping. Beruntung GM The Nusa Dua, Made Agus Dwiatmika membantu tim dengan memantau akurasi melalui drone pribadinya, sehingga akurasi gambar menjadi tepat. Melalui karya ini, ia ingin menunjukkan bahwa mural bukan sekadar dekorasi, melainkan media komunikasi budaya yang bisa dirasakan lintas generasi.

Baca Juga:   Menparekraf Dorong Bali Jadi Hub Penerbangan Internasional ke Australia

“Kami harap mural ini menjadi media promosi acara yang baik. Hal ini sekaligus dapat mengubah mindset bahwa mural bukan hanya terkait vandalisme, tapi seni yang mendukung acara. Ini menjadi daya tarik dan kami harapkan tempat lain juga mencontoh ITDC,” ungkapnya.

Seni mural mulai berkembang di Bali sekitar tahun 2000-an. Pada masa itu, karya-karya di ruang publik lebih sering disebut sebagai seni jalanan atau graffiti, bukan mural. Namun, seiring waktu, semakin banyak seniman yang terlibat dan karya yang dihasilkan pun semakin beragam serta dikenal luas.

“Ketertarikan saya terhadap mural muncul sejak masa sekolah, ketika saya mengambil jurusan seni rupa. Saat itu, mencari ruang pameran atau galeri yang mau menampung karya seniman muda yang belum punya nama besar bukanlah hal yang mudah. Dunia mural dan graffiti kemudian menjadi salah satu ruang alternatif untuk mengekspresikan diri di luar jalur galeri formal,” pungkasnya. (BC5)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini