Beranda Budaya Siat Geni Desa Adat Tuban, Tradisi Perang Api untuk Menetralisir Energi Negatif

Siat Geni Desa Adat Tuban, Tradisi Perang Api untuk Menetralisir Energi Negatif

0
Siat Geni
Siat Geni yang digelar Desa Adat Tuban. (ist)

balibercerita.com –
Perang bara sabut kelapa kembali digelar di Pura Dalem Kahyangan Desa Adat Tuban, Sabtu (26/9) malam. Bukan sekadar atraksi keberanian, tradisi yang dinamakan Siat Geni itu menjadi bagian dari rangkaian pujawali yang sarat makna spiritual bagi masyarakat Desa Adat Tuban.

Tradisi tahunan yang digelar bertepatan dengan Purnama Kapat itu mempertemukan para yowana dalam dua kelompok yang saling berhadapan. Sabut kelapa yang telah dibakar hingga menjadi bara kemudian digunakan dalam prosesi Siat Geni.

Bendesa Adat Tuban, I Wayan Mendra mengatakan, Siat Geni merupakan tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian dari pujawali di Pura Dalem Kahyangan Desa Adat Tuban. Pelaksanaannya berkaitan dengan kehadiran Sang Hyang Kala Geni Rudra dalam rangkaian pujawali. Prosesi tersebut menjadi bentuk penghormatan kepada Sang Hyang Kala Geni Rudra sekaligus upaya nyomya atau menetralisasi berbagai unsur negatif.

Baca Juga:   Ini Alasan Tabanan Bangun Patung Catur Muka Baru 

Ia menjelaskan, Siat Geni tidak dimaknai sebagai pertarungan antarpeserta. Bara api menjadi simbol dalam prosesi keagamaan untuk melebur atau menetralisasi kekotoran dan energi negatif sekaligus memohon keselamatan serta keharmonisan bagi masyarakat.

Sebelum bara api dimainkan, peserta terlebih dahulu mengikuti persembahyangan atau muspa. Setelah itu, para yowana menjalani prosesi melukat di Segara Kangin dan Segara Kauh sebelum menuju lokasi Siat Geni.

Pelaksanaan tradisi berlangsung di sisi kangin atau timur pura. Para peserta terbagi dalam dua kelompok yang saling berhadapan dari arah utara dan selatan. Mereka kemudian “berperang”, saling serang dengan melemparkan sabut kelapa atau sambuk yang telah dibakar. Perang yang penuh suka cita ini berakhir setelah seluruh sambuk yang disiapkan habis.

Baca Juga:   Tampil Perdana di PKB, GWK Hipnotis Ribuan Penonton

Mendra menjelaskan, peserta Siat Geni umumnya mencapai sekitar 70 orang, dengan jumlah minimal sekitar 40 peserta. Meski identik dengan para yowana atau pemuda, tradisi ini terbuka bagi masyarakat yang ingin ngayah, sepanjang memenuhi ketentuan dan mengikuti prosesi dengan kesucian lahir dan batin.

“Siat Geni dilaksanakan oleh para yowana dengan didasari semangat ngayah, suci laksana. Siapa saja yang mau ikut ngayah bisa ikut, yang penting suci lahir dan batin,” katanya.

Baca Juga:   Mapinton Ida Batara di Jimbaran, Iring-iringan Mapeed Diperkirakan Hingga 6 Kilometer

Tidak banyak pantangan yang diberlakukan bagi peserta. Salah satu yang utama adalah tidak sedang dalam kondisi cuntaka karena kematian.

Menariknya, sarana Siat Geni juga mengalami penyesuaian seiring perubahan kondisi masyarakat. Dahulu, warga menyiapkan sendiri serabut kelapa untuk digunakan dalam ritual. Namun, seiring semakin heterogennya masyarakat dan terbatasnya ketersediaan pohon kelapa, serabut kelapa kini harus dibeli.

Meski sarana mengalami perubahan, esensi ritual tetap dipertahankan. Api tetap menjadi bagian penting dalam rangkaian pujawali dan diwariskan dari generasi ke generasi. Siat Geni telah diwariskan turun-temurun dan diperkirakan telah dilaksanakan sejak pura berdiri. Tradisi tersebut bahkan telah tercatat dalam Warisan Budaya Tak Benda Indonesia. (BC5)