Beranda Budaya Jaga Keberlanjutan Seni Tradisi, Pantai Melasti Beri Ruang Sekaa Kecak Banjar

Jaga Keberlanjutan Seni Tradisi, Pantai Melasti Beri Ruang Sekaa Kecak Banjar

0
Kecak Pantai Melasti
Pementasan Tari Kecak di Pantai Melasti. (ist)

balibercerita.com –
Pelibatan kelompok seni lokal menjadi bagian penting dalam pengembangan atraksi wisata budaya di Pantai Melasti, Ungasan, Badung. Pengelola tidak hanya menghadirkan Tari Kecak sebagai tontonan wisatawan, tetapi juga memberikan ruang bagi kelompok seni dari banjar untuk tampil dan menjaga keberlangsungan seni tradisional Bali.

Manajer Pengelola Pantai Melasti, Wayan Karnawa mengatakan, saat ini terdapat tiga kelompok atau sekaa kecak dari banjar yang terlibat dalam pementasan. Kelompok tersebut berasal dari total 15 banjar. Selain itu, terdapat satu kelompok dari sanggar seni yang menjadi pelopor pementasan Kecak di kawasan tersebut.

Baca Juga:   Di Balik Sukses MotoGP Mandalika 2025, Ada Dukungan Energi Penuh dari Pertamina

Pihaknya mengatur jadwal tampil secara bergiliran. Sanggar seni mendapatkan kesempatan tampil satu kali, sedangkan sekaa kecak dari banjar memperoleh dua kali kesempatan. Pengaturan tersebut merupakan bentuk penghargaan terhadap sanggar seni yang telah merintis pertunjukan Kecak di Pantai Melasti.

“Untuk sanggar seni yang menjadi pelopor, kami berikan kesempatan tampil satu kali. Sementara, kelompok dari banjar mendapatkan dua kali kesempatan. Jadwalnya sudah kami atur,” ujar Karnawa.

Menurutnya, keterlibatan kelompok seni dari banjar menjadi salah satu cara agar masyarakat lokal turut mengambil bagian dalam pengembangan atraksi wisata. Dengan demikian, manfaat keberadaan pertunjukan budaya tidak hanya dirasakan dari sisi pariwisata, tetapi juga memberikan ruang bagi seniman lokal untuk terus berkarya.

Baca Juga:   Berawal dari Keprihatinan terhadap Sampah, Nelayan Wana Segara Kertih Kembangkan Ekowisata Mangrove

Dari sisi kunjungan, pementasan Kecak mendapat respons positif. Pada hari biasa, jumlah penonton berkisar 300–400 orang. Ketika memasuki musim ramai atau peak season, jumlahnya bahkan dapat mencapai sekitar 1.000 orang.

“Kalau hari biasa, penonton stabil di angka 300 sampai 400 orang. Saat peak season bisa mencapai seribuan,” ungkapnya.

Saat ini, pertunjukan digelar satu kali setiap hari mulai pukul 18.00 hingga 19.00 Wita. Tiket pertunjukan dipatok Rp150 ribu, sementara anak-anak berusia di bawah sembilan tahun masih mendapatkan akses gratis. Komposisi penonton juga relatif berimbang antara wisatawan domestik dan mancanegara, masing-masing sekitar 50 persen.

Baca Juga:   Indonesia AirAsia Hadirkan Pesona Labuan Bajo ke Udara Internasional

Seiring meningkatnya minat penonton, pengelola merencanakan pelebaran area pementasan Kecak ke depan. Langkah ini disiapkan untuk mengakomodasi kapasitas penonton, terutama ketika kunjungan wisatawan mengalami lonjakan.

Pengembangan pertunjukan tersebut diharapkan dapat berjalan beriringan dengan pelestarian seni budaya. Keterlibatan sekaa dari banjar dan sanggar seni menjadi bagian dari upaya menjaga agar Tari Kecak tetap memiliki ruang tumbuh di tengah perkembangan pariwisata. (BC5)