balibercerita.com –
Kepedulian terhadap kebersihan pantai dan kelestarian lingkungan menjadi awal perjalanan KUB Kelompok Nelayan Wana Segara Kertih Kedonganan, Kecamatan Kuta. Berangkat dari gerakan bersih-bersih pantai, kelompok ini kini mengembangkan pelestarian mangrove sekaligus ekowisata susur hutan bakau yang mulai menarik kunjungan wisatawan.
Ketua KUB Kelompok Nelayan Wana Segara Kertih Kedonganan, I Nyoman Sunarta menuturkan, keterlibatannya dalam kegiatan lingkungan bermula setelah pensiun bekerja di bandara. Saat itu, kondisi pantai dipenuhi sampah. Bahkan, salah seorang temannya pernah sampai tersangkut sampah ketika beraktivitas di kawasan tersebut.
Pengalaman itu menggugah kepeduliannya untuk turun langsung melakukan aksi bersih-bersih. Kelompok yang pada awal berdiri beranggotakan 27 orang tersebut kemudian berkembang berkat semangat dan kepedulian bersama. Kini, jumlah anggotanya tercatat 97 orang, setelah tiga anggota meninggal dunia.
Selain menjalankan aktivitas utama sebagai nelayan, mereka berkomitmen menjaga kebersihan pantai dan melestarikan lingkungan pesisir melalui konsep Wana Segara. Menurut Sunarta, kegiatan kelompok cukup aktif di lapangan, terutama saat pandemi. Namun, setelah aktivitas masyarakat kembali normal, mengumpulkan anggota untuk kegiatan bersama menjadi lebih menantang karena kesibukan masing-masing. Kendati demikian, agenda rutin tetap dilaksanakan setiap bulan, termasuk dengan dukungan mahasiswa yang turut terlibat dalam kegiatan lingkungan.
Pelestarian mangrove menjadi salah satu program utama kelompok sejak 2020. Upaya tersebut tidak sebatas menanam bibit, tetapi juga merawat tanaman yang sudah tumbuh serta menjaga kebersihan kawasan bakau. Konsistensi ini turut membuka peluang pengembangan ekowisata yang memanfaatkan potensi alam Kedonganan.
Sunarta mengatakan, kawasan mangrove Kedonganan kini mulai dikunjungi wisatawan melalui kerja sama dengan agen perjalanan JTB. Kunjungan dapat berlangsung hampir setiap hari, terutama ketika kondisi air laut pasang dan akses menuju kawasan lebih mudah dilalui. “Bagus perkembangannya karena kami tidak hanya menanam, tetapi juga merawat dan membersihkan mangrove. Jadi, tamu senang sekali. Kami sudah bekerja sama dengan travel, yaitu JTB. Setiap hari ada tamu kalau airnya pasang,” ungkapnya.
Aktivitas wisata yang ditawarkan berupa susur mangrove menggunakan kano dan jukung atau perahu. Kondisi pasang surut air laut menjadi salah satu faktor yang menentukan kunjungan. Ketika air pasang mencapai tangga akses kawasan, wisatawan lebih mudah masuk dan menikmati perjalanan. Sebaliknya, saat air surut, jalur berlumpur membuat aktivitas wisata menjadi lebih sulit.
Untuk penyewaan kano, kelompok menyediakan tarif bagi wisatawan dengan durasi penggunaan sepuasnya. Tarif yang disebutkan Sunarta sebesar Rp100.000 bagi wisatawan, sedangkan tarif khusus bagi kalangan setempat sekitar Rp30.000. Kelompok juga menyediakan layanan susur mangrove menggunakan perahu dengan tarif Rp700.000 untuk satu kapal berkapasitas sekitar 12 orang.
Jumlah kano yang sebelumnya mencapai 25 unit kini tersisa 12 unit karena sebagian merupakan peralatan sewaan. Meski jumlah sarana berkurang, layanan susur mangrove tetap menjadi bagian dari pengembangan wisata alam yang dikelola kelompok nelayan tersebut.
Berkembangnya kunjungan wisatawan juga berdampak pada meningkatnya perhatian terhadap kebersihan lingkungan. Sunarta menilai masyarakat sekitar semakin memahami pentingnya menjaga kawasan karena banyak pihak datang untuk menikmati mangrove maupun melakukan penanaman. Keterlibatan berbagai pihak tersebut memperkuat upaya pelestarian sekaligus mendorong kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kawasan pesisir.
Sunarta menyebut, dukungan masyarakat setempat menjadi salah satu faktor yang membantu keberlangsungan kegiatan kelompok. Warga ikut menjaga kebersihan lingkungan karena kawasan mangrove tidak hanya dimanfaatkan untuk kepentingan konservasi, tetapi juga menjadi tempat yang dikunjungi masyarakat luar dan wisatawan.
Bagi Wana Segara Kertih, pengembangan ekowisata bukan sekadar membuka aktivitas wisata baru. Kegiatan tersebut berjalan beriringan dengan upaya menjaga ekosistem mangrove, sehingga kawasan tetap terawat dan memiliki daya tarik alam. Melalui kegiatan rutin, perawatan tanaman, serta keterlibatan masyarakat dan berbagai pihak, kelompok nelayan ini berupaya menjaga agar manfaat mangrove dapat dirasakan tanpa mengabaikan fungsi lingkungan pesisir Kedonganan. (BC5)














