
balibercerita.com –
Karya Tawur Agung Manca Wali Krama di Tri Kahyangan Jagat Pura Hulundanu Batur, Desa Adat Songan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, berlangsung lancar dan khidmat. Paduluan, jajaran pemangku, panitia karya, dan krama pangempon Desa Adat Songan pun menyampaikan rasa syukur sekaligus terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung jalannya upacara.
Keberhasilan karya agung tersebut tidak terlepas dari ketulusan krama dalam melaksanakan ngayah. Sumbangsih tenaga, pikiran, maupun materi yang diberikan secara sukarela menjadi wujud nyata semangat gotong royong dan menyama braya dalam menjalankan tanggung jawab bersama.
Jero Mangku Gede Hulundanu Batur Luwuran, Senin (12/10), menyampaikan penghargaan kepada seluruh krama Desa Adat Songan yang telah berpartisipasi dengan penuh rasa bhakti sejak persiapan hingga berakhirnya rangkaian upacara. Semangat kebersamaan yang ditunjukkan krama menjadi kekuatan utama dalam menyukseskan karya besar yang memiliki makna penting bagi kehidupan spiritual dan pelestarian tradisi adat serta budaya Bali tersebut.
Apresiasi juga disampaikan kepada pemerintah, aparat keamanan, tokoh masyarakat, sulinggih, serta berbagai pihak yang turut berkontribusi dalam menyukseskan kegiatan tersebut. Dukungan umat dan pamedek yang tangkil untuk menghaturkan bhakti juga menjadi bagian penting dalam pelaksanaan karya.
Menurut Jero Mangku, perhatian dan kerja sama berbagai pihak turut membantu menjaga keamanan, ketertiban, kelancaran lalu lintas, serta kenyamanan umat selama mengikuti persembahyangan di Pura Hulundanu Batur. “Bagi masyarakat Desa Adat Songan, keberhasilan Karya Tawur Agung Manca Wali Krama ini bukan semata-mata diukur dari terlaksananya seluruh rangkaian upacara, melainkan juga dari kuatnya rasa persatuan, kebersamaan, dan ketulusan ngayah yang tumbuh di tengah masyarakat,” terangnya.
Ia berharap pelaksanaan karya tersebut dapat semakin memperkokoh nilai-nilai dharma, gotong royong, dan rasa saling menyayangi di tengah masyarakat. Nilai-nilai tersebut diharapkan terus diwariskan kepada generasi berikutnya sebagai bagian dari upaya menjaga kelestarian adat dan budaya Bali.
Selain itu, karya ini menjadi momentum untuk memperkuat sradha dan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sekaligus memohon kerahayuan bagi seluruh krama Desa Adat Songan dan alam semesta. Paduluan, pemangku, panitia, serta krama pangempon Desa Adat Songan juga menyampaikan permohonan maaf apabila selama pelaksanaan rangkaian upacara terdapat kekurangan atau hal-hal yang kurang berkenan bagi pihak lain.
Dengan berakhirnya karya tersebut, seluruh krama berharap semangat persatuan dan ketulusan ngayah yang telah terbangun dapat terus dipertahankan dalam kehidupan bermasyarakat. Kebersamaan itu diharapkan menjadi kekuatan untuk menjaga keharmonisan sekaligus melestarikan tradisi spiritual yang diwariskan secara turun-temurun. (BC13)













