Dari Koperasi Banjar ke Aset Rp107 Miliar, Ngardi Rahayu Jadi Contoh Kemandirian Ekonomi Adat

0
2
Koperasi Ngardi Rahayu
Putu Candra Satria bersama Bupati Badung Wayan Adi Arnawa. (ist)

balibercerita.com –
Koperasi Ngardi Rahayu, Banjar Penyarikan, Desa Adat Bualu, Kelurahan Benoa, Kecamatan Kuta Selatan, menunjukkan transformasi signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Dari kondisi tertekan saat pandemi Covid-19, koperasi ini kini berkembang menjadi lembaga keuangan berbasis komunitas dengan aset mencapai Rp107 miliar dan anggota lebih dari 2.300 orang.

Pengurus sekaligus General Manager Koperasi Ngardi Rahayu, I Putu Candra Satria mengungkapkan bahwa saat menerima mandat sebagai pengurus pada masa pandemi, kondisi koperasi cukup memprihatinkan. Aset yang sebelumnya mencapai Rp25 miliar turun menjadi Rp17 miliar. Sementara, tingkat kredit bermasalah (non performing loan) menembus 43 persen.

“Banyak yang meragukan koperasi ini bisa bangkit. Namun kami menjadikan tantangan itu sebagai motivasi untuk berbenah dan membangun sistem yang lebih kuat,” ujarnya.

Baca Juga:   Dari Kios Pasar ke Layanan Keuangan, Begini Perjalanan Ketut Suandini Menjadi Agen BRILink

Melalui berbagai pembenahan manajemen dan inovasi usaha, koperasi berhasil meningkatkan aset menjadi Rp107 miliar. Di saat yang sama, angka kredit bermasalah ditekan hingga hanya 0,1 persen. Jumlah anggota juga melonjak dari 536 orang menjadi 2.353 anggota yang kini tidak hanya berasal dari Banjar Penyarikan, tetapi juga dari berbagai daerah di Bali.

Keberhasilan tersebut ditopang oleh pengembangan ekosistem ekonomi berbasis anggota. Salah satu program unggulan adalah Sangga Plus, produk simpanan yang dikolaborasikan dengan BPJS Ketenagakerjaan. Program ini menghadirkan manfaat sosial berupa santunan kematian hingga puluhan juta rupiah bagi anggota.

Selain itu, koperasi membangun unit usaha Piranti Yadnya yang berperan sebagai agregator bagi para perajin dan pelaku usaha banten di lingkungan banjar. Model ini memungkinkan UMKM lokal berkembang tanpa harus bersaing secara langsung dengan koperasi.

Baca Juga:   Layanan Shuttle Selama IBTK Besakih, Mudahkan Pamedek dan Berdayakan Warga Lokal

Di sektor pangan, Ngardi Rahayu menjalankan program Sembako (Sistem Ekonomi Modern Berbasis Anggota) melalui jaringan warung masyarakat. Saat ini koperasi telah bermitra dengan 83 UMKM di Kecamatan Kuta Selatan menggunakan sistem konsinyasi, sehingga pelaku usaha tidak terbebani modal awal yang besar.

“Kami ingin koperasi menjadi pusat ekosistem ekonomi rakyat. UMKM diberdayakan, anggota dimudahkan bertransaksi, dan manfaat ekonomi kembali ke masyarakat,” katanya.

Menurut Candra, penguatan ekonomi banjar menjadi hal penting untuk menjaga keberlangsungan adat, agama, dan budaya Bali. Ia menilai banjar adat perlu memiliki sumber pendapatan mandiri agar tidak sepenuhnya bergantung pada iuran krama.

Sebagai bagian dari pengembangan jangka panjang, Koperasi Ngardi Rahayu bersama PT Satya Ngardi Rahayu tengah merancang berbagai program ekonomi berbasis kawasan, termasuk pengembangan koridor Jalan Srikandi sebagai sentra kuliner dan kebudayaan penunjang kawasan pariwisata ITDC.

Baca Juga:   Bupati Pimpin HLM Ketahanan Pangan dan Pengendalian Inflasi Jelang Iduladha, Galungan, dan Kuningan

Tak hanya fokus membangun koperasi, Candra juga menyatakan siap membawa pengalaman tersebut ke tingkat yang lebih luas. Ia mengaku akan maju sebagai bakal calon Ketua Dekopinda Badung periode 2026-2031.

“Saya ingin berkontribusi lebih besar bagi gerakan koperasi di Badung. Kami ingin membuktikan bahwa koperasi bukan lagi pelengkap, tetapi dapat menjadi mesin utama penggerak ekonomi masyarakat,” tegasnya.

Keberhasilan Koperasi Ngardi Rahayu dinilai menjadi contoh bagaimana lembaga ekonomi berbasis banjar mampu tumbuh menjadi kekuatan ekonomi modern tanpa meninggalkan akar adat dan nilai gotong royong yang menjadi fondasi masyarakat Bali. (BC5)